Ekonomi Kepri Diprediksi Tumbuh 5,3 Persen pada Triwulan II 2019

Pertumbuhan ekonomi Kepulauan Riau (Kepri) pada triwulan II-2019 ini diperkirakan meningkat mencapai kisaran 4,9 hingga 5,3 persen (yoy).
Bobi Bani
Bobi Bani - Bisnis.com 24 Mei 2019  |  16:16 WIB
Ekonomi Kepri Diprediksi Tumbuh 5,3 Persen pada Triwulan II 2019
Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Kepri Fadjar Majardi

Bisnis.com, BATAM- Pertumbuhan ekonomi Kepulauan Riau (Kepri) pada triwulan II-2019 ini diperkirakan meningkat mencapai kisaran 4,9 hingga 5,3 persen (yoy).

Dari sisi pengeluaran, pertumbuhan diperkirakan akan disumbang oleh konsumsi rumah tangga yang diperkirakan dapat terus meningkat, seiring dengan membaiknya tingkat pendapatan, terjaganya daya beli, dan membaiknya tingkat keyakinan konsumen.

Sementara dari sisi lapangan usaha, sektor pertambangan dan industri pengolahan diperkirakan akan menjadi motor penggerak pertumbuhan ekonomi Kepri di masa mendatang.

Kinerja konsumsi mengalami perbaikan, dengan konsumsi rumah tangga meningkat mencapai 5,04 persen (yoy) pada pertumbuhan ekonomi triwulan I-2019, dibanding triwulan IV-2018 lalu yang tumbuh sebesar 4,57 persen (yoy). Kinerja konsumsi rumah tangga yang baik didukung inflasi yang terkendali, serta pendapatan masyarakat dan tingkat keyakinan konsumen yang membaik. 

Di sisi lain konsumsi LNPRT (Lembaga Non Profit yang Melayani Rumah Tangga) dan konsumsi pemerintah juga tumbuh meningkat, terdorong oleh adanya kegiatan pemilu dan perbaikan belanja APBD.

Dari sektor lapangan usaha, kinerja pertambangan dan penggalian pada triwulan I-2019 tumbuh 9,86 persen (yoy), lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya yang tumbuh sebesar 7,70% (yoy).

Kondisi ini ditopang oleh kenaikan lifting gas alam. Peningkatan juga terjadi pada sektor industri pengolahan yang tercatat tumbuh 5,33 persen (yoy), lebih tinggi dari triwulan sebelumnya 4,80 persen (yoy), terutama didorong oleh peningkatan produk olahan Crude Palm Oil (CPO).

Selain itu, investasi juga diperkirakan kembali meningkat pada triwulan II-2019 terutama mulai pertengahan triwulan, seiring kepastian hasil Pemilu yang mengurangi sikap wait and see. Dari sisi lapangan usaha sendiri, perkembangan investasi ini akan mendorong sektor-sektor utama Kepri yaitu konstruksi dan pedagangan.

“Masalah kepemimpinan BP (Badan Pengusahaan) Batam itu satu hal, faktor pemilu sangat menentukan investasi, ketika hasilnya sudah ada maka sikap wait and see ini akan berkurang. Pemilu itu pengaruhnya secara nasional sangat besar,” kata Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Kepri, Fadjar Majardi.

Prediksi peningkatan ini, lebih tinggi sedikit dari pertumbuhan ekonomi Kepri pada triwulan I-2019 sebesar 4,76 persen. Sementara itu, pertumbuhan pada triwulan I-2019 ini mengalami penurunan jika dibandingkan dengan pertumbuhan ekonomi Kepri pada triwulan IV-2018 sebesar 5,48 persen (yoy). 

Pertumbuhan yang melambat ini tidak terlepas dari pengaruh perilaku wait and see serta yang membuat investasi menurun dan dampak dari perlambatan pertumbuhan ekonomi global.

Pada triwulan I-2019 ini, pertumbuhan investasi di Kepri hanya berada di angka 0.67 persen (yoy), jauh lebih rendah dibanding pada triwulan IV-2018 lalu sebesar 10,23 persen (yoy).

Melambatnya pertumbuhan ekonomi global, terutama penurunan permintaan dari Singapura terhadap komoditas ekspor utama di Kepri, menjadi sebab utama perlambatan ini disamping sikap wait and see menjelang pemilu 2019 lalu.

Akhirnya ekspor luar negeri mengalami kontraksi atau perlambatan sebesar 5,96 persen. Sejalan dengan impor yang juga mengalami kontraksi terutama pada bahan baku dan barang modal sehingga tercatat tumbuh negatif sebesar 26, 28 persen (yoy).

Dari sisi lapangan usaha sendiri, perlambatan pertumbuhan ekonomi pada triwulan I-2019 ini disumbang oleh sektor konstruksi dan perdagangan.

Konstruksi pada triwulan I-2019 melemah menjadi 2,27 persen (yoy) dari pertumbuhan triwulan sebelumnya sebesar 8,06 persen (yoy). Hal itu tercermin dari kredit konstruksi yang tumbuh melambat sebesar 3,5 persen (yoy), lebih rendah dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar 7,02 persen (yoy).

Demikian juga dengan sektor perdagangan, tercatat tumbuh melemah sebesar 4,69 persen (yoy) pada triwulan I-2019, lebih rendah dibandingkan pertumbuhan triwulan sebelumnya sebesar 7,43 persen (yoy).

Perlambatan kinerja perdagangan tidak terlepas dari penurunan kinerja ekspor dan impor serta perlambatan kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) di triwulan 1-2019 ini.

Sementara untuk inflasi sendiri, pada triwulan I-2019 ini sebesar 2,71 persen (yoy), lebih rendah dibanding inflasi triwulan IV 2018 sebesar 3,47 persen (yoy).

Angka tersebut masih terjaga dalam kisaran sasaran inflasi nasional sebesar 3,5 sampai 1 persen (yoy). Penurunan inflasi ini didorong oleh kelompok bahan makanan dan kelompok perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar.

Inflasi kelompok bahan makanan tercatat menurun dari 3,42 persen (yoy) pada triwulan sebelumnya menjadi hanya 0,08 persen (yoy) pada triwulan ini. lnflasi kelompok perumahan juga turun mencapai 0,37 persen (yoy) dari  triwulan sebelumnya sebesar 2,04 persen (yoy).

Perkembangan ini mampu meredam tingginya peningkatan inflasi di kelompok transportasi, komunikasi, dan jasa keuangan yang mencapai 7,04 persen (yoy) dari triwulan sebelumnya sebesar 4.10 persen (yoy).

“Secara spasial, penurunan inf1asi disumbang oleh menurunnya inflasi di Kota Batam yang terutama terdorong oleh def1asi pada kelompok bahan makanan. Sementara inflasi di Kota Tanjungpinang pada triwulan 1-2019 sedikit mengalami peningkatan yang terutama bersumber dari peningkatan inflasi di kelompok transportasi, komunikasi dan jasa keuangan,” kata Fadjar lagi.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Pertumbuhan Ekonomi, kepri

Editor : Rustam Agus

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top