Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

IWO Medan dan Greenpeace Gelar Nobar Film Dokumenter Perbudakan Modern

Ikatan Wartawan Online (IWO) Medan berkerja sama dengan Greenpeace Indonesia menggelar nonton bareng (nobar) film Before You Eat di Universitas Medan Area (UMA), Kota Medan, Sumatra Utara, Rabu (8/6/2022) sore.
Nanda Fahriza Batubara
Nanda Fahriza Batubara - Bisnis.com 09 Juni 2022  |  20:04 WIB
IWO Medan dan Greenpeace Gelar Nobar Film Dokumenter Perbudakan Modern
Acara nonton bareng (nobar) film dokumenter Before You Eat di Universitas Medan Area, Kota Medan, Sumatra Utara, Rabu (8/6/2022). - Istimewa
Bagikan

Bisnis.com, MEDAN - Ikatan Wartawan Online (IWO) Medan berkerja sama dengan Greenpeace Indonesia menggelar nonton bareng (nobar) film Before You Eat di Universitas Medan Area (UMA), Kota Medan, Sumatra Utara, Rabu (8/6/2022) sore.

Acara dihadiri oleh berbagai kalangan. Antara lain mahasiswa dan mahasiswi, himpunan nelayan, dewan pimpinan daerah, praktisi hukum hingga jurnalis. Kegiatan ini dibuka langsung oleh Rektor UMA Prof Dadan Ramdan.

Menurut Ketua IWO Medan Erie Prasetyo, nobar kali ini digelar untuk mengedukasi masyarakat tentang praktik perbudakan pada zaman modern.

Seperti diketahui, Before You Eat merupakan film dokumenter yang menceritakan kisah Anak Buah Kapal (ABK) asal Indonesia yang bekerja di kapal luar negeri.

Mereka mengalami berbagai eksploitasi, mulai dari gaji yang tak jelas, jam kerja hingga berbagai perlakuan keji lainnya.

Selain mengungkap tabir gelap dunia perbudakan di kapal, kata Erie, film ini juga diputar dalam rangka memperingati Hari Laut Sedunia atau Ocean World Day.

"Antusias peserta sangat tinggi selama mengikuti enam jam sesi acara ini. Film ini memberi edukasi kepada masyarakat bahwa perbudakan pekerja masih terjadi di zaman modern saat ini," kata Erie, Kamis (9/6/2022).

Menurut Ocean Campaigner Greenpeace Indonesia Arifsyah M Nasution, pemutaran film dokumenter Before You Eat tak bertujuan hanya bertujuan memperdalam pemahaman penonton terkait praktik perbudakan modern.

Namun juga bentuk upaya mempertajam sikap kritis mahasiswa dan kalangan akademisi terhadap kaitan antara eksploitasi manusia dan kerusakan lingkungan.

Menurut Arifsyah, Sumatra Utara sendiri merupakan provinsi yang merupakan sumber ABK asal Indonesia yang bekerja di kapal asing.

"Berdasarkan data aduan yang diterima Serikat Buruh Migran Indonesia (SBMI) setidaknya ada sembilan ABK asal Sumatra Utara yang mengadu ke SBMI dari tahun 2019-2021," kata Arifsyah.

Rektor UMA Prof Dadan Ramdan mengapresiasi film dokumenter Before You Eat karena mampu mengemas cerita pilu yang dialami ABK melalui visualisasi yang mengesankan.

"Setelah saya tonton, film ini sangat menarik. Terus terang saja, saya merasa terharu menontonnya," kata Dadan.

Menurut Dadan, praktik eksploitasi manusia masih kerap terjadi dan membuatnya tidak habis pikir. Sebab, pelaku di balik awal mula praktik tersebut ternyata juga melibatkan warga sebangsa.

Oleh karena itu, Dadan berpendapat bahwa persoalan ini mesti jadi perhatian seluruh pihak. Tak terkecuali dari kalangan ulama. Dadan pun berharap agar persoalan di atas segera memeroleh solusi.

"Jadi mungkin ini tugas alim ulama juga untuk menyadarkannya," kata Dadan.

Before You Eat merupakan film dokumenter yang diproduksi oleh Serikat Buruh Migran Indonesia (SBMI) dan didukung oleh Greenpeace Indonesia.

Film ini menceritakan tentang praktik eksploitasi terhadap pekerja perikanan, khususnya para ABK yang bekerja di kapal asing.

Tindak keji yang mereka alami terjadi mulai sejak sebelum berangkat, selama di kapal, hingga tiba kembali ke Tanah Air.

Beberapa cuplikan video direkam langsung oleh para ABK menggunakan telepon seluler. Mereka berbagi kisah perjuangan menuntut hak, termasuk keadilan bagi rekan-rekan mereka yang meninggal karena sakit hingga dilarung ke laut tanpa persetujuan keluarga.

Tindak kekerasan yang dialami, kontrak kerja yang tidak jelas, dan muslihat agen-agen perekrutan serta prosedur pengiriman ABK yang sumir, membuat praktik ini disebut seba io gai ‘perbudakan modern’.

Film Before You Eat membuka mata penontonnya tentang apa yang terjadi di atas kapal penangkap ikan, carut marutnya proses pengiriman tenaga kerja, hingga tentang penangkapan spesies satwa laut yang dilindungi.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

perbudakan
Editor : Ajijah
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

Terpopuler

Banner E-paper
back to top To top