Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Dekopi Dorong Petani di Sumbar Terapkan Perkebunan Kopi Organik

Ketua Umum Dekopi Anton Apriyantono mengatakan berdasarkan data BPS 2017 untuk luas perkebunan kopi di Indonesia itu mencapai 1,2 juta hektare.
Noli Hendra
Noli Hendra - Bisnis.com 24 Maret 2022  |  19:33 WIB
Seorang petani kopi tengah memanen buah kopi di kawasan perkebunan Nagari/Desa Aie Dingin, Kabupaten Solok, Sumatra Barat, Kamis (24/3/2022). Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan Sumbar mencatat luas perkebunan kopi di Sumbar berkisar 27.000 hektare dengan produksi kopi mencapai 17.000 ton per tahunnya. Dari jumlah produksi itu sebanyak 20 persen adalah kopi arabika yang tumbuh di dataran tinggi. Sementara 80 persen lainnya merupakan kopi robusta.  - Bisnis/Noli Hendra
Seorang petani kopi tengah memanen buah kopi di kawasan perkebunan Nagari/Desa Aie Dingin, Kabupaten Solok, Sumatra Barat, Kamis (24/3/2022). Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan Sumbar mencatat luas perkebunan kopi di Sumbar berkisar 27.000 hektare dengan produksi kopi mencapai 17.000 ton per tahunnya. Dari jumlah produksi itu sebanyak 20 persen adalah kopi arabika yang tumbuh di dataran tinggi. Sementara 80 persen lainnya merupakan kopi robusta. - Bisnis/Noli Hendra

Bisnis.com, SOLOK - Dewan Kopi Indonesia (Dekopi) mendorong petani kopi di Provinsi Sumatra Barat untuk menerapkan sistem perkebunan kopi organik. Hal ini sebagai upaya untuk bisa menembus pasar ekspor ke negara-negara Eropa.

Ketua Umum Dekopi Anton Apriyantono mengatakan berdasarkan data BPS 2017 untuk luas perkebunan kopi di Indonesia itu mencapai 1,2 juta hektare.

Tapi masih sebagian kecil yang telah menerapkan sistem perkebunan kopi organik. Padahal kopi organik menjadi salah satu penilaian penting untuk bisa tembus ke pasar Eropa.

Begitu juga di Sumbar, kata Anton, yang memiliki kopi arabika terbaik. Kopi Solok Radjo yang kini menjadi salah satu kopi unggulan Indonesia juga diharapkan bisa menerapkan tanaman kopi organik itu.

"Kopi Solok Radjo ini sudah dikenal, bahkan hingga ke Amerika. Tapi hal itu dalam bentuk biji kopinya, bukan dalam bentuk sebuah brand dalam bentuk olahan. Nah ini saya dorong kedepannya agar tidak sebatas memasarkan kopi dalam bentuk biji green bean arabika," katanya dalam rangka memperingati Hari Kopi Nasional di Kabupaten Solok, Kamis (24/3/2022).

Anton menyebutkan dari pengalamannya di dunia perkopian, yang ketika itu pertama kali diburu ke luar negeri yakni ke negara-negara Eropa. Ternyata tidak ada satupun kopi Indonesia ditemukan di kafe-kafenya.

"Ini sangat disayangkan. Padahal Indonesia punya kopi arabika terbaik. Kenapa tidak ada ditemukan di negara-negara Eropa. Ternyata ada syarat untuk bisa masuk ke negara Eropa itu," ujarnya.

Dia menceritakan dari pengalamannya sewaktu datang ke Jerman pada akhir 2019 lalu, dan berbincang dengan Asosiasi Kopi Jerman. Ternyata kopi di negara Eropa itu banyak datang dari Afrika Selatan.

Alasan Asosiasi Kopi Jerman menyebutkan dari Afrika Selatan, karena dari segi syarat, kopi Afrika Selatan itu memenuhi ketentuan di negara-negara Eropa.

"Syaratnya itu adalah kopinya merupakan kopi organik. Saya berpikir ini tantangan sekaligus peluang. Soal rasa kopi, Indonesia terbaik. Tinggal bagaimana petani bisa menjadikan perkebunan kopinya menjadi perkebunan kopi organik," harap mantan Menteri Pertanian RI 2004-2009 ini.

Dikatakannya dengan adanya ungkapan dari Asosiasi Kopi Jerman itu, bisa menjadi cambuk bagi perkopian di Indonesia. Karena di Jerman sendiri menyatakan kopi Indonesia itu berada di rangking ke-11. Padahal secara produksi, kopi Indonesia berada di peringkat ke-4 dunia.

"Untuk mengembangkan kopi organik itu tidak mudah. Kalau tanaman padi organik memang terbilang sulit. Tapi kalau untuk kopi tidak sulit," ungkapnya.

"Kalau bicara perbandingan soal cita rasa antara kopi organik dan non organik tidak ada bedanya. Cita rasa sama saja. Tapi organik lebih sehat, maka pasar ekspor memilih kopi organik itu," jelas Anton.

