Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Kejanggalan Pilkada Medan Diungkap, Begini Penjelasannya

Tim pemenangan AMAN meminta semua pihak untuk tidak mempercayai hasil quick count (hitung cepat) yang disiarkan televisi nasional.
Newswire
Newswire - Bisnis.com 13 Desember 2020  |  20:40 WIB
Wakil Ketua Tim Pemenangan AMAN Gelmok Samosir (ketiga kiri) ketika memberikan keterangan pers di Rumah Pemenangan AMAN, Jalan Sudirman, Medan, Ahad (13-12-2020). - Antara/Said
Wakil Ketua Tim Pemenangan AMAN Gelmok Samosir (ketiga kiri) ketika memberikan keterangan pers di Rumah Pemenangan AMAN, Jalan Sudirman, Medan, Ahad (13-12-2020). - Antara/Said

Bisnis.com, MEDAN - Tim Pemenangan Pasangan Calon Wali Kota dan Wakil Wali Kota Medan Akhyar Nasution-Salman Alfarisi (AMAN) mengungkapkan kejanggalan dalam pelaksanaan pemilihan kepala daerah (pilkada) serentak di Kota Medan, 9 Desember lalu.

"Diduga info data lembaga survei yang dimaksud penuh kejanggalan. Indikasi itu terlihat dari selisih kemenangan paslon nomor urut 02 atas paslon nomor urut 01 ditayangkan sejak awal terus bergerak menjauh hingga melewati 10 persen. Padahal, faktanya selisih keduanya sangat tipis dan belum diketahui pemenangnya," kata Wakil Ketua Tim Pemenangan AMAN Gelmok Samosir di Medan, Minggu (13/12/2020).

Pernyataan tersebut dikeluarkannya sebagai poin pertama atas pernyataan sikap tim pemenangan AMAN sehingga meminta semua pihak untuk tidak mempercayai hasil quick count (hitung cepat) yang disiarkan televisi nasional. Menurut dia, hal ini menggiring opini terhadap kemenangan paslon tertentu di Pilkada Medan.

Hingga kini, tim AMAN menunggu hasil resmi dalam rapat pleno Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Medan pada tanggal 15—17 Desember mendatang. Setelah itu, pihaknya mengeluarkan sikap atas hasil pengumuman tersebut.

Saat ini, kata dia, tim advokasi yang dibantu tim hukum serta sukarelawan menginventarisasi seluruh temuan akibat pelanggaran pilkada maupun kejahatan pilkada yang diduga dilakukan secara terstrukur, sistemik, dan masif melibatkan aparatur serta dugaan mobilisasi kepala lingkungan, dan organisasi kemasyarakatan pemuda dalam membagi-bagi beras atau sembako.

"Bahkan, diduga uang untuk memilih paslon tertentu," katanya mengungkapkan.

Ia mengaku bahwa pihaknya juga menemukan adanya indikasi kuat kesengajaan tidak disalurkannya surat undangan pemilih C6 sehingga banyak warga yang gagal dalam menggunakan hak pilihnya. Hal ini ditandai dengan rendahnya pemilih datang ke tempat pemungutan suara (TPS).

Tim AMAN juga menjumpai keganjilan di sejumlah TPS yang dimenangi oleh paslon nomor urut 02 dengan jumlah kehadiran pemilih mencapai angka 100 persen, padahal rata-rata pemilih di Pilkada Medan cuma sekitar 40 persen.

"Kami membuka posko pengaduan pelanggaran kecurangan, bahkan dugaan kejahatan sepanjang sosialisasi hingga hari kampanye, baik berupa foto, rekaman video, maupun kesaksian siapa saja yang ingin berkontribusi menciptakan pilkada yang sehat dan bermartabat," kata Gelmok.

KPU Kota Medan menetapkan paslon Akhyar Nasution-Salman Alfarisi yang didukung PKS dan Demokrat mendapat nomor urut 01, sedangkan Bobby Nasution-Aulia Rachman diusung PDIP, Gerindra, Golkar, NasDem, PAN, PPP, Hanura, dan PSI mendapat nomor urut 02.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

medan sumut Pilkada Serentak bobby nasution

Sumber : Antara

Editor : Miftahul Ulum

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top