Stabilkan Harga CPO, Indonesia Harus Punya Pasar Baru

Fluktuasi harga minyak kelapa sawit terus menjadi perhatian khusus. Apalagi minyak kelapa sawit menjadi salah satu harapan untuk meningkatkan kehidupan massyarakat di Sumatra Utara.
Asteria Desi Kartika Sari
Asteria Desi Kartika Sari - Bisnis.com 16 Juli 2019  |  16:52 WIB

Bisnis.com, MEDAN- Fluktuasi harga minyak kelapa sawit terus menjadi perhatian khusus. Apalagi minyak kelapa sawit menjadi salah satu harapan untuk meningkatkan kehidupan massyarakat di Sumatra Utara.

Sekretaris Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Sumut, Timbas Prasad Ginting mengatakan produksi CPO sebenarnya masih mengalami permintaan kendati permintaan yang masih sedikit.

Bahkan, dalam beberapa bulan terakhir tren harga CPO cenderung menurun.

Dia menjelaskan pada 19 Juni harga CPO diangka Rp6516,48, sementara harga Tandan Buah Segar (TBS) Sawit dilevel Rp1396,19. Sementara pada 26 Juni kembali turun menjadi Rp6370,34 dengan TBS Rp1354. Sementara tanggal 3 Juli CPO dihargai Rp 6300,16 dan TBS senilai Rp1.341,28.

Menurutnya, faktor penurunan harga CPO ini disebabkan perdagangan yang sedang lesu.Guna mengatasi hal tersebut, dia berharapIndonesia mencari pangsa pasar baru.

"Pangsa pasar CPO itu paling besar ke India, China, Pakistan lalu Eropa. Kita harus mencari pasar baru untuk CPO ke Afrika, Rusia, Timur Tengah dan lain-lain,” katanya Selasa (16/7/2019).

Selain itu. Dia melanjutnya sebaiknya pemerintah mengeluarkan regulasi untuk meningkatkan pemakaian biofuel di Indonesia. Atau ditambah pemakaian biodiesel di dalam negeri untuk meningkatkan pemakaian dalam negeri.

“PLN itu supaya memakai diesel berapa juta ton bisa diserap dan kapal-kapal bisa memakai itu B20," jelasnya.

Timbas menanmbahkan harga TBS di bawah 50%, dan harga tersebut bisa rendahkarena mutu buah yang rendah. Selain itu mereka (petani) masih menjual sawit kepada tengkulak.

Menurutnya, petani sebaiknya memiliki suatu wadah atau koperasi, sehingga para petani dapat berkoordinasi secara langsung atau dapat bermitra dengan pabrik. Tak hanya itu, petani juga akan mendapatkan pembinaan sehingga dapat mengembangkan perkebunan dengan bauk.

"Untuk meningkatkan produktivitas perkebunan kelapa sawit rakyat, Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) juga memberi dana hibah, untuk sawit yang sudah tua mendapat Rp 25 juta per hektar. Jadi maksimal ada empat hektar dapat Rp 100 juta dan harus replanting dengan pengawasan," ujarnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
sumut, harga cpo

Editor : Rustam Agus

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top