Investasi di KEK Sei Mangke Dinilai Belum Efektif

Investasi di KEK Sei Mangke Dinilai Belum Efektif
Asteria Desi Kartika Sari
Asteria Desi Kartika Sari - Bisnis.com 27 September 2019  |  16:44 WIB
Investasi di KEK Sei Mangke Dinilai Belum Efektif
KEK Sei Mangkei di Simalungun, Sumatra Utara. - Antara/Muhammad Syafii

Bisnis.com, MEDAN-- Regional Ekonom dan Dosen Fakultas Ekonomi Bisnis Universitas Sumatra Utara (USU) Wahyu Ario Pratomo, menilai sampai saat ini Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Sei Mangkei masih belum tampak keefektifannya.

Wahyu menegaskan investasi dapat terlaksana jika sarana pendukung telah tersedia. Dia menilai saat ini sejumlah sarana dan prasarana pendukung seperti jalan, jalur kereta api, pelabuan baru saja selesai. Tak hanya itu, pembangunan energi juga tengah disiapkan.

“Hal ini sudah positif, namun tetap diperlukan waktu untuk meyakinkan investor agar siap melakukan investasi. Keterbatasan jaminan bahan baku dan pasar menjadi pertimbangan investor,” jelas Wahyu kepada Bisnis dikutip Jumat (27/9/2019).

Wahyu berharap pemerintah dan badan pengelola dapat meyakinkan investor terkait fasilitas yang diperoleh di kawasan ekonomi khusus, termasuk dengan insentif skema perpajakan. Ia mengingatkan saat ini Indonesia menghadapi persaingan yang ketat dalam mengundang investor asing. Jadi, pemerintah perlu memberlakukan pembebasan pajak (tax holiday) bagi investor asing.

Direktur Perwilayahan Industri Direktorat Jenderal Ketahanan, Perwilayahan dan Akses Industri Internasional (KPAII) Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Ignatius Warsito mengatakan Sumatra Utara menjadi salah satu wilayah yang akan dijadikan pusat pertumbuhan industri.

Menurutnya, hal tersebut perlu dilakukan sebagai salah satu cara dalam mempercepat penyebaran dan pemerataan pusat pertumbuhan industri, melalui pengembangan kawasan industri yang berbasis hilirisasi SDA, seperti kelapa sawit, karet, dan periakanan.

Kendati begitu, lanjut Warsito, dia menilai dari segi infrastruktur di Sumut saat ini memang belum optimal untuk menuju hilirisasi. Dalam rangka pendalaman struktur industri Sumut dan nilai tambah industri, perlu ditinjau pemanfaataan intermoda, seperti percepatan konektivitas jalan tol, jalur kereta api maupun pelabuhan dengan kawasan industri.

“Ini perlu dipercepatan. Sumut membutuhkan penguatan konektivitas dan nilai tambah di pusat-pusat pertumbuhan industri,” katanya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
sumut

Editor : Andhika Anggoro Wening

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top