Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Riau Impor 40.000 Ton Ubi Kayu untuk Kebutuhan Industri

Perlu ada sentra-sentra ubi kayu sekaligus pabrik tapioka guna menutupi impor pati ubi kayu kebutuhan dari industri bubur kertas.
Eko Permadi
Eko Permadi - Bisnis.com 07 September 2020  |  20:36 WIB
Pekerja memanen singkong sebagai bahan baku tepung tapioka. - Antara/Prasetia Fauzani
Pekerja memanen singkong sebagai bahan baku tepung tapioka. - Antara/Prasetia Fauzani

Bisnis.com, PEKANBARU — Catatan perdagangan luar negeri Provinsi Riau selama 2019 menyebutkan jumlah impor pati ubi kayu sebanyak 40.000 ton untuk kebutuhan industri pulp and paper dengan nilai mencapai Rp250 miliar.

Asosiasi Pengusaha Indonesia Provinsi Riau mendorong pemerintah daerah untuk menumbuhkan sentra-sentra ubi kayu sekaligus pabrik tapioka guna menutupi impor pati ubi kayu kebutuhan dari industri bubur kertas.

“Perlu perhatian Pemprov sehingga diciptakan petani-petani baru di luar sawit, karet dan palawija. Sehingga petani ini bisa memenuhi suplai alternatif kebutuhan industri,” kata Ketua DPP Apindo Riau, Wijatmoko Rah Trisno kepada Bisnis, Senin (7/9/2020).

Dorongan Pemprov Riau seperti memberikan stimulus, subsidi dan program menumbuhkan sentra ubi kayu tersebut tentunya terus dipantau sehingga syarat yang dibutuhkan industri bisa terpenuhi. Jika diserahkan saja ke individu-individu petani hasilnya takkan mungkin terjadi.

Badan Pusat Statistik Riau mencatat dalam statistik Perdagangan Luar Negeri Provinsi Riau tahun 2019 permintaan impor pati ubi kayu atau dalam kode 11081400 pada Harmonized System 2017 manioc (cassava) starch sebesar 40.252 kg dengan nilai tranksaksi US$17.856.

Wijatmoko melanjutkan pati ubi kayu ini menjadi bahan pengelem kertas belum dapat dipenuhi pasar dalam negeri. Sampai hari ini, salah satu pemasok ubi kayu dan tapioka terbesar itu dari Lampung.

Lampung dan sedikit ada di Riau hanya mampu menutupi sebagian dari konsumsi masyarakat dalam negeri. Sementara kebutuhan tapioka untuk industri belum terpenuhi sama sekali. Artinya kebutuhan industri murni masih impor.

Dia menyaratkan tiga hal yang harus dipenuhi pemerintah dan petani jika ingin memenuhi pasar industri pengolahan kertas. Harga bersaing, kualitas yang sesuai dengan kebutuhan perusahaan dan yang paling penting adalah produksi berkelanjutan. Jika syarat ini dipenuhi perusahaan bersedia menerima daripada harus mengimpor ubi kayu dari luar negeri.

“Saat ini, ubi kayu asal negara Thailand dan Vietnam, lebih dahulu bisa menjamin tiga syarat tersebut seperti yang diinginkan industri,” tambah Wijatmoko.

Menurut Wijatmoko kondisi persoalan perusahaan pulp and paper di Riau dalam memenuhi kebutuhan tapioka melakukan impor dari Thailand dan Vietnam, bisa dijadikan alternatif pertumbuhan ekonomi Provinsi Riau dengan menciptakan sentra-sentra ubi kayu yang ditunjang industri tapioka. Diharapkan tercapai produksi yang berkualitas, harga yang bersaing dan produk berkelanjutan yang dapat dipertanggung jawabkan.

“Kalau tiga ini bisa dicapai maka Riau bisa mendapatkan pertumbuhan ekonomi baru dan tidak membuang uang untuk mendanai impor,” tutupnya.(K42)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

riau pertanian PABRIK TAPIOKA
Editor : Miftahul Ulum
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top