Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Kopi Danau Toba, Mengapa Jadi Kopi Terbaik di Sumatra?

Danau Toba, salah satu destinasi wisata internasional di Indonesia, tidak hanya menawarkan pemandangan alam yang indah, rupanya juga terkenal sebagai zona produksi kopi berkualitas tinggi.
Cristine Evifania Manik
Cristine Evifania Manik - Bisnis.com 11 Maret 2021  |  12:10 WIB
Ilustrasi - Bisnis
Ilustrasi - Bisnis

Bisnis.com, MEDAN - Danau Toba, salah satu destinasi wisata internasional di Indonesia, tidak hanya menawarkan pemandangan alam yang indah, rupanya juga terkenal sebagai zona produksi kopi berkualitas tinggi. Beragam jenis varian kopi tumbuh subur di sekitar Danau Toba.

Danau Toba dikelilingi tujuh daerah kabupaten/kota. Setiap daerah memiliki kopi khas masing-masing. Sebut saja kopi Sigarar Utang, Lintong, Sidikalang, Mandailing yang tumbuh subur di tanah Toba ini sudah dikenal khalayak ramai karena memiliki citarasa yang unik.

Umumnya, kopi yang banyak ditanam di sekitar kawasan Danau Toba adalah jenis Arabika. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), luas areal tanaman kopi Arabika disekitar kawasan Danau Toba sekitar 71.955 hektare, sementara areal kopi Robusta hanya 19.416 hektare. Ini disebabkan karena kopi Arabika merupakan kopi dataran tinggi yang tumbuh subur di kawasan pegunungan Danau Toba yang ketinggiannya bisa mencapai 1.600 meter di atas permukaan laut (mdpl).

Kopi Arabika tidak hanya terkenal di Sumatra Utara, namun diminati oleh pecinta kopi dunia karena rasanya lebih halus, lebih manis dan mempunyai rasa dan aroma yang lebih variatif.

Dalam buku berjudul The Little Coffee Know it All’ yang ditulis Shawn Steiman disebutkan bahwa kopi yang ditanam pada ketinggian lebih dari 800 mdpl diakui memiliki karakter rasa yang berbeda seperti tingkat keasaman, aroma dan cita rasa yang lebih bervariasi.

Kopi dengan cita rasa yang bervariasi seperti buah-buahan tropis, berries, orange, coklat, kacang dan varian rasa lainnya, kemungkinan besar kopi tersebut memang berasal dari tanaman > 800 mdpl. Sedangkan, untuk kopi yang ditanam di ketinggian yang lebih rendah memiliki tingkat keasaman yang lebih rendah dan karakter rasa yang lebih sedikit.

Tren masyarakat menanam kopi di wilayah pegunungan Bukit Barisan Sumatra Utara saat ini makin meningkat. Di dataran tinggi Karo misalnya, petani jeruk sudah beralih ke tanaman kopi pasca erupsi gunung Sinabung tahun 2010. Karo juga merupakan salah satu daerah penyangga kawasan wisata Danau Toba.

Salah satu varian kopi Arabika yang banyak diminati antara lain kopi Sigarar Utang. Dikatakan kopi Sigarar Utang karena petani beranggapan bahwa hasil kopi dapat segera membayar utang modal ketika menanam karena waktu tanam kopi ini sangat singkat, dimana kopi ini berbuah pada usia satu tahun delapan bulan. Tumbuh subur di daerah pegunungan dengan ketinggian 700 - 1.700 mdpl, kopi Sigarar Utang ini sangat cocok ditanami di dataran tinggi beriklim dingin.

Tanaman kopi di Karo tersebar di seluruh Kecamatan, namun yang paling banyak ditemukan di Kecamatan Merek, salah satunya diproduksi oleh Taman Simalem Resort (TSr).

General Manager Taman Simalem Resort Eddy Tanoto menyatakan kopi Simalem yang mereka kembangkan saat ini masih jenis Arabika varian Sigarar Utang dan berencana menaman varian Arabika lain seperti Gayo dan Andong Sari. Varian Sigarar Utang ditanam secara organik di areal ketinggian 1.500 m seluas 4 hektare.

Eddy menyebut cita rasa kopi organik yang mereka kembangkan bisa menghasilkan rasa dan karakter yang menakjubkan karena bukan hanya dipengaruhi faktor alamiah seperti ketinggian optimal, tekstur tanah subur alami dan temperature sejuk, namun juga diproses secara profesional mengikuti standar internasional.

“Di kalangan pecinta Specialty Coffee, kopi yang ditanam di dataran tinggi Danau Toba sudah terkenal menghasilkan karakter acidity, aroma, dan flavour yang unik, juga banyak dicari terutama kopi single estate (dari satu kebun) karena karakter rasa dan aroma unik bisa ditelusuri ke estate tersebut,” kata Eddy, Selasa (9/3).

Bupati Karo periode 2016-2021 Terkelin Brahmana menyatakan wilayahnya merupakan salah satu daerah penyangga kawasan wisata Danau Toba yang banyak memproduksi kopi. Beliau menyatakan sampai tahun 2018, luas tanaman kopi di Karo mencapai 9.178,44 hektare dengan produktivitas 1.931,60 kg/hektare/tahun.

Terkelin yakin luas tanaman kopi di Karo bisa bertambah, demikian juga produktivitasnya karena meningkatnya penyuluhan pertanian kopi kepada petani, terutama dengan teknik ramah lingkungan. Bapak Bupati yakin pertumbuhan ini akan diikuti dengan peningkatan kesejahteraan petani.

“Ini menjadi perhatian kita, peningkatan kesejahteraan petani harus jadi prioritas,” kata Terkelin belum lama ini sembari menyebut sekitar 80 persen masyarakat Karo hidup dari sektor pertanian.

Seiring meningkatnya tanaman kopi petani, produksi kopi di Sumatra Utara saat ini cukup meningkat. Berdasarkan data Direktorat Jenderal Perkebunan, produksi kopi di Sumatra Utara terus menunjukkan peningkatan signifikan dalam kurun waktu lima tahun terakhir ini. Tahun 2016 produksi kopi di Sumut hanya 65.926 ton, dan meningkat lebih dari 10 persen hingga 72.922 ton di tahun 2020.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

kopi sumut
Editor : Ajijah

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top