Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Masa Pandemi, Perdagangan Riau Bergantung Kondisi China dan India

Riau mengandalkan sektor ekspor CPO dan minyak mentah.
Eko Permadi
Eko Permadi - Bisnis.com 12 September 2020  |  08:43 WIB
Ilustrasi. - Bisnis/Arief Hermawan P.
Ilustrasi. - Bisnis/Arief Hermawan P.

Bisnis.com, PEKANBARU – Aktivitas perdagangan Riau sangat bergantung dengan kondisi India dan China terutama di masa pandemi Covid-19. Sektor unggulan seperti Crude Palm Oil (CPO), bubur kertas dan minyak mentah dapat terganggu jika permintaan dari negara tersebut berkurang.

Ekonom Universitas Riau, Dahlan Tampubolon menjelaskan kondisi ekonomi global pada kuartal II/2020 ada beberapa negara yang berhasil menaikkan ekonominya. China pada kuartal I minus 6,8 persen kemudian tumbuh di kuartal II menjadi 3,2 persen. Begitu juga dengan Vietnam pada kuartal I tumbuh 3,8 persen lalu kuartal II tetap positif 0.4 persen walau menurun. India yang minus terkoreksi dalam.

Risiko diambil beberapa negara untuk lockdown yaitu ekonomi turun dengan berharap penyebaran virus Covid-19 juga turun.

“Ini mengawatirkan, Indonesia tidak lockdown, ekonominya juga minus. Mirip-mirip Filipina,” kata Dahlan kepada Bisnis, Kamis (10/9/2020).

Kondisi global ini menurutnya memberi dampak besar terhadap ekonomi Riau yang tengah mengahadapi pandemi Covid-19. Lantaran Riau mengandalkan sektor ekspor CPO dan minyak mentah.

Dia merujuk data Bloomberg perkembangan harga komoditas global sampai 18 Agustus 2020 menunjukkan harga CPO masih tumbuh 17,7 persen dibanding tahun lalu (yoy). Begitu juga minyak mentah (brent) berada di posisi 41,5 USD/barel. Sementara komoditas global lain seperti tembaga (-5 persen), karet (-11,4 persen), nikel (-7,9 persen), timah (-10,9 persen) aluminium (-8,7 persen) kopi (tumbuh 2,3 persen).

“Orang Riau lihat angka ini pasti senyum-senyum,” tambahnya.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik Provinsi Riau aktivitas Ekspor dan Impor non migas Riau pada Januari sampai Juli 2020 masih didominasi China dan India. Jumlah ekspor ke China sebanyak US$1,06 miliar atau 15,15 persen, kemudian India US$1,03 miliar atau 14,59 persen.

Negara jiran seperti Singapura dan Malaysia malah tidak berdampak banyak ke aktivitas perdagangan Riau meski berada dekat secara teritori. Nilai ekspor non migas ke Malaysia sebesar US$307,44 juta (4,37 persen) dan Singapura US$280 juta (3,99 persen)

Jenis ekspor menurut Harmonized System dua digit, komoditas lemak dan minyak hewani yang berasal dari CPO mencatatkan nilai US$4,23 miliar atau sekitar 60,25 persen terhadap keseluruhan ekspor. Kemudian kertas dan karton sebanyak US$956 juta atau 13,60 persen, bubur karyu US$725 ribu. Sedangkan dari sektor migas menyumbang US$187 juta.

Perdagangan CPO yang tumbuh positif menyebabkan kerek harga Tanda Buah Segar di tingkat petani. Dinas Perkebunan Provinsi Riau menetapkan untuk harga dari 9 sampai 15 September 2020, TBS mencapai Rp2,046,48 per kg.

Kenaikan harga TBS tersebut lantaran perminataan pasar India kemungkinan karena festival Deepwali pada pertengahan November nanti serta impor China yang diperkirakan naik bulan ini.(K42)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

riau minyak sawit
Editor : Miftahul Ulum
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top