Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Kontainer Terbatas, Kinerja Ekspor Karet Stagnan

Volume ekspor untuk pengapalan November 2021 tercatat 36.873 ton. Jumlah ini mengalami peningkatan sebanyak 5.305 ton atau 16,8 persen dibanding pengapalan Oktober 2021 lalu.
Nanda Fahriza Batubara
Nanda Fahriza Batubara - Bisnis.com 20 Desember 2021  |  10:55 WIB
Ilustrasi - Bisnis
Ilustrasi - Bisnis

Bisnis.com, MEDAN - Geliat ekspor komoditas karet Sumatra Utara tidak didukung dengan ketersediaan metalbox pengemas dan kontainer pengangkut yang memadai.

Akibatnya, kinerja ekspor karet dari provinsi diperkirakan masih stagnan. Padahal, volume ekspor untuk pengapalan November 2021 tercatat 36.873 ton. Jumlah ini mengalami peningkatan sebanyak 5.305 ton atau 16,8 persen dibanding pengapalan Oktober 2021 lalu.

Menurut Sekretaris Eksekutif Gabungan Perusahaan Karet Indonesia (Gapkindo) Sumatra Utara Edy Irwansyah, volume ekspor karet kurun Januari-November 2021 tercatat sebanyak 342.032 ton.

Jumlah ini, menurut Edy, mengalami penurunan sebanyak 4.952 ton atau 1,4 persen dibanding periode yang sama pada 2020 lalu.

"Pengapalan pada Desember masih diwarnai dengan adanya delay shipment karena adanya keterbatasan metalbox pengemas karet dan keterbatasan ketersediaan kontainer. Dengan adanya keterbatasan ini, kinerja ekspor karet Sumatra Utara diperkirakan masih stagnan," ujar Edy, Senin (20/12/2021).

Selain faktor teknis pengiriman, kondisi cuaca juga menyebabkan produksi karet rakyat dan perkebunan menurun.

"Kondisi ini juga dipengaruhi masih menurunnya produksi karet rakyat dan perusahaan perkebunan karet karena saat ini di Sumatra Utara masih musim hujan," kata Edy.

Edy menjelaskan, pengapalan karet dari Sumatra Utara ke Amerika Serikat (AS) tetap meningkat tajam pada November 2021. Hingga kini, AS masih memuncaki daftar negara tujuan ekspor karet dari Sumatra Utara. Negara ini menyerap sebanyak 24,3 persen dari total ekspor karet Sumatra Utara.

Kemudian diikuti Jepang sebesar 19,0 persen, China sebesar 8,2 persen, Brazil sebesar 7,9 persen dan Belgia sebesar 6,1 persen.

"Memperhatikan tingginya persentase ini mencerminkan membaiknya kinerja ekspor. Dari sisi lain, adanya peningkatan volume ini merupakan realisasi dari kontrak-kontrak ekspor yang tertunda," kata Edy.

Menurut Ketua Gabungan Pengusaha Ekspor (GPE) Sumatra Utara Hendrik Halomoan Sitompul, keterbatasan kontainer di Sumatra Utara menyulitkan para eksportir baru.

Namun, menurutnya, sejauh ini belum terdengar keluhan berarti. Sebab, para pengusaha yang sudah lama berkecimpung dalam dunia ekspor-impor umumnya sudah memiliki langganan penyedia jasa kontainer sendiri.

"Kalau eksportir yang sudah reguler tidak ada masalah, karena biasanya sudah kontrak. Tapi mungkin yang baru ini yang mengalami persoalan," kata Hendrik.

Menurut Hendrik, kebutuhan terhadap kontainer biasanya menerapkan prinsip Business to Business atau B2B antara eksportir dan penyedia jasa. Sedangkan peran pemerintah tak lain sebatas dukungan dan fasilitator.

Di sisi lain, Hendrik mengatakan bahwa kebutuhan terhadap kontainer memang kerap meningkat saat akhir tahun.

"Jadi bukan kelangkaan, tapi keterbatasan. Kalau eksportir reguler tidak ada kendala. Yang mengalami masalah itu ketika ada orang yang tiba-tiba membutuhkan atau baru memulai bisnis ekspor," ujar Hendrik.

Sementara itu, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Pemprov Sumatra Utara Aspan Sopian enggan memberi komentar terkait keterbatasan kontainer.

Menurut Kepala Biro Perekonomian Sekretariat Daerah Pemprov Sumatra Utara Naslindo Sirait, keterbatasan kontainer merupakan persoalan global saat ini.

Keterbatasan kontainer juga dipengaruhi dengan ketersediaan kapal pengangkut antar negara. Menurutnya, perdagangan dunia saat ini didominasi oleh beberapa negara tertentu. Seperti Amerika Serikat, China dan India.

"Sehingga perputaran kontainer dan jalur perdagangan hanya meliputi negara tersebut dan negara-negara tertentu," kata Naslindo.

Menurut Naslindo, swasembada kapal pengangkut komoditas ekspor menjadi solusi jangka panjang yang layak ditempuh pemerintah. Selain menyudahi ketergantungan, ketersediaan kapal buatan dalam negeri juga akan mempermudah eksportir menjangkau pasar tanpa harus terlebih dulu singgah ke pelabuhan negara tetangga.

"Ini perlu waktu untuk membangun kapal, apalagi harga baja sebagai bahan pembuat kapal tinggi. Tentu tidak efesien saat ini untuk membangun kapal. Tapi perlu ke depan pemerintah pusat melalui BUMN memikirkan membangun kapal utama untuk mengangkut barang-barang yang diperdagangkan ke mancanegara," kata Naslindo.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

ekspor karet
Editor : Ajijah

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
To top