Ekonomi Riau Kuartal III/2020 Membaik, Meski Turun 1,67 Persen

Kalau dibandingkan triwulan II/2020, ternyata perekonomian Riau mengalami perbaikan sebesar 5,78 persen.
Petugas kasir mengenakan alat pelindung diri berupa masker, face shield, dan sarung tangan ketika melayani pembeli di salah satu gerai penjualan kebutuhan pokok di Mal Pekanbaru, Riau, Selasa (13/10/2020). /ANTARA
Petugas kasir mengenakan alat pelindung diri berupa masker, face shield, dan sarung tangan ketika melayani pembeli di salah satu gerai penjualan kebutuhan pokok di Mal Pekanbaru, Riau, Selasa (13/10/2020). /ANTARA

Bisnis.com, PEKANBARU — Pertumbuhan ekonomi Riau kuartal III tahun 2020 mulai membaik meski turun 1,67 persen dibandingkan tahun lalu (year on year/yoy). Dibandingkan kuartal II/2020, pertumbuhan mencapai 5,78 persen.

Kepala BPS Riau Misfaruddin mengatakan jika dilihat pertumbuhan ekonomi Riau dari Januari sampai dengan kuartal III 2020, ekonomi Riau tanpa migas tumbuh positif sebesar 0.11 persen. Namun jika dihitung dengan migas, masih terkontraksi 0,91 persen.

“Kalau dibandingkan triwulan II/2020, ternyata perekonomian Riau mengalami perbaikan sebesar 5,78 persen,” kata Misfaruddin dalam keterangan secara virtual, Kamis (5/11/2020).

Misfaruddin melanjutkan setelah pencabutan PSBB beberapa lapangan usaha tercatat tumbuh cukup tinggi dibanding kuartal II sebelumnya. Jasa perusahaan mulai tumbuh 39,10 persen, penyediaan akomodasi dan makan minum 35,45 persen dan jasa lainnya 26.35 persen. Sedangkan tiga terendah yaitu pengadaan listrik dan gas sebesar 1.78 persen, pengadaan air turun 2,05 persen, terakhir pertambangan dan penggalian turun 3,63 persen.

Sementara dibandingkan tahun lalu, kenaikan tertinggi yaitu jasa kesehatan sebesar 18,52 persen, pengadaan listrik dan gas 12,79 persen serta informasi dan komunikasi 12,09 persen. Tiga terendah yaitu jasa perusahaan turun 29,23 persen, jasa lainnya turun 28,96 persen serta transportasi dan pergudangan turun 24,83 persen.

Sumber kontraksi ekonomi terbesar Provinsi Riau menurut lapangan usaha adalah Pertambangan & Penggalian sebesar 1,33 persen dan Perdagangan Besar & Eceran, dan Reparasi Mobil & Sepeda Motor sebesar 1,25 persen, dari kontraksi ekonomi total 1,67 persen.

Sedangkan menurut pengeluaran, Konsumsi Pemerintah sebesar 0,62 persen dan Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga sebesar 0,57 persen dari kontraksi ekonomi total 1,67 persen.

“Meskipun industri pengolahan dan pertanian, kehutanan dan perikanan tumbuh, ekonomi Riau masih mengalami kontraksi,” tambahnya.

Struktur PDRB terbesar Riau berasal dari industri pengolahan sebesar 28,74 persen. Sayangnya, pertumbuhan pada kuartal III ini hanya 1,49 persen. Namun, ditopang dari sektor pertanian, kehutanan dan perikanan (terbesar kedua) yang tumbuh 3,95 persen.

Sedangkan dari segi struktur, pertambangan dan penggalian serta perdagangan dan reparasi yang cukup besar malah mengalami kontraksi yang dalam masing-masing turun 8.09 persen dan 13,00 persen.

Misfaruddin paparkan ekonomi Riau terbesar ke-6 di Indonesia dan terbesar ke-2 di luar Pulau Jawa setelah Sumatra Utara. Sementara kontribusi PDRB Riau secara nasional mencapai 4,70 persen.

PDRB Riau Atas Dasar Harga Konstan (ADHK) pada kuartal III/2020 sebesar Rp107,76 triliun. Kemudian PDRB Atas Dasar Harga Berlaku (ADHB) periode yang sama mencapai Rp187,48 triliun. Kondisi ekonomi Riau masih lebih baik dari pertumbuhan nasional. Pada kuartal III/2020, ekonomi Indonesia minus 3,49 persen dibanding tahun lalu. (K42)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel


Penulis : Eko Permadi
Editor : Miftahul Ulum

Topik

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper