Lima Unit Alat Pendeteksi Gambut di Sumsel Dicuri

Lima unit alat pendeteksi dini kekeringan gambut "sipalaga" di Sumatera Selatan seharga Rp100 juta/unit diduga dicuri oleh oknum tak bertanggung jawab pada tahun 2018.
Newswire | 28 Februari 2019 22:06 WIB
Suasana kebakaran lahan gambut di Desa Lapang, Kecamatan Johan Pahlawan, Aceh Barat, Aceh, Rabu (30/1/2019). - ANTARA/Syifa Yulinnas

Bisnis.com, PALEMBANG – Lima unit alat pendeteksi dini kekeringan gambut "sipalaga" di Sumatera Selatan seharga Rp100 juta/unit diduga dicuri oleh oknum tak bertanggung jawab pada tahun 2018.

Kepala Pokja Edukasi dan Sosialisasi Badan Restorasi Gambut (BRG) Suwignya Utama di Palembang, Kamis (28/2/2019), mengatakan, kondisi ini membuat BRG tidak memasang kembali alat tersebut sementara ini meski menjadi bagian penting dalam Sistem Pemantauan Air Lahan Gambut (Sipalaga).

Alat ini sangat berguna mencegah terjadinya kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di lahan gambut.

"Kejadian ini tidak terjadi di daerah lain. Sebab di Sumsel hilang, jadi tidak ditambah dulu," kata dia.

Suwignya memaparkan alat pendeteksi itu dapat menjangkau kadar kekeringan gambut hingga seluas 30 hektare per unit.

Alat pemantau tinggi muka air itu akan merekam parameter tinggi muka air, kelembaban tanah dan curah hujan per 10 menit dan akan mengirimkan datanya setiap hari ke sistem.

Sementara itu, Deputi Edukasi, Sosialisasi, Partisipasi dan Kemitraan BRG, Myrna A Safitri, mengatakan BRG telah memasang Sipulaga sebanyak 142 alat di tujuh provinsi yang memiliki lahan gambut di Tanah Air.

"Sumsel mendapat 21 alat, sebetulnya kebutuhan kita lebih banyak tetapi karena anggaran terbatas jadi bertahap," ujar dia.

Myrna menjelaskan alat yang terkoneksi dengan sistem teknologi itu menjadi semacam pemantau tinggi muka air di tanah gambut. Saat terdeteksi tinggi mata air sudah rendah maka menjadi peringatan untuk antisipasi karhutla.

BRG bekerja sama dengan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) untuk mengembangkan sistem yang dapat mengukur kelembaban tanah gambut, tingkat curah hujan, suhu dan kelembapan udara serta arah dan kecepatan angin. Ia mengemukakan alat pemantau tersebut 90 persen menggunakan komponen lokal, hanya bagian sensor saja yang diakui BRG masih impor.

Myrna menjelaskan sebetulnya, BRG telah memberikan pelatihan kepada masyarakat setempat untuk memelihara alat pendeteksi tersebut.

"Kami lakukan pendekatan ke masyarakat, baik melalui pelatihan maupun bimtek (bimbingan teknis)," ujar dia.

Pantau terus perkembangan Real Count KPU Pilpres 2019, di sini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
gambut

Sumber : Antara

Editor : Miftahul Ulum

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top
Tutup