Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Antisipasi Virus Kutil, Riau Isolasi dan Vaksinasi 100.000 Sapi

Kasus penyakit LSD atau kutil yang menyerang sapi tersebut merupakan temuan pertama di Indonesia.
Arif Gunawan
Arif Gunawan - Bisnis.com 13 Maret 2022  |  19:16 WIB
Antisipasi Virus Kutil, Riau Isolasi dan Vaksinasi 100.000 Sapi
Ilustrasi peternakan sapi - Antara
Bagikan

Bisnis.com, PEKANBARU – Pemerintah Provinsi Riau melakukan isolasi terhadap 242 ekor sapi yang mengidap penyakit Lumpy Skin Disease (LSD) atau kutil sapi.

Adapun, kasus penyakit yang menyerang sapi tersebut merupakan temuan kasus pertama di Indonesia.

Gubernur Riau Syamsuar mengatakan sapi berpenyakit LSD akan diisolasi sesuai tempatnya masing-masing dan tidak dilakukan pemusatan atau lokalisasi. Hal itu dilakukan agar penyakit akibat virus penyebab LSD itu tidak menyebar.

Dia menambahkan, selain isolasi, sapi yang sakit tersebut akan diobati. Selain itu, langkah antisipasitif lain pun disiapkan dengan pemberian vaksinasi untuk sekitar 100.000 ekor sapi.

"Saya sudah bertemu dan berbicara langsung Kepala Balai Besar Pelatihan Kesehatan Hewan (BBPKH), dimana keinginan mereka dilakukan isolasi wilayah Riau, saya tidak setuju. Jadi isolasi hanya di wilayah yang tersebar virus saja, jangan sampai keluar supaya virusnya tidak menyebar. Jadi penanganannya hampir mirip pasien Covid," ujarnya, Jumat (11/3/2022).

Dia menguraikan setelah diisolasi, sapi akan diobati. Kemudian untuk vaksinnya masih dalam perjalanan dan diharapkan segera tiba sehingga bisa disuntikkan ke sapi lainnya sebagai bentuk antisipasi.

Dari laporan yang diterima, saat ini virus LSD sudah menyebar ke 7 kabupaten yang ada di Riau, dan merupakan kasus penyebaran LSD pertama di Indonesia. Karena itu vaksinnya harus didatangkan dari luar negeri.

Rencananya vaksinasi akan dilakukan bagi sekitar 100.000 ekor sapi yang ada di daerah itu, dan harus dilakukan selama tiga tahun berturut-turut. Untuk tahap awal akan datang sekitar 7.000 dosis vaksin sapi. Bila vaksin nantinya datang, sudah disiapkan sebanyak 180 orang tenaga vaksinator untuk bertugas di 12 kabupaten dan kota di Riau.

Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) Riau Herman mengatakan kini juga tengah dilakukan uji sampel darah sapi yang mengidap LSD oleh BBPKH.

Dia merincikan daerah yang ditemukan kasus sapi mengidap LSD yaitu Kabupaten Indragiri Hulu (Inhu) sebanyak 114 ekor sapi, Kabupaten Pelalawan 25 ekor, Kabupaten Kampar 8 ekor, Kota Dumai 20 ekor, Kabupaten Bengkalis 12 ekor, Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil) 13 ekor, dan Kabupaten Siak 50 ekor.

"Jadi jumlah sapi yang sakit terkena penyakit itu ada 242 ekor, dimana 3 ekor di antaranya mati. Namun, tingkat kematian penyakit sangat kecil maksimal 5 persen," ujarnya.

Selain sudah mati, ada sebanyak 13 ekor sapi dipotong paksa oleh peternak, karena masyarakat takut sapinya mati. Meski dipotong paksa, daging sapi tetap bisa dikonsumsi. Hal itu lantaran penyakit tersebut hanya menyerang bagian kulit sapi.

Setelah ditangani secara intensif, angka kesembuhan sapi mengidap LSD terlihat cukup tinggi atau mencapai 84 persen dari total sapi yang sakit. Ciri-ciri kesembuhannya seperti sapi sudah mau makan, karena selama sakitnya sapi itu tidak makan akibat tenggorokan meradang.

Sebelumnya Kepala BBPKH Cinagara Wisnu Wasesa Putra mengatakan pihaknya meminta kerja sama pemda untuk mengantisipasi penyebaran virus LSD terhadap sapi lainnya. Misalnya dengan memastikan sapi yang sakit tetap berada di tempatnya dan tidak berpindah serta tidak dijual.

"Kami berkomitmen mendukung pengobatan dan pencegahan penyebaran virus LSD ini dengan vaksinasi baik di daerah yang berisiko dan juga mengamankan lokasi lainnya," ujarnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

riau daging sapi sapi peternakan sapi
Editor : Yustinus Andri DP
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

Terpopuler

Banner E-paper
back to top To top