Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Kasus Bayi Gajah Mati Akibat Jerat Kembali Terulang, Bukti Konservasi di Aceh Gagal

Sejauh ini, Balai Besar Konservasi dan Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh telah berkoordinasi dengan pihak Kepolisian mengenai pemasangan jerat yang berujung kematian seekor satwa dilindungi
Nanda Fahriza Batubara
Nanda Fahriza Batubara - Bisnis.com 17 November 2021  |  18:17 WIB
Seekor anak gajah Sumatra (Elephas maximus sumatrensis) akhirnya tewas usai menjalani dua hari masa perawatan di Pusat Latihan Gajah (PLG) Saree, Kabupaten Aceh Besar, Selasa (16/11/2021). Belalai gajah ini putus saat ditemukan di kawasan APL sekitar Desa Alue Meuraksa, Kecamatan Teunom, Kabupaten Aceh Jaya pada Minggu (14/11/2021).  - Istimewa
Seekor anak gajah Sumatra (Elephas maximus sumatrensis) akhirnya tewas usai menjalani dua hari masa perawatan di Pusat Latihan Gajah (PLG) Saree, Kabupaten Aceh Besar, Selasa (16/11/2021). Belalai gajah ini putus saat ditemukan di kawasan APL sekitar Desa Alue Meuraksa, Kecamatan Teunom, Kabupaten Aceh Jaya pada Minggu (14/11/2021). - Istimewa

Bisnis.com, ACEH JAYA - Setelah dua hari menahan rasa sakit, seekor anak gajah Sumatra (Elephas maximus sumatrensis) berusia satu tahun akhirnya menghembuskan nafas terakhir saat menjalani perawatan di Pusat Latihan Gajah (PLG) Saree, Kabupaten Aceh Besar, Selasa (16/11/2021).

Sebelumnya, gajah betina mungil itu ditemukan dengan kondisi mengenaskan. Belalainya putus akibat kabel jerat saat ditemukan petugas di kawasan Areal Penggunaan Lain (APK) sekitar Desa Alue Meuraksa, Kecamatan Teunom, Kabupaten Aceh Jaya pada Minggu (14/11/2021).

Sejauh ini, Balai Besar Konservasi dan Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh telah berkoordinasi dengan pihak Kepolisian mengenai pemasangan jerat yang berujung kematian seekor satwa dilindungi.

"Kami sudah berkoordinasi dengan polisi," kata Kepala BKSDA Aceh Agus Arianto kepada Bisnis, Rabu (17/11/2021).

Nasib tragis seekor anak gajah ini awalnya diketahui seorang warga yang kemudian melapor ke petugas terkait. Setelah memeroleh informasi, mereka datang dan mulai mencari keberadaan satwa itu pada Sabtu (13/11/2021).

Gajah akhirnya ditemukan keesokan harinya di dalam kawasan APL. Menurut Agus, petugas mendapatinya sendirian tanpa induk dan kawanan. Belalai gajah itu terlihat nyaris putus akibat sisa-sisa kabel jerat yang masih melilit.

"Sehingga kami tidak tahu di mana lokasi awal gajah terjerat. Waktu ditemukan masih ada sisa-sisa jerat di belalainya," kata Agus.

Usai memberi penanganan awal, petugas kemudian mengevakuasi serta memberi gajah perawatan di PLG Saree. Dua hari dirawat, satwa itu tewas pada Selasa (16/11/2021).

Hasil nekropsi menunjukkan adanya infeksi sekunder akibat luka menganga akibat jerat. Luka ini diprediksi telah berlangsung lama. Dia juga mengalami gangguan pencernaan karena tak optimal menyerap asupan makanan.

Upaya BKSDA menghentikan praktik pemasangan jerat ini masih mengandalkan cara-cara sosialisasi kepada masyarakat. Di sisi lain, Agus mengatakan bahwa pihaknya menggandeng aparat dalam penanganan perkara kejahatan satwa dilindungi.

Menurut Agus, BKSDA tidak mampu bekerja tunggal untuk menangkap peristiwa memilukan ini terus terulang.

"Karena ini tidak bisa BKSDA saja, harus dengan Kepolisian dan TNI," kata Agus.

Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Aceh Jaya Iptu Lutfi Arinugraha Pratama mengatakan, perkara jerat yang menewaskan seekor anak gajah Sumatra masih dalam penyelidikan. Oleh karena itu, dirinya belum bisa banyak berkomentar.

"Untuk sekarang ini saya belum bisa menjelaskan panjang lebar, karena perkara ini masih dalam penyelidikan. Hari ini kami koordinasi dengan pihak BKSDA. Untuk perkembangan lanjut akan kami kabarkan," kata Lutfi.

Peristiwa anak gajah Sumatra tewas akibat jerat menambah catatan buruk Indonesia terhadap perlindungan satwa terancam punah di dunia. Apalagi belum lama ini dunia baru saja dihebohkan dengan foto pilu tiga ekor harimau Sumatra (Panthera tigris sumatrae) yang juga tewas akibat alat serupa, jerat.

Tiga harimau tersebut mati mengenaskan di Kawasan Ekosistem Leuser. Tepatnya, di Desa Ie Buboh, Kecamatan Meukek, Kabupaten Aceh Selatan pada Selasa (24/8/2021).

Ujung kasus kematian tiga ekor harimau ini belum jelas. Padahal, Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Aceh sudah memeriksa pemasang jerat.

Namun yang bersangkutan mengaku memasangnya untuk menghalau babi merusak tanaman. Bukan untuk memburu harimau.

Untuk mengetahui kelanjutan perkara tersebut, Bisnis mencoba menghubungi Kepala Bidang Humas Polda Aceh Kombes Winardy. Akan tetapi, Winardy tidak memberi penjelasan.

Sedangkan terkait pemasang jerat yang menyebabkan seekor anak gajah tewas di Kabupaten Aceh Jaya, Winardy mengaku belum memeroleh informasi.

"Belum monitor. Kami koordinasikan dulu ke wilayah," kata Winardy.

Sementara itu, Kepala Balai Gakkum KLHK Wilayah Sumatra Subhan tidak memberi respons pertanyaan mengenai kasus kejahatan terhadap satwa dilindungi ini.

Berdasar data Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Aceh, tercatat setidaknya 34 kali peristiwa menimpa gajah Sumatra di Aceh sepanjang 2021. Mulai dari ditemukan mati hingga masuk ke perkebunan warga. Di Kabupaten Aceh Jaya sendiri, sebelumnya terdapat lima ekor gajah tewas dibunuh pada September 2021.

Catatan ini belum termasuk tindak kejahatan terhadap satwa dilindungi lainnya seperti harimau Sumatra, beruang, orangutan, macan hingga berbagai jenis burung.

Atas dasar itu, Direktur Eksekutif WALHI Aceh Muhammad Nur menganggap pemerintah tidak serius melindungi satwa-satwa itu.

"Pemerintah Aceh bersama pemerintah kabupaten terlihat tidak serius dalam melakukan perlindungan terhadap satwa kunci, terlihat hampir setiap tahun ada kematian gajah yang kena terjerat kawat yang dipasang maupun diracun," kata Nur.

Nur juga menyoroti soal program replanting perkebunan kelapa sawit. Di Aceh Jaya, pemerintah memeroleh kuota replanting seluas 1.425 hektare pada 2019 lalu.

Perluasan peremajaan perkebunan kelapa sawit ini berkontribusi besar dalam mengganggu wilayah perlintasan gajah dan sejumlah satwa langka lainnya.

"Luas kawasan peremajaan sawit sudah mengganggu jalur lintas gajah hingga terancam punah satwa kunci di Aceh yang masih kaya hutan," kata Nur.

Lebih lanjut, Nur meminta instansi berwenang agar mengusut tuntas kasus kematian anak gajah akibat jerat di Kabupaten Aceh Jaya. Menurut Nur, gajah itu terjerat di kawasan peremajaan sawit.

"Hal ini tidak bisa dibiarkan begitu saja, sebab jeratan gajah ini hampir setiap tahun ditemukan, akan tetapi tidak memberikan efek jera kepada pelaku," katanya mengakhiri.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

gajah
Editor : Ajijah

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
To top