Bank Indonesia Proyeksi Ekonomi Sumbar Tumbuh hingga 5 Persen pada 2023, Ini Sebabnya

Proyeksi itu melihat pada adanya Visit Beautiful West Sumatra 2023 yang menjadi momentum bangkitnya pariwisata di Sumbar.
 Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumbar Wahyu Purnama A/Bisnis-Muhammad Noli Hendra
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumbar Wahyu Purnama A/Bisnis-Muhammad Noli Hendra

Bisnis.com, PADANG - Bank Indonesia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Provinsi Sumatra Barat hingga 5 persen pada tahun 2023 ini kendati perekonomian dunia sedang tidak baik-baik saja.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumbar Wahyu Purnama A mengatakan proyeksi itu melihat pada adanya Visit Beautiful West Sumatra 2023 yang menjadi momentum bangkitnya pariwisata di Sumbar.

"Visit Beautiful West Sumatra 2023 ini menjadi lokomotif perekonomian Sumbar. Karena bila pariwisata jalan, maka banyak sisi lainnya bakal ikut membaik pula, seperti UMKM, transportasi, perhotelan, dan sektor lainnya," kata dia, Rabu (25/1/2023).

Wahyu menyebutkan dengan diproyeksikannya perekonomian Sumbar tumbuh 5 persen di tahun 2023 itu, maka untuk inflasi juga diperkirakan akan terjaga di kisaran 2,4 persen hingga 3,2 persen.

Untuk itu, kendati adanya ancaman resesi di sejumlah negara Eropa dan Amerika, BI menilai hal itu tidak akan memberikan pengaruh besar pada perekonomian di Sumbar.

Menurutnya kekuatan energi dan pangan menjadi penentu ketahanan sebuah negara. Di Indonesia, khususnya di Sumbar memiliki ketahanan pangan yang sangat kuat.

"Bicara pangan, bagi Sumbar sebenarnya tidak ada yang dikhawatirkan. Beras surplus, kita punya sentra bawang merah, punya perkebunan sayur yang luas, serta banyak komoditas pangan lainnya yang bisa diproduksi oleh Sumbar. Jadi tidak ada yang bergantung kepada daerah lain," tegasnya.

Bahkan di satu sisi, Sumbar malah menjadi daerah pemasok pangan ke sejumlah daerah di Indonesia. Salah satunya beras, mengingat beras Sumbar surplus, sehingga turut di jual ke berbagai daerah di Sumbar.

Wahyu menyampaikan kendati Sumbar turut menjadi daerah pemasok pangan di Indonesia, sampai saat ini belum ada pengaturan distribusi pangan itu sendiri.

Dia melihat pengaturan distribusi itu penting, karena jika dibiarkan begitu saja, kebutuhan di dalam daerah bakal terganggu, karena bisa saja ada petani yang jual ke luar daerah Sumbar.

"Nah inilah yang kami sampaikan, bahwa kota inflasi di Sumbar itu Padang kemudian Bukittinggi. Padang bobotnya 80 persen, jadi kota Padang sangat menentukan besarnya angka inflasi. Makanya Kota Padang dalam pasokan pangannya terutama beras, cabe, bawang itu perlu juga melakukan kerja sama dengan Batusangkar, dengan Solok, dengan Agam sebagai produsen pangan jadi penuhi dahulu disini baru dikirim keluar seperti itu," sebutnya.

Untuk itu Wahyu berharap, Pemda bisa sebaik mungkin untuk mengelolah Visit Beautiful West Sumatra itu, sehingga bisa memberikan dampak perekonomian dengan peranan yang besar bagi daerah.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel


Editor : Ajijah
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper