Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Benahi Wisata dan Kawal Rupiah Tetap Perkasa di Rupat Utara

Warga Rupat mendapatkan upah berbentuk Ringgit Malaysia, yang tentu saja mestinya tidak dipakai saat bertransaksi di dalam negeri dan wilayah NKRI.
Arif Gunawan
Arif Gunawan - Bisnis.com 05 Agustus 2022  |  19:38 WIB
Benahi Wisata dan Kawal Rupiah Tetap Perkasa di Rupat Utara
Pengunjung wisata Pulau Beting Aceh, Rupat Utara berfoto di pantai. Istimewa

Bisnis.com, PEKANBARU - Aliran listrik masih padam, rumah-rumah warga gelap tanpa ada penerangan sejak sore hingga subuh hari. Listrik hanya menyala 10 jam saja, dan sisanya 14 jam warga hidup dalam gelap gulita. Bagi yang berpunya, biasanya membeli genset hingga rumahnya bisa memancarkan cahaya.

Jalan-jalan sekitar lingkungan desa masih jalan tanah setapak, dan hanya biasa dilalui sepeda kayuh dan sepeda motor, tidak banyak roda empat melintas di kampung-kampung.

Kondisi itulah yang menggambarkan Pulau Rupat dan Rupat Utara, Riau sekitar 10 tahun lalu. Wilayah ini adalah salah satu pulau terluar di Tanah Air yang menyimpan potensi besar dan bisa berkembang pesat kedepan bila dibenahi bersama-sama. Lokasi unggulannya bertempat di Kecamatan Rupat Utara, punya garis pantai memanjang hingga 17 kilometer dan menjadi tujuan utama wisatawan kala berkunjung kesana.

Untuk menuju Rupat Utara yang masuk wilayah administrasi Kabupaten Bengkalis, itu, pengunjung harus menyeberang dari Pelabuhan Dumai. Jika dari Pekanbaru butuh waktu sekitar 7,5 jam bila melalui jalur darat lewat tol, menyeberang dengan kapal Roro dan melanjutkan jalan darat sampai ke Rupat Utara. Namun jika dari Dumai pengunjung melanjutkan perjalanan dengan kapal cepat, waktu tempuh bisa semakin singkat yaitu menjadi hanya 4,5 jam saja.

Rupat ini posisinya sangat dekat dengan Malaysia. Jarak tempuh dari garis pantai Rupat Utara ke wilayah Melaka hanya sekitar setengah jam saja bila ditempuh dengan kapal cepat atau sekitar 40 kilometer.

Seperti kondisi daerah terdepan dan terluar lainnya di Tanah Air, ada kondisi klasik yang dihadapi masyarakat setempat dulunya, yaitu masih terbatasnya pembangunan infrastruktur dasar seperti pembangunan jalan, air bersih, serta aliran listrik. Akibatnya, masyarakat harus terbiasa menjalani aktivitas keseharian dengan kondisi yang serba terbatas.

"Tapi alhamdulillah sekarang sejak ditetapkan jadi Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) pembangunan infrastruktur mulai dilakukan seperti pembangunan jalan, penyambungan aliran listrik," ujar Akademisi Pariwisata Universitas Riau, Ahmad Nawawi, Jumat (5/8/2022).

Dia berkisah dulunya orang Rupat lebih akrab dengan Malaysia mulai dari siaran televisi dan radio, lalu makanan minuman banyak dibawa dari seberang dan dijual belikan secara bebas oleh warga setempat. Sedangkan Indonesia hanya diketahui berupa simbol seperti bendera merah putih, dan lambang Garuda yang terpajang di sekolah-sekolah.

Karena kondisi yang memaksa itu, banyak warga setempat memilih mengadu nasib ke negeri jiran untuk bekerja apapun yang bisa, bahkan harus jadi pekerja kebun juga akan dilakukan atau yang kerap disebut mandah. Dari hasil bekerja itu biasanya warga Rupat mendapatkan upah berbentuk Ringgit Malaysia, yang tentu saja mestinya tidak dipakai saat bertransaksi di dalam negeri dan wilayah NKRI.

Pantai Lapin, rupat utara./Istimewa

Tapi mau bagaimana, karena sulitnya akses ke luar pulau akhirnya warga terbiasa untuk berjual beli dengan dua jenis mata uang Ringgit dan Rupiah. Termasuk bagi para nelayan dan pekebun, menjual hasil tangkapan dan buah kelapa ke negeri seberang selain dengan barter juga biasanya akan mendapatkan ringgit.

Kini sejak berstatus KSPN, kondisi Rupat dan Rupat Utara mulai berubah hingga 180 derajat. Alat-alat berat dibawa masuk kampung, material pembangunan jalan melintasi rimba hutan dibawa truk berukuran raksasa. Hingga tidak terasa dari sekitar 80 kilometer jalan lintas Rupat ke Rupat Utara, sudah lebih dari separuhnya kini dalam kondisi jalan rigid beton dan sisanya memang masih berupa jalan tanah dan sirtu. Tapi bagi warga setempat itu sudah mewah dan tidak kalah dengan jalanan di ibu kota.

