Jajan Pempek Rp1.000 Hingga Santap Pindang di Tepi Sungai Musi

Wisatawan tetap mencari penanganan tradisional yang lekat dengan citra kota itu, salah satunya pempek.
Dinda Wulandari
Dinda Wulandari - Bisnis.com 05 Oktober 2019  |  06:09 WIB
Jajan Pempek Rp1.000 Hingga Santap Pindang di Tepi Sungai Musi
Pempek Palembang. - Bisnis/Dinda Wulandari

Bisnis.com, PALEMBANG — Kota Palembang identik dengan wisata kuliner. Di tengah gempuran restoran dan warung kopi modern yang buka hampir di setiap sudut kota, wong kito maupun wisatawan tetap mencari penanganan tradisional yang lekat dengan citra kota itu, salah satunya pempek.

Tak susah memang mencari pempek, meski tren dunia kuliner belakangan ini dijejali kedai-kedai kopi tetapi pelaku usaha kuliner tetap mengupayakan pempek tersaji di dalam menu. Namun, jika Anda ingin menyicipi aneka pempek khas Palembang dengan harga terjangkau tak ada salahnya bertandang ke Sentra Kuliner Pempek 26 Ilir Palembang.

Ketika berkunjung ke sentra pempek tersebut, kita akan melihat gapura bertuliskan “Sentra Kampung Pempek ” papan nama itu menggantikan identitas kawasan tersebut yang sebelumnya sempat menjadi “Sentra Kerajinan Kasur” yang juga menjadi identitas kerajinan khas Palembang. Namun, popularitas pempek di jalan yang mengarah ke Pasar 26 Ilir itu ternyata lebih kuat ketimbang kerajinan kasur sehingga tak pelak pengunjung lebih mengenal kawasan itu sebagai Kampung Pempek.

Di kampung pempek itu terdapat sekitar 10-15 kios yang menjual pempek. Pempek lenjer, pempek telur, pempek keriting, pempek adaan, pempek kulit terpampang di setiap etalase warung, sehingga memudahkan pengunjung memilih jenis pempek mana yang akan disantap.

Untuk menuju Sentra Pempek 26 Ilir Palembang tidak sulit, melalui Google Maps pengunjung dapat mengetik Sentral Kampung Pempek Palembang dan peta perjalanan daring itu akan mengarahkan ke lokasi yang berjarak sekitar 300 meter dari Kantor Wali Kota Palembang.

Kampung pempek terkenal dengan harga yang ramah di kantong untuk makanan olahan ikan sungai tersebut. Sehingga tak heran banyak wisatawan membeli pempek di kawasan itu sebagai oleh-oleh untuk dibawa pulang.

Dwinta Maulani, misalnya. Wisatawan asal Kabupaten Aceh Tamiang, Provinsi D.I Aceh tersebut menyempatkan diri berkunjung ke Kampung Pempek saat hari terakhirnya di Kota Palembang.

“Sanak keluarga saya yang tinggal di Palembang merekomendasikan beli pempek di sini untuk oleh-oleh karena lebih murah, jadi bisa beli banyak,” katanya.

Diketahui, penjual membanderol Rp1.000 per buah pempek, sementara jika membeli pempek di restoran ternama harga dipatok mulai Rp4.000 per buah.

Soal rasa, Dwinta mengaku sama seperti pempek yang pernah ia cicip dari berbagai merek. Baginya, yang penting ada cuko, saus cocolan untuk pempek, untuk melengkapi sajian tersebut.

Kepala Dinas Pariwisata Kota Palembang Isnaini Madani mengatakan Pemkot Palembang terus mendorong pengembangan wisata kuliner di kota itu.

“Pasar Pempek 26 Ilir menjadi salah satu andalan wisata kuliner yang kami tonjolkan sebagai destinasi bagi wisatawan yang berkunjung ke Palembang,” katanya.

Isnaini menambahkan sebetulnya pihaknya telah mengembangkan beberapa spot kuliner lain yang layak dikunjungi penikmat makanan sembari berwisata.

“Palembang juga punya sentra durian di Pasar Kuto, Lorong Basah Night Market dan pusat kuliner lainnya,” katanya.

Pindang Tepi Sungai Musi

Selain pempek, Palembang juga memiliki ragam kekayaan kuliner khas lainnya, salah satunya pindang. Pindang merupakan makanan olahan ikan yang disajikan berkuah layaknya tom yum dari Thailand.

Pindang ikan biasanya menggunakan ikan sungai, seperti patin, baung dan gabus. Cita rasa asam dan pedas mengalir di mulut begitu kita mencecap kuah pindang.

Jika ingin merasakan menyantap pindang sembari menikmati pemandangan Sungai Musi dan Jembatan Ampera, yang menjadi ikon Kota Palembang, tak ada salahnya mampir ke warung makan terapung di tepian Sungai Musi.

Terletak di belakang halte Trans Musi Pasar 16 Ilir, pengunjung dapat menuju terminal speed boat. Di ujung kawasan itu terdapat sekitar tiga sampai empat rumah makan terapung yang menyajikan menu masakan khas Palembang. Bentuk rumah makan tersebut menyerupai perahu yang terbuat dari kayu. Di dalamnya telah tersedia kursi dan meja makan sebagai fasilitas bagi pengunjung warung yang hendak menyantap makan siang dengan lauk andalan, pindang ikan.

Wardila, 54 tahun, merupakan salah satu pemilik Rumah Makan Terapung Mbok War, berujar,"Sudah 15 tahun membuka warung makan ini. Pindang yang kami sajikan adalah Pindang Pegagan asli Muara Penimbung, Kabupaten Ogan Ilir (OI)."

Wardila yang akrab disapa Mbok War itu mengaku dalam sehari bisa menjual 300 porsi pindang ikan. Menu favorit pengunjung, kata dia, adalah pindang ikan baung.

Adapun harga jual pindang bervariasi mulai dari Rp20.000 hingga Rp40.000 per porsi. Sementara jam operasional warung makan mulai dari pukul 06.30 WIB sampai pukul 15.00 WIB.

“Kami tidak buka sampai malam karena menyesuaikan dengan jadwal keberangkatan dan kedatangan speed [perahu bermesin] di sini. Jadi jadwal speed terakhir itu berangkat pukul 15.00 WIB setelahnya di lokasi ini sepi,” katanya.

Satu hal yang menjadi ciri khas ketika makan pindang di warung terapung, selain bisa mengintip Jembatan Ampera yang berdiri kokoh di Sungai Musi dari balik jendela rumah kayu itu, sensasi lain adalah makan sembari badan bergoyang mengikuti riak air. Tentu saja pengalaman tersebut tidak bisa kita dapatkan saat menyantap pindang di restoran biasa.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
palembang, Features

Editor : Miftahul Ulum
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top