Harga Tomat dan Tiket Pesawat Picu Inflasi Sulut 1,84 Persen

Meningkatnya harga makanan terutama tomat sayur dan angkutan udara di Manado turut membuat inflasi pada November melonjak menjadi 1,84%, jauh melebihi inflasi nasional pada bulan tersebut yang hanya 0,27%.
Deandra Syarizka | 03 Desember 2018 18:33 WIB
Tomat - Antara/Wahdi Septiawan

Bisnis.com, MANADO— Meningkatnya harga makanan terutama tomat sayur dan angkutan udara di Manado turut membuat inflasi pada November melonjak menjadi 1,84%, jauh melebihi inflasi nasional pada bulan tersebut yang hanya 0,27%.

Tingkat inflasi tersebut juga menjadi yang tertinggi se-Sulawesi, di mana kota lainnya seperti Palu mencatatkan inflasi 0,83%, Bau-Bau 0,43%, Bulukumba 041%, Makassar hanya 0,3%. Sejumlah kota lainnya seperti Mamuju mengalami deflasi 0,07% dan Pare-Pare 0,09%.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sulawesi Utara Ateng Hartono menjelaskan, dengan inflasi sebesar 1,84% pada November membuat inflasi tahun kalender sebesar 3,03%, dan inflasi year on year sebesar 3,55%.

“Dari inflasi sekitar 1.84% , sebesar 1.61% atau hampir seluruhnya dari kelompok bahan makanan. Selain bahan makanan, penyumbang terbesar kedua adalah transportasi dan komunikasi,” ujarnya Senin (3/12/2018).

Lebih lanjut dia memerinci, tomat sayur menjadi komoditas bahan makanan yang menyumbang inflasi paling besar hingga 1,5%, disusul dengan angkutan udara 0,2%, cabai rawit 0,12%, bawang merah 0,03%, lemon 0,02%, cabai merah 0,018%. Selanjutnya, komoditas yang juga menyumbang inflasi Manado shampoo 0,017%, bensin 0,01%, dan ikan tindarung 0,008%.

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sulawesi Utara Soekowardojo menyatakan, pihaknya telah memproyeksikan kenaikan inflasi pada November. Menurutnya, peningkatan harga pangan disebabkan beberapa hal, antara lain kembali normalnya harga tomat setelah sempat terjadi penurunan tajam pada bulan lalu. 

“Selain itu juga ada gangguan hujan. Diharapkan pada Desember harga tomat sayur kembali normal,” ujarnya.

Mengenai tarif angkutan udara, dia menilai hal tersebut telah menjadi permasalahan nasional. Guna mengantisipasi volatilitas harga angkutan udara ke depannya, pihaknya tengah mengusulkan penyempitan batas atas dan bawah, dan juga meminta pembukaan pemasok avtur tambahan sehingga mengurangi monopoli.

“Diharapkan desember inflasi lebih terkendali sehingga inflasi tahun 2018 masih di dalam batas sasaran 3,5+/- 1%,” jelasnya.

Untuk menjaga inflasi pada level tersebut, dia menyatakan Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) akan terus memantau harga secara ketat dan melakukan tindakan yang dianggap perlu untuk mengendalikan harga, terutama pada kelompok bahan makanan serta kelompok transportasi, komunikasi dan jasa keuangan.

Selain itu, TPID Sulut juga melakukan rapat teknis dalam mempersiapkan pengendalian inflasi jelang Natal dan Tahun Baru. Di lain sisi, pihaknya juga siap melakukan Operasi Pasar Bulog dan Pasar Murah bersama DIsperindag untuk menjaga keterjangkauan harga bahan pokok jelang Natal dan Tahun Baru.

Tag : Inflasi, sulut
Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Top