Genjot Pendapatan, Pengelola LRT Sumsel Segera Realisasikan Pemanfaatan Aset

Jika pendapatan baik di bisnis utama maupun lainnya meningkat maka harapannya adalah subsidi untuk LRT Sumsel dapat berkurang.
Kepala Balai Pengelola Kereta Api Ringan Sumatera Selatan Dedik Tri Isdiantara memaparkan sejumlah data terkait LRT Sumsel saat press tour 2022, Selasa (25/10). /Bisnis-Dinda Wulandari
Kepala Balai Pengelola Kereta Api Ringan Sumatera Selatan Dedik Tri Isdiantara memaparkan sejumlah data terkait LRT Sumsel saat press tour 2022, Selasa (25/10). /Bisnis-Dinda Wulandari

Bisnis.com, PALEMBANG -- Balai Pengelola Kereta Api Ringan Sumatera Selatan atau BPKASS memastikan pemanfaatan aset pilar light rail transit atau LRT dapat terealisasi pada akhir tahun 2022 sebagai upaya untuk meningkatkan pendapatan di luar bisnis utama.

Kepala BPKASS Dedik Tri Isdiantara mengatakan pihaknya sedang merampungkan persiapan lelang hingga beauty contest untuk pemanfaatan sebanyak 860 pilar LRT Sumsel.

"Bulan ini kami lelang, pemenang akan didapat pada November dan Desember nanti targetnya sudah kontrak dan konstruksi periklanan di pilar," katanya saat press tour 2022, Selasa (25/10/2022).

Dedik menjelaskan BPKASS sedang persiapan untuk pemilihan mitra dari pemetaan objek yang akan dikerjasamakan, penyusunan dokumen, sampai dengan izin untuk pemanfaatan ke Balai Besar Pelaksana Jalan Nasional (BBPJN).

Menurut Dedik, terdapat sekitar 23 brand yang sudah melakukan penjajakan dengan pengelola LRT Sumsel. 

Adapun, BPKASS telah merealisasikan pemanfaatan parapet pada jalur LRT Ampera, di mana pihaknya bekerja sama dengan PT Grab Indonesia untuk konsep sewa parapet sebagai media promosi Grab.

Dia memastikan pemanfaatan aset LRT bakal lebih optimal setelah BPKASS resmi mengelola LRT pada 29 Juli 2022.

"Aset LRT ini baru diserahkan ke BPKASS, sebelumnya masih dipegang Kementerian Perhubungan di pusat," ujarnya.

Dedik menjelaskan peningkatan noncore bisnis LRT tak lain untuk menunjang pendapatan moda transportasi itu. 

Diketahui, pemerintah menggelontorkan subsidi Rp170 miliar per tahun untuk tiket penumpang dan operasional kereta ringan tersebut.

Sementara pendapatan yang berhasil dikantongi Badan Layanan Umum (BLU) tersebut sebanyak Rp15 miliar per tahun.

"Sebagai BLU tentu kami orientasinya tidak semata pendapatan, tetapi bagaimana meningkatkan layanan transportasi umum, sebagai bukti kehadiran negara," katanya.

Dia menjelaskan jika pendapatan baik di bisnis utama maupun lainnya meningkat maka harapannya adalah subsidi untuk LRT Sumsel dapat berkurang. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel


Penulis : Dinda Wulandari
Editor : Ajijah

Topik

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper