Ekonomi Sumut Masih Stabil, Meski Inflasi Tinggi

Secara historis, pertumbuhan kuarter pertama merupakan yang tertinggi sejak 2014. Saat ini, Sumut memiliki pangsa terbesar di seluruh Pulau Sumatra melebihi Provinsi Riau.
Asteria Desi Kartika Sari
Asteria Desi Kartika Sari - Bisnis.com 09 Juli 2019  |  11:47 WIB
Ekonomi Sumut Masih Stabil, Meski Inflasi Tinggi
Foto udara pembangunan jalan tol ruas Medan-Binjai yang merupakan bagian dari Tol Trans Sumatra di Deli Serdang, Sumatra Utara, Rabu (6/3/2019). - Bisnis/Abdullah Azzam

Bisnis.com, MEDAN — Pertumbuhan ekonomi Sumatra Utara tercatat 5,30 persen (yoy) pada triwulan I 2019 dibandingkan dengan triwulan IV 2018. Perekonomian didorong oleh konsumsi pemerintah sejalan dengan realisasi bantuan sosial dan belanja barang.

Secara historis, pertumbuhan kuarter pertama merupakan yang tertinggi sejak 2014. Saat ini, Sumut memiliki pangsa terbesar di seluruh Pulau Sumatra melebihi Provinsi Riau.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Sumatra Utara (Sumut) Wiwiek Sisto Widayat mengatakan  meski terjadi pertumbuhan di atas nasional, tetapi terjadi  pelemahan tren dibandingkan dengan 5 tahun sebelumnya.

Peningkatan perekonomian Sumatra Utara didominasi karena dorongan sumber daya alam (SDA).

Dia menambahkan dari sisi lapangan usaha, pertumbuhan  ekonomi dapat terdorong oleh sektor konstruksi sejalan dengan berlanjutnya proyek multiyears serta sektor informasi dan komunikasi seiring dengan persiapan Pilpres dan Pileg 2019.

Kontribusi terbesar saat ini adalah dari bidang pertanian 21 persen, lahan usaha industri 19 persen, perdagangan 19 persen, kontruksi 14 persen, dan usaha bidang Informasi dan Komunikasi sebesar 3 persen.

“Upaya kita mendorong kondisi ini agar tetap bisa tumbuh di atas rata-rata. Ini mapping kita. Saat ini masih bagus dan masih ‘hijau’. Harus cukup berbangga pada ekonomi Sumut,” kata Wiwiek ditemui di Istana Koki, Senin (8/7/2019).

Kendati begitu, terjadi perlambatan konsumsi rumah tangga dan investasi seiring dengan moderasi konsumsi masyarakat pasca momen perayaan Natal dan Tahun Baru, serta realisasi belanja modal pelaku usaha belum maksimal. Sehingga menahan laju pertumbuhan ekonomi lebih lanjut.

Dia menambahkan, agar perekonomian terus mengalami peningkatan, perlu upaya untuk memberi nilai  tambah atau tidak hanya mengandalkan dari bidang pertanian, perkebunan, perdagangan, ataupun kontruksi.

“Kalau cuma mengandalkan bidang pertanian dan perkebunan kita tidak mampu mengerek pertumbuhan ekonomi. Harus mencari sumber pertumbuhan ekonomi yang baru,” lanjutnya.

Apalagi beberapa komoditas andalan ekspor seperti karet, kopi, dan kelapa sawit dapat mengalami permasalahan harga.

Belum lagi, Gubernur Provinsi Sumatra Utara Edy Rahmayadi memiliki misi untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi 6 persen hingga 7 persen. “Namun kita harus realistis karena kondisi ini,” lanjutnya.

Adapun selanjutnya, Bank Indonesia mendorong Provinsi Sumatra Utara untuk meningkatkan perekonomian lini syariah atau membangun kluster komoditi muslim. Pasalnya, menurut Wiwiek bidang tersebut memiliki potensi besar. Misalnya, hal tersebut dapat didorong melalui halal tourism dan busana muslim.

Meski begitu, Sumut masih memiliki pekerjaan rumah yang berat untuk meningkatkan perekonomian. Pasalnya,

inflasi Provinsi Sumatra Utara diproyeksikan lebih tinggi pada 2019 dibandingkan dengan realisasi tahun sebelumnya terdorong oleh keterbatasan pasokan komoditas cabai merah.

Tekanan inflasi di Provinsi Sumatera Utara  masih tinggi pada Juni 2019.Inflasi Sumut Juni 2019 tercatat 1,63 persen, meningkat dibandingkan dengan bulan sebelumnya yang mencapai 1,19 persen (mtm).

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Pertumbuhan Ekonomi, sumut

Editor : M. Taufikul Basari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top