Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Warga Lokal Jadi Tumpuan Pelaku Usaha Wisata di Sumatra Utara

Ketua Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia (ASITA) Sumatra Utara Solahuddin Nasution mengatakan, geliat pariwisata hanya bertumpu pada wisatawan lokal, alias warga setempat.
Nanda F Batubara
Nanda F Batubara - Bisnis.com 04 November 2021  |  20:02 WIB
Objek wisata Danau Toba di Kabupaten Samosir, Sumatra Utara, terlihat sepi belum lama ini.  - Bisnis/Nanda Fahriza Batubara
Objek wisata Danau Toba di Kabupaten Samosir, Sumatra Utara, terlihat sepi belum lama ini. - Bisnis/Nanda Fahriza Batubara

Bisnis.com, MEDAN - Para pelaku usaha wisata dan perhotelan di Sumatra Utara diselimuti kebimbangan sekaligus pasrah. Mereka tak berani berharap lebih.

Angka itu seiring dengan data teranyar yang memperlihatkan jumlah wisatawan yang turun signifikan pada tahun ini. Di sisi lain, pelonggaran level Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) belakangan memberi secercah harapan.

Ketua Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia (ASITA) Sumatra Utara Solahuddin Nasution mengatakan, geliat pariwisata hanya bertumpu pada wisatawan lokal, alias warga setempat. Penurunan level PPKM belakangan ini turut menunjukkan tren positif.

"Kalau mau realistis dengan kondisi sekarang, kami belum bisa berharap banyak dari pariwisata ini. Harapannya mungkin tahun depan. Kalau kondisi sekarang ini, saya pikir tidak," kata Solahuddin kepada Bisnis, Kamis (4/11/2021).

Rasa pesimistis Solahuddin bukan tanpa alasan. Menurutnya, banyak kebijakan paradoks yang turut menyumbang suramnya geliat pariwisata di Sumatra Utara. Di samping itu, aturan-aturan terkait COVID-19 yang diterapkan kerap berubah sehingga membingungkan.

"Tapi kalau kondisinya masih seperti ini, kemudian, masih banyak dibebani-dibebani dengan persyaratan untuk terbang, PCR dan lain sebagainya, ya orang menahan diri. Paling mereka berwisata yang dekat-dekat saja," katanya.

Saat ini, lanjut Solahuddin, pelaku wisata hanya bergantung pada wisatawan lokal. Karena itu, dia berharap pemerintah memberi kemudahan dan kelonggaran tanpa mengabaikan pengawasan agar lonjakan kasus COVID-19 bisa dicegah.

"Tinggal bagaimana pengawasannya saja. Kalau pemerintah melakukan pelonggaran, harus tetap dilakukan pengawasan. Tapi jangan kerannya yang ditutup," katanya.

Solahuddin berharap pemerintah menemukan formula baru untuk mendongkrak pariwisata pada tahun depan.

"Kalau kita mau mengharapkan wisatawan domestik ini, harus banyak diberi kemudahan. Banyak aturan yang membingungkan selain memberatkan. Karena aturannya sebentar-sebentar berubah. Tidak tahu kita mana yang bisa jadi pedoman. Kalau berubah-ubah terus, orang susah menetapkan planning," katanya.

Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Sumatra Utara Denny S Wardhana mengatakan, tingkat hunian hotel menunjukkan tren positif belakangan ini. Namun, tamu yang menginap masih didominasi oleh wisatawan lokal.

Begitupun dengan geliat bisnis MICE atau layanan Meeting, Incentive, Convention and Exhibition. Sejauh ini, segmen yang menggunakan jasa tersebut masih terbatas.

Seperti Solahuddin, Denny juga menyoroti aturan dan kebijakan terkait COVID-19 yang kerap berubah-ubah.

"Sekarang kondisinya kita baru mulai naik lagi semenjak level PPKM diturunkan. Kami tidak bisa memprediksi ke depan itu bagaimana kalau peraturannya berubah-ubah. Kalau misalnya berubah, ada pengetatan lagi, ya kami hancur lagi. Jadi semua tergantung dari kebijakan pemerintah," kata Denny kepada Bisnis.

Saat ini, kata Denny, pelaku usaha perhotelan belum berani memperkerjakan karyawannya secara utuh. Sebab, kondisi perekonomian belum normal. Sektor ini mengandalkan promo serta kemudahan lain demi menarik tamu. Di sisi lain, pelaku usaha hanya menumpukan satu-satunya harapan kepada tamu lokal.

"Nah yang sekarang ini yang mendongkrak itu wisatawan lokal. Kalau wisatawan Nusantara belum," ungkap Denny.

Menurut Denny, sektor pariwisata bisa kembali bergeliat jika diiringi dengan vaksinasi COVID-19 yang maksimal.

"Kuncinya cuma satu, vaksinasi dipercepat. Cuma itu. Lalu scan QR Peduli Lindungi itu diaktifkan. Di setiap hotel harus mengaktifkan aplikasi scan Peduli Lindungi itu. Karena di situ bisa terdeteksi, dia sakit atau tidak," kata Denny.

Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Pemprov Sumatra Utara Zumri Sulthony belum dapat dimintai komentarnya mengenai kondisi pariwisata di Sumatra Utara.

Saat ini, pemerintah mematok sejumlah syarat bagi setiap warga negara asing (WNA) yang hendak memasuki Indonesia.

Regulasi teranyar dirangkum dalam Surat Edaran (SE) Satgas Penanganan COVID-19 Nomor 20 Tahun 2021 tentang Protokol Kesehatan Perjalanan Internasional Pada Masa Pandemi COVID-19. Aturan ini berlaku efektif sejak 14 Oktober 2021 lalu.

Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) menerbitkan data mengenai perkembangan sektor pariwisata di Sumatra Utara.

Wisatawan mancanegara yang tercatat berkunjung ke Sumatra Utara pada September 2021 lalu berjumlah tiga. Ketiganya masuk melalui Bandar Udara Internasional Kualanamu.

Menurut Kepala BPS Sumatra Utara Syech Suhaimi, jumlah itu menurun dibanding Agustus 2021 yang tercatat sebanyak empat kunjungan.

Jika dibandingkan periode yang sama pada tahun lalu, penurunan terjadi cukup signifikan. Pada September 2020, kunjungan wisatawan mancanegara yang masuk ke Sumatra Utara tercatat sebanyak 36 kunjungan.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

sumut
Editor : Ajijah

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top