Setelah akses terbuka, peluang pariwisata mulai dilirik oleh para pengunjung saat tiba di Rupat Utara. Ujung pulau itu dan di sisi timurnya punya garis pantai memanjang hingga 17 kilometer, dengan pasir putih yang tentu memanjakan kaki saat diinjak. Belum lagi potensi Pulau Beting Aceh yang bisa didatangi setelah menyeberang dengan kapal cepat selama 15 menit. Pasir pantainya berbisik yang tentunya bisa jadi kisah menarik bagi tiap pengunjungnya.

Lalu lalang pengunjung Rupat kian ramai, ditambah lagi sejak dibukanya jalan tol Pekanbaru-Dumai di akhir 2020 lalu, sehingga semakin banyak orang ibu kota Pekanbaru dan sekitarnya berdatangan ke sana. Sejak itulah wisata Rupat semakin menggeliat, banyak penginapan mulai dibangun mulai oleh warga setempat hingga investor kelas kakap.

Tidak hanya wisata, perubahan juga turut dirasakan pada aktivitas jual beli warga yang kini semakin dominan memakai rupiah dan perlahan meninggalkan ringgit sebagai alat tukar dan uang belanja. Karena dengan terbukanya akses jalan, kini sudah ada kantor bank umum yang membuka layanan di pulau itu sehingga masyarakat bisa dengan mudah menabung dan mengambil uang tunai, meskipun untuk wilayah Rupat Utara masih belum ada mesin ATM.

Menyikapi kondisi itulah, Bank Indonesia turut ambil bagian dalam upaya mendorong pihak-pihak terkait agar potensi pariwisata dan sekaligus menjaga agar rupiah perkasa di perbatasan negara yang memang sudah menjadi tanggung jawab bank sentral.

"Riau dengan Pulau Rupat ini punya potensi sebagai destinasi pariwisata baik itu wisata bahari atau kelautan. Hasil kajian kami, Rupat akan terus kami dorong karena letak geografisnya sangat strategis tinggal beberapa kilometer lagi saja sudah tiba di Malaysia," ujar Kepala Bank Indonesia Riau, Muhamad Nur.

Nur mengakui untuk menjadi tujuan pariwisata yang maju, harus ada 3 hal yang dibenahi, yaitu aksesibilitas, amenities, dan atraksi. Untuk jalur akses ke Rupat kini sudah banyak, mulai dari dukungan tol Permai hingga pelabuhan Dumai yaitu Roro dan pelabuhan ferry dengan tujuan ke Tanjung Medang. PR nya tinggal pembenahan jalan lintas pulau Rupat sehingga jalan akses sepanjang 80 kilometer di pulau itu bisa dalam kondisi minimal sudah jalan beton.

Lalu untuk amenities atau fasilitas pendukung seperti penginapan juga sudah ramai di Rupat dan Rupat Utara, mulai dari level penginapan, hotel hingga villa sudah tersedia tinggal bagaimana pengelola memastikan pelayanannya sesuai standar dan harga yang ditawarkan. Salah satu yang masih perlu dibenahi adalah soal air bersih, dimana sebagai kawasan pesisir hal ini masih menjadi kendala dan perlu dicarikan solusinya. Namun dengan teknologi yang tepat dan investasi yang sesuai, persoalan ini bukanlah sebuah masalah besar di saat banyak wilayah lain di Tanah Air yang sudah menjawab hal itu.

Untuk memastikan pengembangan pariwisata benar-benar dirasakan manfaatnya oleh warga sekitar, Bank Indonesia Perwakilan Riau sudah mulai ambil andil dengan membantu kelompok sadar wisata (Pokdarwis) di Rupat. Lewat bantuan itu diharapkan Pokdarwis setempat bisa menjadi bagian yang mengisi beragam atraksi atau penampilan seni, menyiapkan souvenir serta memberikan keramahtamahan yang baik kepada para pengunjung.

Khusus untuk meningkatkan transaksi dan penggunaan uang rupiah di kawasan 3T atau tertinggal, terluar, dan terdepan termasuk di Rupat, Bank Indonesia Perwakilan Riau bekerja sama dengan aparat dari TNI Angkatan Laut untuk menjangkau pulau-pulau 3T tersebut. Selama kegiatan berlangsung, BI akan melakukan kegiatan penukaran uang seperti layanan kas keliling, berpindah-pindah ke sekitar 6 pulau besar yang ada di pesisir timur Provinsi Riau.

"Untuk Rupat Utara sendiri, saat ini alhamdulillah transaksinya sudah pakai rupiah dan tidak ringgit lagi, lalu kami lihat kini transaksinya masyarakat itu uangnya dalam kondisi yang layak edar. Itu memang komitmen kami di BI dan kedepan tentu akan terus kami tingkatkan."

Tentu beragam upaya multi pihak tadi sudah sangat didambakan sejak lama, sehingga sebagai warga negara kini orang Rupat benar-benar merasakan republik ini hadir, tidak hanya di bendera merah putih dan logo Garuda terpajang di sekolah semata, tapi memang dirasakan sampai ke uang fisik rupiah yang dipegang masyarakatnya sudah tidak lagi ringgit tetangga. Semoga.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Bank Indonesia moneter Rupiah
Editor : Anggara Pernando

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini

back to top To top