Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

3 Strategi Edy Rahmayadi Kendalikan Inflasi Jelang Ramadan: Kita Harus Keras

Gubernur Sumatra Utara Edy Rahmayadi mengungkap strategi untuk mengendalikan laju inflasi jelang Ramadan dan Idulfitri tahun ini.
Nanda Fahriza Batubara
Nanda Fahriza Batubara - Bisnis.com 29 Maret 2022  |  21:48 WIB
Gubernur Sumatra Utara Edy Rahmayadi (baju putih) pada rapat koordinasi Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Sumatra Utara di Kota Medan, Selasa (29/3 - 2022).
Gubernur Sumatra Utara Edy Rahmayadi (baju putih) pada rapat koordinasi Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Sumatra Utara di Kota Medan, Selasa (29/3 - 2022).

Bisnis.com, MEDAN - Gubernur Sumatra Utara Edy Rahmayadi mengungkap strategi untuk mengendalikan laju inflasi jelang Ramadan dan Idulfitri tahun ini. Strategi yang dipakai terdiri atas tiga langkah pengendalian.

Langkah pertama adalah pemantauan atau monitoring harga bahan pangan agar sesuai dengan Harga Eceran Tertinggi (HET) serta mengawasi para distributor dan pegangan demi menghindari praktik penimbunan.

Langkah kedua adalah imbauan kepada masyarakat agar tidak panic buying atau membeli bahan pangan dengan jumlah besar karena takut tak kedapatan.

Sedangkan langkah ketiga adalah peningkatan koordinasi. Yakni dengan pihak aparat kepolisian, produsen bahan pangan dan distributornya.

Strategi ini diungkapkan Edy pada rapat koordinasi Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Sumatra Utara di Kota Medan, Selasa (29/3/2022).

"Kita monitoring pasar, biar tahu persis orang-orang jahat yang suka menimbun," kata Edy.

Edy mengatakan, antisipasi lonjakan harga pangan yang kerap terjadi jelang hari-hari besar harus dilakukan dengan cara keras. Hal ini perlu dilakukan agar kondisi yang sama tak terus terulang.

"Memang kita harus keras. Kalau tidak, lihat semuanya. Setiap mau hari raya dinaikkan, natal, tahun baru naik lagi. Jadi turun naik, turun naik. Saya mau ada standar," kata Edy.

Di sisi lain, Edy juga mengaku heran karena Sumatra Utara pernah mengalami inflasi tinggi hanya karena stok komoditas cabai. Padahal, Sumatra Utara dikenal memiliki lahan pertanian luas dan termasuk sentra produksi cabai merah.

Edy mengatakan, inflasi umumnya disebabkan oleh berbagai faktor. Saat ini, inflasi terjadi akibat kenaikan harga bahan pangan serta kondisi tertentu. Seperti mahalnya harga minyak goreng, kelangkaan kontainer dan bahan baku pupuk, serta meningkatnya konsumsi masyarakat.

"Ada di satu daerah panen cabai merah, ternyata sudah diambil duluan oleh tengkulak, dijual ke daerah lain, sehingga di Sumatra Utara harganya sampai Rp80.000 per kilogram. Panennya di tempat saya, kok kekurangan cabai. Jadi ini harus sama-sama kita jaga," kata Edy.

Menurut Kepala Perwakilan Bank Indonesia Sumatra Utara Doddy Zulverdi, inflasi di Sumatra Utara mengalami tren peningkatan kurun tiga bulan terakhir. Satu di antara penyebabnya adalah kenaikan harga minyak goreng.

Oleh karena itu, Doddy menyarankan agar proses distribusi diawasi dan dikawal. Sebab di satu sisi, harga minyak kelapa sawit mentah atau Crude Palm Oil (CPO) global masih relatif tinggi. Pengawasan distribusi diharap mampu membendung praktik penyimpangan.

Doddy mengatakan, pertumbuhan ekonomi Sumatra Utara pada Triwulan IV 2021 tercatat 3,81 persen (yoy). Pertumbuhan ini dipicu progres penanganan pandemi dan pemulihan ekonomi global.

Doddy memprediksi proses perbaikan ekonomi Sumatra Utara lalu masih akan berlangsung pada tahun ini setelah sebelumnya sempat terpuruk.

Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Pemprov Sumatra Utara Baharuddin Siregar menjelaskan, stok bahan pangan strategis di Sumatra Utara masih relatif aman untuk periode Januari-Maret 2022.

Menurut catatan Baharuddin, produksi beras di Sumatra Utara tercatat surplus. Jumlah produksi mencapai 688.213 ton sedangkan kebutuhannya hanya 483.261 ton.

Begitu juga dengan produksi jagung dan cabai. Menurut Baharuddin, produksi jagung Sumatra Utara tercatat 397.066 ton. Sedangkan kebutuhannya hanya 370.695 ton.

Untuk cabai merah, jumlah produksinya mencapai 55.114 ton dengan kebutuhan 42.369 ton. Kemudian untuk produksi cabai rawit tercatat 20.765 ton dengan jumlah kebutuhan 8.971 ton.

Dalam rangka menjaga stok pangan strategis pada tahun ini, Pemprov Sumatra Utara telah melakukan berbagai langkah. Di antaranya dengan menyediakan bantuan pangan ke kabupaten dan kota.

Pemprov Sumatra Utara akan menyalurkan bantuan 306 ton benih padi, 37,5 ton benih jagung, 12 ton benih kedelai 12 ton, 920 sachet benih cabai merah, 63 ton benih bawang merah dan 10,5 ton benih kentang.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Inflasi sumut
Editor : Ajijah

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
To top