Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Cuaca Panas di Sumbar Masih Berpotensi Hingga Maret 2021

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyampaikan bahwa cuaca panas yang terjadi hampir merata di seluruh daerah di Provinsi Sumatra Barat bakal berlangsung hingga Maret 2021 mendatang.
Noli Hendra
Noli Hendra - Bisnis.com 19 Februari 2021  |  20:27 WIB
Koordinator Bidang Observasi dan Informasi Stasiun BMKG Minangkabau Yudha Nugraha  - Bisnis/Noli Hendra
Koordinator Bidang Observasi dan Informasi Stasiun BMKG Minangkabau Yudha Nugraha - Bisnis/Noli Hendra

Bisnis.com, PADANG - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyampaikan bahwa cuaca panas yang terjadi hampir merata di seluruh daerah di Provinsi Sumatra Barat bakal berlangsung hingga Maret 2021 mendatang.

Koordinator Bidang Observasi dan Informasi Stasiun BMKG Minangkabau Yudha Nugraha menjelaskan dari hasil pemantauan BMKG dalam kurun waktu sejak awal Februari 2021 ini, peluang hujan di wilayah Sumbar sangat rendah terjadi.

"Namun yang cenderung itu adalah cuaca cerah dan cerah berawan, baik itu untuk kondisi siang maupun di malam hari. Dan cuaca ini merata di seluruh wilayah di Sumbar," kata Yudha yang di temui di kantor nya di Stasiun BMKG Minangkabau, Jumat (19/2/2021).

Dia menjelaskan ada penyebab yang membuat cuaca di Sumbar terasa begitu panas sejak Februari 2021 ini. Padahal, di wilayah Pulau Jawa tepatnya di arah Jawa selatan malah diguyur hujan dan hingga menyebab bencana banjir.

Untuk di Sumbar, kendati ada awan hitam yang terlihat akan terjadi turun hujan, namun dengan adanya pola angin musim Asia, sehingga dapat menggeser massa udara ke arah Barat hingga Jawa cenderung dengan intensitas tinggi.

"Di Sumbar ada potensi hujannya, cuma ringan, dan itu pun berlangsung singkat, terutama di waktu malam dan dini hari," sebutnya.

Kini rasa panas yang dirasakan oleh masyarakat serta menyebabkan sejumlah lahan sawah mengering dan debit air di sungai pun berkurang, karena suhu udara di Sumbar berada di angka 33 derajat Celsius.

Menurut Yudha angka suhu udara 33 derajat Celsius itu masih belum mengkhawatirkan. Namun bila suhu udara di angka 35 derajat Celsius, maka dapatkan Sumbar dilanda cuaca panas yang ekstrim.

"Jadi kalau kita lihat kondisi cuaca panas seperti ini masih terjadi hingga 5 pekan ke depan, yang artinya ada peluang hujan turun di pertengahan Maret 2021 atau malah di awal April 2021," jelasnya.

Selain menimbulkan dampak pada kondisi suhu udara yang terasa panas dan gerah, BMKG juga memantau ada terlihat kemunculan 9 titik api yang tersebar di sejumlah daerah di Sumbar, diantaranya Kabupaten Pasaman Barat, Agam, Limapuluh Kota, dan Dharmasraya, serta daerah lainnya.

Namun untuk 9 titik api itu, sejauh ini masih dalam kondisi tingkat kepercayaan yang rendah yakni. Akan tetapi bila masyarakat tidak berhati-hati dalam beraktivitas seperti membakar di kawasan sawah maupun perkebunan, akan sangat berisiko terjadi kebakaran hutan dan lahan.

Untuk itu, BMKG menghimbau kepada masyarakat untuk mewaspadai kondisi cuaca panas yang terjadi hingga Februari ini. Sangat disarankan tidak melakukan kegiatan membakar sampah atau bahkan perkebunan dengan sengaja.

"Bagi masyarakat yang beraktivitas banyak di luar rumah, disarankan pakai pelindung kepala seperti halnya topi. Karena dengan suhu udara 33 derajat celcius ini, bisa membuat kondisi fisik merasa pusing dan bahkan terjadi dehidrasi," ucap Yudha.

Sawah Mengering Akibat Cuaca Panas di Padang

Dinas Pertanian Kota Padang mencatat ada 8 titik sawah yang mengering dengan total luas mencapai ratusan hektar dan kondisi padi yang sudah ditanam.

Kepala Dinas Pertanian Kota Padang Syahrial Kamat menjelaskan 8 titik sawah yang mengering akibat cuaca panas yang berlangsung di Padang itu paling banyak tersebar di Kecamatan Bungus Teluk Kabung.

"Di Bungus Teluk Kabung itu ada 6 sawah yang mengering dan sebagian besarnya sudah ditanami padi," katanya.

Syahrial memaparkan untuk 6 titik sawah yang mengering di Bungus Teluk Kabung itu, diawali dari Kelurahan Bungus Barat dimana di sana luas lahan sawah yang terdampak mencapai 190 hektare, dimana 120 hektare nya sudah ditanami padi.

Lalu di Kelurahan Bungus Selatan, luas sawah yang terdampak 35 hektare dan dari luas itu, seluruh lahan saat ini sudah ditanami. Begitu juga di Kelurahan Teluk Kabung Utara, dimana di sana ada 97,5 hektare lahan yang terdampak, namun hanya sebagian sawah itu yang kini tengah ditanami padi yakni 30,5 hektare.

Lanjut ke Kelurahan Teluk Kabung Selatan meski ada 18 hektare lahan sawah yang terdampak, tapi sawah itu saat ini belum dikelolah oleh petani, artinya masih dibiarkan tidur. Lokasi terakhir di Bungus Teluk Kabung itu, ada di Kelurahan Bungus Timur, di sana ada 10 hektare lahan sawah yang terdampak dan 10 hektare itu saat ini tengah ditanami padi.

"Jadi untuk usia tanam padi di sawah yang kini mengiring itu beragam, mulai dari usia tanam 7 sampai 60 hari. Kita berharap semoga hujan segera turun, dan membasahi sawah yang kering dan kembali bisa dikelola oleh petani," harapnya.

Sedangkan untuk 2 titik lahan sawah yang kering lainnya, juga dirasakan di Kecamatan Nanggalo yakni persis di Kelurahan Tabing Banda Gadang, lahan yang terdampak tidak begitu luas yakni 0,25 hektare saja.

Begitu juga untuk lahan sawah yang ada di Kecamatan Lubuk Kilangan yakni di Kelurahan Koto Lalang sawah yang kering ada seluas 3,5 hektare dan saat ini 3,5 hektare lahan itu sudah ditanami padi, dengan usia tanam berjalan 40 hari. (k56).


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

sumbar
Editor : Ajijah

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top