Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Dampak PMK Terhadap Harga Daging dan Perayaan Iduladha di Sumut

Wabah PMK di Sumatra Utara menyebar cepat. Pada Kamis (19/5/2022), diperkirakan terdapat 1.013 ekor hewan ternak lainnya yang diduga terjangkit.
Nanda Fahriza Batubara
Nanda Fahriza Batubara - Bisnis.com 23 Mei 2022  |  09:10 WIB
Gombloh sapi kurban jenis Simmental. - JIBI/Jumali
Gombloh sapi kurban jenis Simmental. - JIBI/Jumali
Bisnis.com, MEDAN - Pemerintah diminta mewaspadai dan memitigasi dampak penyebaran penyakit mulut dan kuku (PMK) hewan ternak terhadap pergerakan harga daging sapi, sekaligus dinamika permintaan menjelang Iduladha.
Pengamat ekonomi asal Universitas Islam Sumatera Utara Gunawan Benjamin mengatakan pemenuhan kebutuhan hewan kurban di Sumatra Utara selama ini hanya dipasok sekitar 60 persen dari wilayah setempat. Sedangkan selebihnya didatangkan dari luar Sumatra Utara. Seperti dari Aceh dan beberapa daerah dari Pulau Jawa.
Setelah PMK mewabah, pemerintah memperketat pintu masuk hewan ternak dari luar provinsi. Kebijakan itu, menurut Gunawan, tidak hanya akan berpengaruh terhadap harga daging sapi konsumsi harian. Namun juga berpengaruh terhadap harga sapi lokal untuk kebutuhan Iduladha.
Walau begitu, Gunawan memprediksi harga daging sapi konsumsi harian tidak akan melonjak tajam, karena umumnya juga dipasok oleh sapi impor. Jika terjadi kenaikan, harganya diprediksi mentok Rp140.000 per kilogram.
Berdasar data yang dihimpun pada Minggu (22/5/2022), harga daging sapi di Kota Medan, Sumatra Utara dijual dengan rentang harga Rp120.000-Rp140.000 per kilogram. 
 
Seperti biasanya, kata Gunawan, harga sapi untuk kebutuhan hewan kurban bakal melonjak pada Iduladha. Namun kenaikannya diprediksi hanya sebesar 25-30 persen. Sebab, wabah PMK juga berpeluang membuat penurunan minat kurban sapi pada tahun ini.
"Namun yang menjadi persoalan adalah kebutuhan untuk hewan kurban. Besar kemungkinan harga sapi lokal hidup berpeluang naik tajam. Meskipun dengan adanya PMK, ada peluang terjadinya penurunan minat masyarakat untuk berkurban," kata Gunawan.
Pada Jumat (13/5/2022) lalu, terdapat 598 ekor hewan ternak yang dicurigai terjangkit PMK di Sumatra Utara. Setelah melalui pemeriksaan, 19 ekor di antaranya terbukti positif. Hewan-hewan yang terjangkit tersebar di dua kabupaten, yakni Deli Serdang sebanyak 12 ekor dan Langkat sebanyak tujuh ekor.
Sepekan berselang, wabah PMK di Sumatra Utara menyebar cepat. Pada Kamis (19/5/2022), diperkirakan terdapat 1.013 ekor hewan ternak lainnya yang diduga terjangkit.
Wabah juga diduga telah meluas ke sejumlah daerah lainnya di Sumatra Utara. Seperti di Kabupaten Asahan, Kabupaten Batubara, Kota Binjai dan Kota Medan. Informasi terkini beberapa ternak juga dicurigai terjangkit di Kabupaten Serdang Bedagai.
Menurut Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan Pemprov Sumatra Utara Azhar Harahap, penyebaran wabah PMK memang sangat cepat. "Jadi penyakit ini masih terkendali. Namun penyebarannya sangat cepat," ujar Azhar.
Dari 598 ekor hewan ternak yang dicurigai di Sumatra Utara hingga Jumat (13/5/2022) lalu, sebanyak 19 ekor ternak di antaranya terbukti positif terjangkit PMK. Tujuh ekor hewan yang positif berada di Kabupaten Langkat. Sedangkan 12 ekor selebihnya ada Kabupaten Deli Serdang.
Menurut Azhar, seluruh hewan ternak yang dinyatakan positif masih hidup dan telah ditangani. "Semua ternak yang positif sudah kami tangani, tidak ada yang mati. Infeksi sekunder yang diderita ternak, Alhamdulillah, sudah mulai membaik," ujar Azhar.
Demi mengantisipasi penyebaran lebuh lanjut, Pemprov Sumatra Utara telah menyurati seluruh kepala daerah untuk mengambil beberapa langkah. Di antaranya dengan memperketat pengawasan dan pemeriksaan, khususnya pada saat pemotongan hewan jelang Iduladha 1443 Hijriah.
Pemerintah daerah diimbau melakukan pemeriksaan fisik hewan ternak yang akan dikirim ke kabupaten atau kota di Sumatra Utara. Sedangkan pengiriman ke provinsi lain sementara ini masih dilarang. Selain itu, hewan ternak juga wajib mengantongi Surat Keterangan Kesehatan Hewan (SKKH) dari otoritas terkait.
"Tidak memperdagangkan hewan ternak dari provinsi lain dan memberikan persyaratan harus mencantumkan SKKH dari dokter yang berwenang atau kepala dinas," kata Azhar.
Antisipasi juga dilakukan dengan menugaskan dokter terjun ke pasar dan rumah potong untuk melakukan pemeriksaan. Termasuk menjelaskan petunjuk pemotongan hewan ternak untuk kurban sesuai prosedur di masa wabah.
Menurut Azhar, Sumatra Utara punya sekitar 17 ribu ekor hewan ternak dan cukup untuk memenuhi kebutuhan kurban Iduladha.
"Kita telah melayangkan surat ke seluruh kepala daerah atau dinas terkait agar melakukan pemeriksaan fisik terhadap hewan yang akan dikirim ke kabupaten lain," katanya.
Kepala Balai Penelitian Veteriner Medan Azfirman menjelaskan tata cara mendeteksi hewan ternak yang terjangkit PMK. Pengambilan sampel diawali dengan mencermati gejala yang dialami hewan. Seperti lepuh pada bagian mulut dan kukunya.
Setelah itu, sampel hewan yang dicurigai akan diboyong untuk diperiksa lebih lanjut melalui laboratorium. "Itu dibuktikan melalui laboratorium. Jika ada gejala yang sama di kecamatan lain yang berdekatan, diindikasikan itu PMK, karena gejalanya cepat sekali. Jika terindikasi, akan ditangani dengan cara khusus PMK," kata Azfirman.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

sapi sumut iduladha sapi kurban Penyakit Mulut dan Kuku (PMK)
Editor : Miftahul Ulum

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Banner E-paper
To top