Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Update Wabah PMK di Sumut: 2.600 Ekor Hewan Ternak Terindikasi, 21 Positif

Sejauh ini, sudah terdapat 2.600 ekor ternak di Sumatra Utara yang terindikasi tertular Penyakit Mulut dan Kuku (PMK). Mereka terdiri atas sapi, kambing dan kerbau.
Pekerja memerah susu sapi di salah satu peternakan sapi di Jakarta, Rabu (25/5/2022). Kementerian Pertanian memproyeksi kerugian ekonomi Indonesia akibat wabah penyakit mulut dan kuku (PMK) sapi bisa tembus Rp11,6 triliun./Antara-Fauzan.
Pekerja memerah susu sapi di salah satu peternakan sapi di Jakarta, Rabu (25/5/2022). Kementerian Pertanian memproyeksi kerugian ekonomi Indonesia akibat wabah penyakit mulut dan kuku (PMK) sapi bisa tembus Rp11,6 triliun./Antara-Fauzan.
Bisnis.com, MEDAN - Sebanyak 2.600 ekor ternak di Sumatra Utara terindikasi tertular panyakit mulut dan kuku. Namun demikian, hingga pekan lalu baru sebanyak 21 ekor ternak yang terindikasi positif tertular. ekor.
Menurut Gubernur Sumatra Utara Edy Rahmayadi, belum ada di antara hewan tersebut yang mati. "Untuk itu kami berusaha untuk melakukan pengendalian, seperti dengan cara mengisolasi hewan ternak yang terkena dan langsung diobati," ujar Edy, Rabu (25/5/2022).
Edy mengatakan, hewan ternak yang terjangkit PMK tidak bisa menularkan penyakit ke manusia. Sebab penyakit tersebut tidak tergolong zoonosis. Sehingga Edy memastikan seluruh hewan ternak di Sumatra Utara layak dikonsumsi.
Lebih lanjut, Edy meminta agar persoalan wabah PMK tidak disikapi berlebihan. Walau begitu, penanganannya tetap harus serius. Apalagi Iduladha 1443 Hijriah akan segera tiga. Pemerintah provinsi juga telah membatasi lalu lintas pengangkutan hewan ke Sumatra Utara. 
"Kami berharap jangan ada yang membuat rakyat stres. Bahwa masalah ini bisa kita selesaikan dengan baik," kata dia.
 
Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan Pemprov Sumatra Utara Azhar Harahap, pekan lalu sudah terdapat 21 ekor hewan ternak yang dinyatakan positif terjangkit PMK. "Untuk yang positif ada 21 ekor. Jadi yang lain masih indikasi," katanya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper