Stabilitas Perekonomian dan Perbankan Sumut 2022 Tumbuh Positif

Stabilitas ekonomi di Sumatra Utara (Sumut) selama tahun 2022 terjaga dengan baik dan menunjukkan tren pertumbuhan yang positif.
Nasabah bertransaksi di Anjungan Tunai Mandiri (ATM) Center, Jakarta, Minggu (30/10). /Bisnis-Abdurachman
Nasabah bertransaksi di Anjungan Tunai Mandiri (ATM) Center, Jakarta, Minggu (30/10). /Bisnis-Abdurachman

Bisnis.com, MEDAN - Stabilitas ekonomi di Sumatra Utara (Sumut) selama tahun 2022 terjaga dengan baik dan menunjukkan tren pertumbuhan yang positif.

Hal itu diungkapkan oleh Kepala OJK Regional 5 Sumatera Bagian Utara Yusup Ansori dalam keterangan persnya pada Senin (6/2/2023).

"Hal ini ditopang oleh berbagai kebijakan dan stimulus yang diberikan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dalam 3 tahun terakhir kepada sektor keuangan meliputi perbankan, pasar modal dan pembiayaan (Industri Keuangan Non Bank /IKBN) dengan memberi ruang relaksasi kepada nasabah dan industri jasa keuangan seiring meningkatnya beban pembayaran yang ditimbukan pandemi Covid-19," ujar Yusup.

Menurut Yusup adanya kebijakan pencabutan (Perlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) oleh pemerintah pusat dan semakin terkendalinya Covid-19 di Sumut juga berdampak positif terhadap peningkatan mobilitas masyarakat yang menggerakan aktivitas perekonomian ke berbagai sektor usaha.

Berdasarkan hasil survey SNLIK (Survei Nasional Literasi Inklusi Keuangan), sebanyak 51,69% masyarakat Sumut telah menerima informasi keuangan dan 95,58 persen masyarakat sudah mengunakan produk–produk dari industri jasa keuangan, khususnya sektor perbankan.

"Ini tercermin dengan semakin luasnya jaringan perbankan yang tersebar di seluruh wilayah Sumatera Utara. Terdapat 56 entitas bank umum yang terdiri dari 47 bank umum nasional, 7 bank umum syariah nasional dan 2 bank umum lokal (Bank Mestika Darma dan Bank Sumut) serta 1.298 jaringan kantor cabang maupun cabang pembantu dan 4.342 jaringan ATM (Anjungan Tunai Mandiri)," sambungnya.

Selain bank umum, terdapat pula 53 entitas bank perkreditan rakyat, baik konvensional maupun syariah yang beroperasi di wilayah Sumut.

Kemudian, Yusup menjelaskan bahwa perkembangan sektor perbankan di wilayah Sumut selama tahun 2022 menunjukan kinerja yang sangat baik pula. Sampai akhir Desember 2022, total aset sektor perbankan di Sumut mencapai Rp331,70 triliun, atau meningkat 5,04 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Dana Pihak Ketiga (DPK) yang berhasil dihimpun juga mengalami kenaikan menjadi Rp308,66 triliun atau tumbuh sebesar 4,54 persen. Jumlah rekening DPK di entitas bank umum pun juga naik dari 23.256.860 rekening menjadi 25.084.197 rekening.

Yusup juga menyampaikan total kredit yang disalurkan perbankan tahun lalu turut bertumbuh sebesar 5,49 persen menjadi Rp224,68 triliun dan dengan angka rasio Non Performing Loan (NPL) mengalami penurunan sebesar 0,26 persen dari 2,64 persen menjadi 2,35 persen. Yang mana hal ini menunjukkan mitigasi risiko yang dilakukan oleh perbankan menjadi semakin prudent.

"Sektor perbankan masih memiliki ruang yang cukup besar untuk dapat mengoptimalkan fungsi intermediasi terutama dalam penyaluran kredit ke berbagai sektor usaha. Hal ini dapat kita lihat dari indikator likuiditas industri perbankan (LDR) yang berada pada posisi 72,71 persen yang terdiri dari LDR bank umum berada pada posisi 72,04 persen dan LDR BPR di posisi 78,12 persen," lanjutnya.

Yusup berharap sektor perbankan mampu meningkatkan rasio likuiditasnya dengan tetap menjalankan prinsip kehati-hatian. Jika menggunakan asumsi LDR di angka 78 persen saja, sambungnya lagi, dengan posisi dana pihak ketiga saat ini terdapat potensi dana segar (fresh money) sebesar Rp15 triliun untuk disuntikkan ke sektor usaha.

"Hal ini diharapkan dapat meningkatkan daya saing, memperbesar size usaha–usaha yang telah berjalan bahkan mampu memunculkan pengusaha-pengusaha baru, yang pada akhirnya akan mampu menyerap tenaga kerja dengan jumlah lebih banyak dan mampu memberikan pertumbuhan ekonomi di wilayah Sumatra Utara," pungkasnya.

Sebelumnya, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Doddy Zulverdi juga menyebut bahwa tren resiko kredit perbankan tercatat menurun. Yang mana hal itu tercermin dari penurunan NPL dari triwulan III 2022 sebesar 2,46 persen menjadi 2,44 persen pada triwulan IV 2022.

"Penurunan NPL ini terutama disebabkan oleh penurunan NPL dari jenis Kredit Modal Kerja dan Kredit Konsumsi. Di sisi lain, upaya perbaikan kualitas kredit pada debitur terdampak Covid-19 yang dilakukan oleh pemerintah melalui restrukturisasi kredit tercatat telah melewati puncak pertumbuhannya dan berangsur menurun menjadi -25 persen (yoy) pada triwulan IV 2022," timpal Doddy.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel


Penulis : Ade Nurhaliza
Editor : Ajijah

Topik

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper