Cari berita
Bisnis.com

Konten Premium

Bisnis Plus bisnismuda Koran Bisnis Indonesia tokotbisnis Epaper Bisnis Indonesia Konten Interaktif Bisnis Indonesia Group Bisnis Grafik bisnis tv

KMP Bahtera Nusantara 01 dalam Gerak Masyarakat Pesisir di Perbatasan Kepri-Kalbar

KMP Bahtera Nusantara 01 memulai pelayaran Tanjung Uban-Tambelan-Sintete di Kalimantan Barat (Kalbar) PP untuk rute pendek sampai tiga hari ke depan.
Bobi Bani
Bobi Bani - Bisnis.com 03 November 2022  |  20:48 WIB
KMP Bahtera Nusantara 01 dalam Gerak Masyarakat Pesisir di Perbatasan Kepri-Kalbar
KMP Bahtera Nusantara 01 saat akan merapat ke pelabuhan ASDP Tambelan. - Bisnis/Bobi Bani.
Bagikan

Bisnis.com, BATAM - Pelabuhan Penyeberangan Angkutan Sungai Danau dan Penyeberangan (ASDP) Tanjung Uban, Kabupaten Bintan perlahan sibuk siang itu. Gema dan suara suling dari Kapal Motor Penyeberangan (KMP) Bahtera Nusantara 01, sebagai penanda hitung mundur sebelum kapal lepas tali pada Rabu (12/10/2022) pukul 14.00 WIB, mengemuka menggiring penumpang rute Tanjung Uban menuju Pulau Tambelan, lalu ke Sintete di Kalimantan Barat (Kalbar) bergerak masuk.

Warga berduyun berjalan menyusuri sisi kiri dermaga ASDP Tanjung Uban yang memiliki peneduh sampai menuju pintu masuk utama kapal. Dari sisi utama jalan masuk menuju kapal, sebuah truk bermuatan dua tiang listrik dan trafo, bergerak dan lenyap tertampung. Juga kendaraan bermotor lebih kecil lain dan penumpang yang berjalan kaki dengan tentengan di tangan. Semua masuk melalui bagian depan kapal yang bisa dibuka dan tutup.

Pengeras suara dari dalam kapal, memberi arahan kepada penumpang dan warga yang mengantar. Meminta penumpang segera naik. Meminta pengantar untuk kembali ke dermaga di 15 menit menjelang pukul 14.00 WIB atau waktu kapal lepas tali untuk memulai pelayaran menuju Pulau Tambelan.

Kali ini, KMP Bahtera Nusantara 01 memulai pelayaran Tanjung Uban-Tambelan-Sintete di Kalimantan Barat (Kalbar) PP untuk rute pendek sampai tiga hari ke depan. Setelah itu, kapal yang sama akan menempuh rute Tanjung Uban-Matak-Penagi-Serasan dan Sintete PP untuk rute panjang yang memakan waktu 8 hari.

Kedua rute pendek dan rute panjang ini telah dimulai pada tahun 2020 lalu. Masing-masing rute terjadawal sebanyak dua kali dalam sebulan.

Rute pendek yang menghubungkan Tanjung Uban dan Tambelan di Kabupaten Bintan menempuh jarak 340 Kilometer (Km) atau selama sekitar 16 jam perjalanan. Berlanjut ke Sintete dengan waktu sekitar delapan jam. Untuk rute panjang yang menghubungkan Kabupaten Bintan, Anambas dan Natuna di Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) dan Kabupaten Sambas di Kalbar berlangsung sampai delapan hari, pergi dan pulang kembali.

Bersama desing suara suling kapal, penulis menyusuri area KMP Bahtera Nusantara 01. Mulai dari lambung kapal tempat memuat kendaraan; ruang penumpang yang berisi kasur bertingkat dan susunan sofa, ruang ini disertai pendingin udara dan layar televisi di beberapa sudutnya; tersedia juga kursi dan meja di ruang terbuka persis di bagian belakang ruang penumpang, tempat ini juga untuk kegiatan penumpang selama perjalanan; musola; kantin dan titik-titik lain yang bisa diakses penumpang.

Penulis bertemu dengan penumpang lain yang akan menuju Tambelan dan Sintete, juga kru KMP Bahtera Nusantara 01 yang menyiapkan keberangkatan kapal.

Beruntung mendapat kesempatan bertemu dengan Kapten KMP Bahtera Nusantara 01, Muksin Sinaga. Ia perkenalkan rekan kerjanya selama melayani masyarakat di perbatasan. Muksin juga ceritakan tantangan gelombang tinggi yang membuat bulu roma berdiri, terlebih ketika ingat kalau perjalanan ini memakan waktu tidak sebentar.

Ingatan penulis langsung mengarah pada cerita perjalanan yang dituturkan oleh Rewina Ika Pratiwi, mahasiswa Universitas Gadjah Mada saat menjalani magang di Pusat Studi Sosial Asia Tenggara (PSSAT) UGM.

Ia bercerita tentang perjalanannya ke Pulau Enggano. Terletak sejauh 110 mil perjalanan laut mengarung lautan lepas Samudera Hindia. Pulau ini terpisah sejauh 100 km di sebelah barat daya Pulau Sumatera dengan koordinat 05 ° 23 ′ 21 ″ Lintang Selatan, 102 ° 24 ′ 40 ″ Lintang Timur.

Rewina tuliskan catatan perjalanannya tersebut dalam "Jalan Tak Beraspal Itu Bernama Samudera Hindia: Refleksi dari Enggano dan Melihat Distribusi Logistik ke Beranda Indonesia" saat itu ia tidak jadi menyeberang karena cuaca ekstrim mengharuskan kapal yang ditumpanginya kembali ke dermaga semula, ditunda sampai waktu yang belum ditentukan.

Kapal kemudian mulai bertolak menjauhi dermaga seiring dengan lepasnya tambatan. Cuaca cerah dan laut siang ini tenang. Menaungi awal perjalanan menuju kecamatan terjauh dan terkecil di dari Kabupaten Bintan ini.

Sebanyak 5.503 penduduk Kecamatan Tambelan sebagian besar tinggal di Pulau Tambelan dengan luasan 90,96 Km2. Pulau Tambelan menjadi satu dari 39 pulau yang berpenghuni di Kabupaten Bintan. Sedangkan 201 pulau lain di Kabupaten Bintan masih kosong atau belum berpenghuni.

Dari total luasan wilayah Kabupaten Bintan sebesar 88.035,54 Km2, hanya 1.946,13 Km2 atau 2,21 persen saja terdiri atas daratan. Sisanya adalah laut yang menjadi penghubung dengan Kabupaten Natuna di mata angin Utara; Kabupaten Lingga di Selatan; Kota Batam dan Tanjungpinang di Barat dan Provinsi Kalbar di bagian Timur.

Di empat jam pertama perjalanan menuju Tambelan, sinyal ponsel tidak lagi ada. Penumpang kapal pun sudah menempati ceruk peristirahatan, memenuhi kasur bertingkat dan sofa di ruang utama. Tersisa beberapa orang saja di bagian belakang kapal.

Keterbatasan jaringan ponsel ini, penulis ketahui dari salah satu kru kapal. Kondisi ini, kata dia, akan berlangsung sampai menjelang tiba di Tambelan. Sinyal di Tambelan sendiri, juga sangat terbatas, hanya bisa digunakan untuk melakukan panggilan saja, tidak bisa digunakan untuk kegiatan dalam jaringan (Daring).

Beberapa orang penumpang yang penulis temui di perjalanan menuju Tambelan, baik yang akan turun di sana maupun mereka yang akan melanjutkan perjalanan ke Sintete, memberi kesan positif mereka tentang armada penghubung di perbatasan ini. Ada yang sudah beberapa kali menggunakan KMP Bahtera Nusantara, ada juga yang baru pertama kali mencoba.

Dari mereka, penulis mendengarkan banyak hal. Termasuk kabar baik dan kesan positif tentang hadirnya pilihan armada penyeberengan dari Tambelan ke Tanjung Uban dan Sintete.

Aroma bumbu mie instan cup mewarnai bincang santai kami, sungguh menggoda. Tak heran ia menjadi persediaan terbanyak di kantin kapal. Penunda lapar sekaligus tameng atas dinginnya malam di laut menuju Tambelan.

Kecamatan Tambelan sebenarnya memiliki infrastruktur bandara yang memberi alternatif transportasi menuju Kota Tanjungpinang. Bandara Tambelan mulai beroperasi sejak Agustus 2020 lalu dan melayani dua penerbangan PP setiap minggunya. Penerbangan perintis yang terjadwal dua kali dalam seminggu ini, menyediakan layanan dengan kapasitas 12 penumpang dalam setiap penerbangannya.

Meskipun demikian, keberadaan transportasi laut tetap menjadi hal utama. Karena daya tampung transportasi udara belum dapat mengimbangi peran kapal-kapal pengangkut hasil laut Tambelan ke Sintete dan Kepri maupun sebaliknya. Juga membawa penumpang dalam jumlah banyak.

Penulis menutup malam di laut tambelan dengan istirahat. Memanfaatkan lamanya perjalanan dengan banyak tidur berujung pada segarnya badan di pagi hari. Ditambah gugusan pulau-pulau besar di kecamatan terjauh di Kabupaten Bintan ini sudah mulai terlihat menyambut kedatangan kapal. Cuaca cerah dan laut yang tenang membersamai sepanjang belasan jam perjalanan kami bersama KMP Bahtera Nusantara 01 sampai menjelang tiba di Tambelan.

Penumpang kapal sudah mengisi ruang-ruang di sisi kapal. Mengabadikan gugusan pulau yang terlihat semakin jelas. Pulau besar dengan garis pantai berpasir, ditumbuhi pohon kelapa di sisi terdekat dengan garis laut. Juga tumbuhan lain yang menutupi permukaan pulau yang terlihat dari kapal.

Pulau-pulau besar ini bagai tembok, melindungi pemukiman masyarakat Tambelan yang berada di bagian yang lebih ke dalam.

Kapal bersandar di pelabuhan ASDP di Tambelan pada Kamis (13/10/2022) pagi sekitar pukul 08.00 WIB. Pelabuhan ini cukup berjarak dengan pemukiman. Namun rumah-rumah penduduk tetap terlihat jelas dari atas kapal yang sudah mantap bersandar.

Mualim 1 KMP Bahtera Nusantara 01, Risman, menuturkan kalau kapal akan bertambat sampai pukul 10.00 WIB, kemudian melanjutkan pelayaran ke Sintete. Di jeda sebelum pelayaran selanjutnya ini, memberi sedikit ruang untuk penulis mengekplorasi Tambelan. Birbincang bersama warga di kedai makan dan berjumpa dengan sekertaris camat (Sekcam) Tambelan, Suhardi di kantornya--dari sini, pengelihatan penulis tentang Tambelan kembali menunjukkan kebaruan.

Pelantar yang menjulur dari bibir pantai ke tengah sebagai menghubung rumah-rumah warga, mendominasi dari kantor Kecamatan Tambelan. Bandara Tambelan yang terletak di seberang, juga terlihat cukup jelas. Pun laut di perairan Tambelan, terlihat begitu bening. Pemandangan yang membuat lupa kalau untuk sampai ke sini butuh mengarungi laut 16 jam lamanya.

Suhardi tidak sempat bercerita banyak, karena memang durasi pertemuan kami sangat singkat. Kurang dari 15 menit agaknya. Suhardi memaparkan informasi administrasi tentang Kecamatan Tambelan. Juga sedikit cerita perjalananannya mengabdi untuk Tambelan sejak tahun 1996.

Di akhir pertemuan singkat kami, Suhardi menuturkan peningkatan akses dari dan ke Tambelan menjadi sesuatu yang penting. Baiknya akses, akan mempengaruhi kualitas ekonomi; sosial budaya dan aspek lainnya.

Selama ini, kata dia, kehadiran KMP Bahtera Nusantara 01 menjadi alternatif yang sangat disyukuri masyarakat. Armada yang memberikan kenyamanan dan keamanan dalam menempuh perjalanan panjang di laut yang tidak selalu tenang.

Harapan warga, kata dia, ingin ada tambahan frekuensi berlayar KMP Bahtera Nusantara 01 untuk rute Tanjung Uban-Tambelan-Sintete. Rute yang saat ini hanya ada dua kali dalam sebulan, bisa diperbanyak menjadi 4 kali dalam sebulan, sehingga warga tidak terlalu lama menunggu.

“Pengaruhnya luar biasa. Kami bahkan minta rute untuk Tanjung Uban-Tambelan-Sintete ditambah. Masyarakat senang dengan Roro karena lebih cepat,” tutur Suhardi.

Sebelum sampai di salah satu ketinggian Tambelan dan berbincang dengan Suhardi, penulis lebih dulu menyusuri jalanan Tambelan dengan motor pinjaman. Beruntung ada warga yang berbaik hati merelakan kendaraannya. Mendukung misi lain penulis, berburu Bubur Pedas yang menjadi penganan khas Tambelan.

Di salah satu warung, penulis bertemu beberapa warga. Mereka duduk di bagian beranda warung, persis di sebelah pintu masuk. Warung ini menjadi penghalang antara jalan utama Kecamatan Tambelan dan garis pantainya. Sebagian besar rumah warga juga berada di posisi yang sama dan sampai ke laut. Sementara bangunan seperti masjid; sekolah; kantor kecamatan berada di sisi darat jalan. Juga ada beberapa rumah warga.

Di depan warung, beberapa pemuda tengah membetulkan konstruksi rumah. Bagian dalam rumah ini berisi barang dagangan seperti sembako dan kebutuhan masyarakat di sini.

Topan, satu dari lima warga yang duduk di warung tersebut menyapa, bertanya maksud kedatangan penulis di Tambelan. Setelah berkenalan dan menyampaikan niat kedatangan sebagai pembuka obrolan, perbincangan kami kemudian mengerucut pada bagaimana transportasi laut memegang peranan penting dalam kehidupan masyarakat Tambelan. Hal yang ternyata senada dengan apa yang disampaikan Sekcam Tambelan setelahnya.

Topan bertutur, selama ini gerak ekonomi masyarakat tambelan bergantung pada hadirnya kapal-kapal ikan yang mengangkut hasil laut ke Kalbar; Tanjungpinang dan Kijang. Arus logistik yang menjadi kebutuhan warga seperti material bangunan; sembako; sayuran; BBM juga diangkut melalui kapal tersebut.

Warga yang ingin bepergian keluar atau datang ke Tambelan juga memanfaatkan kapal logistik dan perikanan ini, selain menggunakan kapal perintis milik Pelni, Sabuk Nusantara. Butuh waktu tidak kurang dari 24 jam untuk sampai ke Tanjungpinang dari Tambelan. Jika cuaca sedang tidak baik, bisa lebih lama lagi. Aktivitas tersebut masih berlangsung sampai sekarang.

Kehadiran KMP Bahtera Nusantara 01 sejak tahun 2020 lalu, lanjut Topan, sudah memberi alternatif atau pilihan penyeberangan orang; barang dan kendaraan. Pada prosesnya, memang sudah ada sebagian kecil masyarakat yang memanfaatkan Roro rute ini untuk membawa barang dan kendaraan mereka.

Namun, masyarakat yang sudah sangat lama menggunakan moda transportasi pelayaran rakyat (Pelra) memerlukan waktu untuk penyesuaian agar dapat memanfaatkan secara optimal. Seperti tempat bersandar kapal; harga tiket dan jadwal keberangkatan kapal. Demikian juga dengan alur logistik yang masuk dan produk perikanan yang keluar Tambelan.

“Proses bisnis masyarakat dengan pemilik kapal juga sudah berlangsung lama, jadi mungkin ada perjanjian yang memang disepakati,” tutur Topan.

Topan sesekali menyesap kopi yang tersaji, juga menyambut obrolan dari rekan semejanya dengan bahasa Melayu Tambelan. Beberapa bisa penulis pahami, beberapa lainnya tidak.

Ketika Topan dan temannya hanya menyesap kopi, penulis memenuhi meja dengan beragam jenis lauk. Mulai dari isi karang; ikan; ayam dan sayur. Tidak ada Bubur Pedas. Penganan yang tersaji, tercicipi semua. Kian berkurang bersama menariknya penuturan Topan tentang Tambelan.

Tak terasa, jeda sekitar dua jam sebelum kapal bertolak ke Sintete, sebagian besarnya penulis habiskan bersama warga Tambelan di warung ini. Di warung yang ternyata dikelola pendatang dari Pontianak, namun telah lama menetap di Tambelan.

Perjalanan berlanjut. Setelah sebelumnya memulai dari mendapatkan motor pinjaman, berkendara menyusuri jalanan Tambelan yang dipagari tembok dan bangunan di sisi daratnya. Pelantar dan pemukiman warga di sisi lautnya. Beberapa masjid berukuran sedang dan besar cukup banyak di pulau ini. Lalu berbincang dengan Topan dan warga Tambelan di warung dan bersua Suhardi di kantornya.

Akhirnya kembali bertemu Risman, bersama pesan warga yang ingin lebih banyak jadwal yang menghubungkan Tambelan dengan Kalbar dan daerah lain di Kepri.

Motor pinjaman juga telah kembali ke pemiliknya di kawasan dermaga, sebelum penulis masuk dan menghilang ke dalam lambung KMP Bahtera Nusantara 01.

Dermaga ini, kata warga di sini, menjadi area hiburan bagi masyarakat di waktu malam. Gerai-gerai di sekitar dermaga buka setiap malam meskipun tidak ada jadwal kapal yang masuk. Menyediakan makanan dan kursi bagi warga yang ingin bersantai bersama keluarga dan teman.

Kapal bersiap untuk meninggalkan dermaga kapal motor penyeberangan Tambelan yang dikelola oleh Pemerintah Kabupaten Bintan ini. Berlanjut ke Sintete, lalu kembali lagi ke Tambelan, kemudian mengakhiri rute pendek di Tanjung Uban.
***
Sepanjang tiga hari menuntaskan rute Tanjung Uban-Tambelan-Sintete PP, penulis banyak bertemu dan berbincang dengan masyarakat Tambelan maupun Kalbar di atas kapal. Juga pekerja dari Tanjungpinang yang melakukan kegiatannya di Tambelan.

Ada yang memang sudah beberapa kali memanfaatkan KMP Bahtera Nusantara 01 untuk datang ke Tambelan. Ada juga warga Kalimantan yang baru pertama kali mencoba rute Tanjung Uban-Tambelan-Sintete.

Dengan jarak tempuh setengah dari rute Tanjung Uban-Tambelan, perjalanan Tambelan-Sintete terasa lebih cepat. Lebih-lebih ketersediaan sinyal beberapa jam menjelang ketibaan menjadi kebahagiaan tersendiri, setelah menjalani semua hal di atas kapal. Mulai dari bersosialisasi dengan kru dan penumpang, makan dan istirahat.

KMP Bahtera Nusantara 01 memasuki muara Sungai Sambas sekitar pukul 16.30 WIB. Kapal bergerak dengan lambat masuk ke dalam sungai besar tersebut. Para penumpang nampak berdiri di sini kapal, mengambil gambar ratusan kapal nelayan yang tertambat di sisi kiri saat memasuki sungai.

Semakin mendekati kawasan pelabuhan, sinar matahari petang semakin menyala dari belakang kapal. Membuat penumpang tetap bertahan di posisi mereka. Menikmati keindahan petang di Sungai Sambas sambil berbincang. Lantunan Azan Magrib membersamai merapatnya kapal di dermaga Sintete.

Penumpang bergegas turun. Ada yang sudah ditunggu kerabatnya, ada juga yang masih harus menunggu ketibaan jemputan.

Kapal bertambat cukup lama di sini. Pukul 04.00 WIB di hari Jumat (14/10/2022) baru kembali berlayar ke Tambelan.

Dermaga di Sintete memang tidak memiliki jadwal keberangkatan atau kedatangan secara pasti. Karena menyesuaikan dengan kondisi pasang surut air. Ketika surut kapal yang tengah bersandar tidak bisa keluar. Begitu juga kapal yang akan masuk tidak bisa bersandar karena perairan tersebut dangkal.

Penulis terjaga ketika kapal sudah mendekati perairan Tambelan. Dibangunkan oleh alunan kapal yang menghantam gelombang kecil siang itu.

Penumpang dan porter dari kejauhan sudah nampak bersiap menyambut kedatangan kapal. Bentor dan mobil pickup pun langsung masuk sesaat setelah kapal merapat, memuat logistik dari Sintete untuk diperdagangkan.

Calon penumpang dan pengantar untuk rute Tambelan-Tanjung Uban juga tak kalah ramai. Membuat ruang utama kapal terasa sesak oleh rombongan yang membentuk kelompok memenuhi ruang yang digunakan untuk kendaraan dan barang ini.

Kondisi ini memang tidak berlangsung lama, sudah kembali normal menjelang kapal berangkat karena pengantar tidak lagi berada di kapal dan penumpang sudah menempati ruang yang diperuntukkan untuk penumpang.

Di perjaanan kembali ke Tanjung Uban, penulis bertemu lagi dengan rombongan yang sebelumnya turun di Tambelan. Termasuk truk yang membawa tiang listrik. Kini muatannya adalah kotak plastik pendingin berisi hasil laut Tambelan yang memenuhi bak truk.

Penulis juga bertemu dengan beberapa warga Tambelan yang baru menjajal KMP Bahtera Nusantara 01. Dari mereka, penulis mendapatkan cerita bagaimana Tambelan memiliki daya tarik lain dalam rupa banyaknya Penyu bersarang di pantai di pulau-pulau yang ada di sana. Melengkapi alam Tambelan yang memang sudah indah menarik.

Niat warga untuk mengelola potensi konservasi penyu sebagai bagian dari kegiatan peduli lingkungan sekaligus memberi ruang menambah pendapatan untuk masyarakat, memang sudah ada, namun belum pada pelaksanaan secara teknis.

Berbagai kendala, mulai dari SDM yang belum mumpuni dari sisi pengalaman dan pemahaman, sampai pada dukungan sistem di pemerintah daerah dan kementerian, termasuk aspek aksesibilitas yang dalam beberapa hari ini penulis sering dengar, mengemuka, juga menjadi tantangan untuk mengembangkan kawasan konservasi penyu di Tambelan.

Penulis meyakini pengembangan Tambelan sebagai kawasan konservasi penyu akan menjadikannya daya tarik. Untuk menarik berbagai dukungan dari instansi terkait sehingga akan menghadirkan program-program yang melibatkan masyarakat secara langsung.

Adanya program konservasi ini akan menjadi daya dorong tambahan atas keinginan masyarakat adanya peningkatan frekuensi berlayar kapal rute Tambelan-Tanjung Uban dan Tambelan-Sintete.

Pada prosesnya, keinginan masyarakat akan hadirnya layanan transportasi yang lebih baik, utamanya peningkatan layanan dari KMP Bahtera Nusantara 01 dalam rupa peningkatan rute berlayar, sudah terdengar dan dipahami. Baik itu oleh manajemen KMP Bahtera Nusantara 01 sendiri maupun Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bintan dan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kepri.

General Manager PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) Batam, Syamsudin, menuturkan pihaknya terus berkoordinasi dengan pemerintah daerah untuk menghadirkan perbaikan layanan di setiap rute penyeberangan. Utamanya rute Tanjung Uban-Tambelan yang memiliki daya tempuh cukup panjang dan menantang.

PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) Batam bahkan menyiapkan tambahan kapal untuk bisa mengakomodir terlaksananya penambahan frekuensi berlayar rute Tanjung Uban-Tambelan PP pada 2023 mendatang.

Syamsudin melanjutkan, perbaikan layanan untuk Tambelan, sebagai bentuk hadirnya negara untuk daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T). Tertinggal berarti memiliki kualitas pembangunan yang rendah, masyarakatnya kurang berkembang dibandingkan dengan daerah lain dalam skala nasional. Lalu, dari sisi geografis berada di daerah terdepan dan terluar wilayah Indonesia.

Lebih jauh, Syamsudin menjelaskan, rencana perbaikan layanan untuk masyarakat ini, tidak serta merta mengubah tatanan yang sudah ada sebelumnya. Meskipun ASDP memiliki layanan untuk orang, barang dan kendaraan, pihaknya tetap menggandeng pelayaran rakyat (Pelra) sebagai mitra yang sudah memulai lebih dulu layanan penyediaan logistik untuk Tambelan, juga transportasi bagi hasil laut dari Tambelan ke Tanjungpinang, Kijang dan Kalbar.(K41)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

asdp
Editor : Ajijah
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top