Untuk itu, melihat Kopi Solok Radjo yang kini menjadi salah satu keunggulan kopi arabika di Indonesia, diharapkan petani-petani kopi yang ada di Kabupaten Solok khususnya atau di Sumbar, kedepan perlu untuk beralih ke kopi organik.

Dia menilai jika kopi organik ini jalan, maka ekonomi Sumbar dari sektor kopi akan bangkit. Karena tidak hanya mampu memenuhi pasar kopi lokal maupun domestik, tapi juga pasar internasional.

Anton mengingatkan agar kondisi perkopian di Sumbar saat ini jangan puas dengan keberadaan kopi di Solok saja. Daerah-daerah di Sumbar lainnya yang juga memiliki perkebunan kopi, juga perlu untuk diarahkan dan dibina memproduksi kopi terbaik.

"Di hulu kita harus tingkat produktivitas, kemudian harus naik kelas, harus berkelompok tidak bekerja sendiri lagi, dan harus melakukan kemasan bersama. Jadi ada brand nantinya, tidak lagi dalam bentuk biji kopi," harapnya.

Anton menyatakan bila pemerintah dan petani saling berkolaborasi mendorong perkembangan kopi, maka Sumbar akan menjadi salah satu daerah penghasil kopi unggulan di Indonesia.

"Saya percaya Sumbar akan menjadi unggulan Indonesia menyusul provinsi lainnya di Indonesia," ucap dia.

Sementara itu Ketua Dekopi Perwakilan Sumbar Fajarudin menambahkan kopi Solok Radjo memang terbilang sebagai kopi terbaik di Sumbar saat ini. Bahkan dengan telah terbentuknya sebuah koperasi adalah bentuk membina petani kopi untuk bisa menghasilkan kopi terbaik di Solok.

"Kopi Solok Radjo ini didirikan oleh anak-anak muda. Ternyata mereka orang-orang hebat. Pengalamannya terhadap dunia kopi sudah bertaraf internasional. Nah hal inilah yang telah mampu untuk menghadirkan kopi Solok Radjo dengan kualitas yang terbaik," ujar Fajar.

Dia berharap keberadaan kopi Solok Radjo jangan dibiarkan berjalan sendiri. Kepada pemerintah diharapkan membantu petani kopi, sehingga apa yang diharapkan oleh Dekopi pusat, bisa terwujud, dan kopi Sumbar bisa mendunia.

"Kalau kopi di Sumbar secara kualitas layak untuk negara-negara Eropa. Maka dampaknya di Sumbar ini, masyarakatnya yang suka kopi bisa pula menikmati kopi yang enak. Karena kopi Solok Radjo juga turut mengisi pasar lokal," sebut mantan Kadis Perkebunan Sumbar itu.

Menurutnya bila melihat pada perkebunan kopi di Sumbar saat ini, memang belum tersebar di seluruh daerah. Luas perkebunan kopi di Sumbar berkisar 27.000 hektare, dengan produksi kopi mencapai 17.000 ton per tahunnya.

Dari jumlah produksi itu, sebanyak 20 persen adalah kopi arabika yang tumbuh di dataran tinggi. Sementara 80 persen lainnya merupakan kopi robusta.

"Hebatnya kini, harga kopi Solok Radjo memiliki harga yang cukup tinggi dibandingkan kopi lainnya. Kopi arabika saja harganya mencapai Rp80 ribu hingga sekitar Rp120 ribu per kilogram. Sedangkan untuk jenis robusta sekitar Rp30 ribu hingga Rp41 ribu per kilogramnya," jelas dia.

Artinya dengan adanya reng harga kopi itu, telah menunjukan bahwa kualitas kopi Solok Radjo tidak diragukan lagi. Karena yang namanya kopi dengan harga tergolong mahal itu, tidak ada yang rasanya asal-asalan.

Dengan demikian, Fajar berharap luas lahan perkebunan kopi di Sumbar bisa ditambah secara bertahap dari tahun ke tahun. Apalagi belum semua daerah di Sumbar yang memiliki kebun kopi.

Untuk wilayah kebun kopi di Sumbar itu berada di Kabupaten Solok, Kabupaten Solok Selatan, Kabupaten Tanah Datar yaitu di Pariangan dan Salimpaung.

Selain itu juga ada di Kabupaten Agam di sekitar Lasi dan Situjuah, dan Kabupaten Pasaman Barat di Talamau.

"Pengembangan kopi memang tidak bisa merata di Sumbar, karena memperhitungkan kesuburan tanah, ketinggian, suhu dan iklim," sambungnya.

Dia menyebutkan saat ini produksi kopi di Sumbar sebagian besar telah diekspor, yakni 80 persen produksi per tahun telah dijual di dalam negeri seperti di Sumbar sendiri dan daerah lain terutama di Jakarta.

Kemudian sebanyak 20 persennya diekspor keluar negeri ke berbagai negara seperti Amerika, Australia, dan negara Eropa seperti Inggris dan Skotlandia.

"Terkait kopi organik itu, juga penting dilakukan di Sumbar ini, agar pasar ekspor bisa semakin luas, terutama untuk pasar Eropa," tutup Fajar. (k56).

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

sumbar kopi
Editor : Ajijah

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
To top