Ekspor Urea Sumsel Meningkat di Tengah Pelemahan Perdagangan

Ekspor pupuk urea dari Sumatra Selatan tercatat meningkat pada Februari 2020 di tengah melemahnya kinerja ekspor komoditas lain dari provinsi itu.
Dinda Wulandari
Dinda Wulandari - Bisnis.com 16 Maret 2020  |  16:37 WIB
Ekspor Urea Sumsel Meningkat di Tengah Pelemahan Perdagangan
Pupuk urea - Antara

Bisnis.com, PALEMBANG - Ekspor pupuk urea dari Sumatra Selatan tercatat meningkat pada Februari 2020 di tengah melemahnya kinerja ekspor komoditas lain dari provinsi itu.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Sumsel, ekspor urea pada Februari 2020 mencapai US$3,58 juta atau naik 1,31 persen dibandingkan bulan sebelumnya yang senilai US$2,27 juta.

Kepala BPS Sumsel Endang Tri Wahyuningsih mengatakan masih terdapat beberapa komoditas yang menorehkan kenaikan ekspor.

“Urea naik, amonia anhidrat juga naik. Selain itu, karet yang merupakan komoditas dengan share tertinggi untuk ekspor Sumsel juga masih meningkat,” katanya, Senin (16/3/2020).

Namun demikian, kata dia, peningkatan ketiga komoditas tersebut tidak dapat menahan laju penurunan ekspor Sumsel secara keseluruhan. Pasalnya, 7 komoditas andalan lainnya mengalami penurunan pada bulan lalu.

Terpisah, Plt Manager Humas PT Pupuk Sriwidjaja (Pusri) Palembang, Sungging Lasuardi, mengatakan ekspor urea yang diproduksi perusahaan sejauh ini tidak terdampak virus Corona.

“Baik komoditas urea maupun amoniak tidak terlalu terpengaruh Corona. Justru realisasi ekspornya meningkat selama dua bulan terakhir,” katanya kepada Bisnis.

Diketahui, Pusri merupakan satu-satunya produsen pupuk yang beroperasi di Sumsel. Selain memproduksi pupuk untuk kebutuhan dalam negeri, perusahaan pelat merah itu juga mengekspor produknya ke sejumlah negara.

Sungging mengatakan ekspor urea pada Februari 2020 sebanyak 15.280,47 metrik ton (MT). Jumlah tersebut naik hingga 59 persen dibandingkan Januari yang sebanyak 9.516,79 MT.

“Tujuan ekspor kami sebagian besar ke Asia Tenggara. Ada juga yang ke Afrika Selatan, Australia, Korea Selatan dan Taiwan,” katanya.

Sebelumnya, Kepala Bank Indonesia Perwakilan Sumsel Hari Widodo mengatakan China memang tidak termasuk dalam tujuan ekspor industri pupuk.

“Jadi jalur perdagangan pupuk tidak terdampak langsung. Bahan bakunya pun kalau kita lihat diimpor dari Rusia, Laos dan Australia sehingga secara umum masih aman,” ujarnya.

Menurut Hari, selama ini China justru menguasai pangsa pasar pupuk urea di Asia hingga 60 persen. 

“Kalau China sedang mengalami ini [pelemahan perdagangan], bisa jadi ini peluang bagi Indonesia untuk mengisinya,” katanya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
pupuk, urea, EKONOMI SUMSEL

Editor : Sutarno
KOMENTAR


Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top