Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Kualitas Buah Vanili Asal Kabupaten Karo Diklaim Terbaik di Indonesia

Menurut Hendi, Kabupaten Karo saat ini menjadi sentra utama produk vanili. Kualitasnya diklaim merupakan yang terbaik di Indonesia.
Nanda Fahriza Batubara
Nanda Fahriza Batubara - Bisnis.com 28 Desember 2021  |  18:33 WIB
Kepala Balai Karantina Pertanian Kelas II Medan Lenny Hartati Harahap (kiri) saat berbincang dengan petani vanili di Desa Perbesi, Kecamatan Tigabinanga, Kabupaten Karo, Senin (27/12/2021).  - Istimewa
Kepala Balai Karantina Pertanian Kelas II Medan Lenny Hartati Harahap (kiri) saat berbincang dengan petani vanili di Desa Perbesi, Kecamatan Tigabinanga, Kabupaten Karo, Senin (27/12/2021). - Istimewa

Bisnis.com, KARO - Komoditas vanili asal Sumatra Utara kian menarik minat para eksportir, khususnya yang diproduksi dari Kabupaten Karo.

Hal ini disampaikan perwakilan PT Sumber Bukit Jaya, Hendi Situmorang. Perusahaan ini merupakan satu di antara eksportir vanili asal Sumatra Utara.

Menurut Hendi, Kabupaten Karo saat ini menjadi sentra utama produk vanili. Kualitasnya diklaim merupakan yang terbaik di Indonesia.

"Dari sisi pengiriman saja kita harus menggunakan transportasi udara, tidak bisa disamakan dengan komoditas lain yang dikirim lewat laut," ujar Hendi, Selasa (28/12/2021).

Hendi mengatakan, Sumatra Utara kini mampu memproduksi 10 ton buah vanili setiap bulan. Dari jumlah itu, seperempat di antaranya diproduksi dari Kabupaten Karo. Tepatnya dari Desa Perbesi, Kecamatan Tigabinanga.


Di antara faktor yang membuat Desa Perbesi menjadi sentra vanili adalah jumlah petani yang mumpuni dan kemauan mereka melakukan budidaya. Di tingkat petani, perusahaan biasanya membeli buah vanili seharga Rp200.000-Rp300.000 per kilogram, tergantung kualitasnya.

Akan tetapi, menurut Hendi, masih dibutuhkan peningkatan kualitas sehingga lebih memenuhi standar pasar global. Seperti ukuran buah dan tingkat kematangan.

Vanili asal Sumatra Utara diekspor ke sejumlah negara. Seperti Amerika Serikat, China dan Jepang. Produk yang diekspor umumnya berjenis Vanili Bean atau buah yang sudah dikeringkan dan Vanili Powder atau buah yang telah diolah menjadi bubuk.

Di negara tujuan ekspor, produk vanili biasa dipakai sebagai bahan perasa makanan, pewangi, kosmetik dan lainnya.

Sementara itu, Kepala Balai Karantina Pertanian Kelas II Medan Lenny Hartati Harahap menyatakan komitmen untuk membantu peningkatan kualitas komoditas vanili asal Sumatra Utara agar layak ekspor.

Untuk itulah mereka menggelar bimbingan teknis kepada sejumlah petani vanili di Desa Perbesi, Kecamatan Tigabinanga, Kabupaten Karo, Sumatra Utara.

Lenny menyarankan para petani agar menerapkan budidaya vanili berbasis organik. Selain itu, komoditas vanili dan produk turunan juga harus mengantongi Sertifikat Phytosanitary yang diterbitkan Badan Karantina Pertanian.

"Salah satu program yang kami lakukan adalah memberi bimbingan teknis untuk petani vanili di Kabupaten Karo," ujar Lenny.

Menurut Lenny, Sumatra Utara sebenarnya telah mengekspor komoditas vanili beserta produk turunannya. Akan tetapi, ekspor sempat terhenti dan kembali bergeliat pada 2019 lalu.

Komoditas vanili asal Sumatra Utara biasanya diekspor ke beberapa negara tujuan. Seperti Amerika Serikat, China dan Jepang.

Menurut Lenny, terdapat setidaknya 10 perusahaan yang selama ini tercatat di Balai Karantina Pertanian Kelas II Medan menjadi eksportir komoditas vanili asal Sumatra Utara.

"Produk yang dikirim ada yang berupa Vanili Bean dan Vanili Powder," kata Lenny.

Lenny mengatakan, para petani vanili mesti mendapat pembekalan agar dapat meningkatkan produktivitas. Dukungan ini juga diberi demi mendukung program Gratieks, yakni Gerakan Tiga Kali Lipat Ekspor.

Di samping harus dibudidayakan secara organik, komoditas vanili juga harus memiliki Sertifikat Phytosanitary yang diterbitkan Badan Karantina Pertanian.

Penerbitan sertifikat itu akan disesuaikan dengan persyaratan impor barang terkait di negara tujuan.

Biasanya, persyaratan itu meliputi bebas dari organisme pengganggu tumbuhan karantina (OPTK) negara tujuan dan aspek-aspek yang terkait dengan keamanan pangan. Di antaranya bebas dari residu pestisida dan logam berat. Karena itu, pemenuhan aspek keamanan pangan menjadi fokus Balai Karantina Pertanian.

"Komoditas dan produk ekspor pertanian kita sering bermasalah pada aspek keamanan," ujar Lenny.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

sumut Vanili
Editor : Ajijah

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top