Gubernur Sumsel Beri Tenggat Seminggu Tim Investigasi Kasus Korban MOS

Gubernur Sumatra Selatan memberi tenggat waktu satu minggu untuk tim investigasi untuk menuntaskan kasus yang menyebabkan dua orang siswa meninggal dunia saat mengikuti masa orientasi sekolah atau MOS di Sekolah Taruna Indonesia Palembang.
Dinda Wulandari
Dinda Wulandari - Bisnis.com 22 Juli 2019  |  14:44 WIB
Gubernur Sumsel Beri Tenggat Seminggu Tim Investigasi Kasus Korban MOS
Ilustrasi sejumlah siswa baru mengikuti apel MOS - Antara/Aditya Pradana Putra

Bisnis.com, PALEMBANG – Gubernur Sumatra Selatan memberi tenggat waktu satu minggu untuk tim investigasi untuk  menuntaskan kasus yang menyebabkan dua orang siswa meninggal dunia saat mengikuti masa orientasi sekolah atau MOS di Sekolah Taruna Indonesia Palembang.

Gubernur Sumsel Herman Deru mengatakan dirinya tak ingin kejadian semakin berlarut dan kembali berulang sehingga membentuk tim investigasi tersebut.

Deru meyakinkan kepada masyarakat dan keluarga bahwa pemerintah tidak akan tinggal diam atas kejadian yang merenggut korban jiwa tersebut.

“Maka untuk proses hukum itu akan terus saya giring sedemikian rupa sehingga pihak kepolisian dapat segera mengembangkan apa yang sudah ditetapkan kemarin,” katanya, Senin (22/7/2019).

Dia mengatakan tim investigasi itu terdiri dari orang tua, dewan Pendidikan kota, dewan Pendidikan provinsi yang berjumlah total 9 orang dan diketuai oleh Kepala Dinas Pendidikan Sumsel Widodo.

Menurut Deru, tim investigasi itu bertugas untuk mengungkap untuk secara detail alasan oknum melakukan tindakan tersebut, apakah memang ada prosedur yang memang dibuat oleh lembaga.

“Kita sedang turunkan timnya mudah-mudahan dalam waktu dekat akan dapat menyimpulkan. Kalau ini kesalahan lembaga maka kita akan berikan sanksi yang setimpal. Segera Saya kasih waktu seminggu saja tim ini untuk bekerja mulai Senin ini,” jelasnya.

Dia memaparkan sesuai keterangan pihak kepolisian ada satu sebagai tersangka karyawan dari Sekolah Taruna Indonesia tersebut.

Gubernur mengemukakan jika persoalan ini merupakan kesalahan oknum maka ia serahkan hukumnya berjalan dan ditegakan seadil-adilnya kepada penegak hukum baik itu kepolisian maupun kejaksaan. 

Dia berharap kejadian ini menjadi pelajaran bagi seluruh penyelenggara pendidikan bahwa untuk menuntut kedisiplinan siswa tidak juga harus dengan kekerasan. 

Sedangkan untuk Dinas Pendidikan Provinsi Sumsel ia menghimbau agar masa orientasi siswa itu seluruh format nya diubah. 

“Kemudian kepada orang tua sebelum mendaftarkan anak-anak ini cari tahu dulu sekolah yang dituju anak-anak, jangan sampai terhanyut karena namanya, gedungnya tapi bagaimana cara mereka memperlakukan peserta didik,” katanya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
sumsel, sekolah

Editor : Rustam Agus

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top