Berkah Gas Bumi Bagi UMKM di Lumbung Energi

PGN Area Palembang mencatat saat ini telah mengaliri gas bumi kepada 152 pelanggan kecil/UMKM di Palembang. Adapun konsumsi rata-rata dari ratusan pelanggan itu mencapai 50.000 meter kubik per bulan.
Dinda Wulandari
Dinda Wulandari - Bisnis.com 29 November 2019  |  16:10 WIB
Berkah Gas Bumi Bagi UMKM di Lumbung Energi
Penggunaan gas bumi yang disalurkan PT PGN (Persero) Tbk di Kota Palembang. - Bisnis/Dinda Wulandari

Bisnis.com, PALEMBANG – Suhu udara di belakang rumah Rusjanti terasa panas pagi itu. Meski berkeringat, harum aroma vanila dari kue pia hangat membuat bersemangat. 

Perempuan berusia 57 tahun itu tampak seksama memantau kue yang terpanggang di bawah api biru, sesekali ia menarik loyang kue dari oven untuk memastikan kematangan kue pia dagangannya tersebut.

“Apinya harus stabil, tidak boleh kurang panas nanti hasilnya pasti jelek, matang tidak sempurna. Ada satu cacat saja pasti bisa bikin pembeli kecewa,” katanya kepada Bisnis.com baru-baru ini.

Saban hari barisan kompor dan oven di teras belakangan yang disulap menjadi dapur kue itu tak berhenti beroperasi. Sejak pukul 07.30, para pekerja sibuk mengolah adonan tepung terigu, kacang merah, kacang hijau dan gula untuk dipanggang menjadi kue pia berlabel Bola Dunia.

Aktivitas membuat kue yang bisa mencapai hingga 1.000 buah per hari itu biasanya memakan waktu hingga pukul 14.00 siang. Namun, saat permintaan di pasar menurun, api di kompor Rusjanti padam lebih awal 4 jam.

Api yang muncul di 5 kompor dan 2 oven ‘pabrik’ mini Rusjanti itu bersumber dari gas bumi. Saat menyambangi workshop yang menyatu dengan rumah tinggal Rusjanti, terlihat pipa kuning terpasang di sepanjang tembok luar, di dalam pipa tersebut mengalirlah energi baik untuk nyala api di dapur Bola Dunia.

“Kalau lagi bikin kue sedapat mungkin api nggak putus, dan itu cuma bisa kalau kita pakai gas pipa, kalau tabung isinya belum habis betul tapi api sudah melemah,” katanya.

Bagi Rusjanti yang telah memproduksi kue pia sejak 18 tahun lalu itu, gas merupakan kebutuhan utama selain listrik dan air yang harus mengalir terus.

Maka, ia merasa beruntung ketika jaringan gas yang dibangun PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk. pada 2015 lalu melewati rumahnya yang terletak di Jln Dwikora.

Keinginan Rusjanti menggunakan gas bumi untuk bahan bakar di dapur tak hanya karena pasokan energi itu yang tak henti mengalir. Lebih dari itu,memakai gas bumi berarti menghemat ongkos produksi yang dikeluarkan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) tersebut.

“Saya bisa hemat separuh dari biaya yang saya keluarkan untuk membeli tabung gas LPG 12 kilogram. Sebelum pakai gas bumi, biaya untuk gas bisa mencapai Rp20 juta per bulan. Sekarang jika produksi lagi banyak sekalipun biayanya paling mahal Rp10 juta per bulan,” papar Rusjanti.

Dia menjelaskan saat pemasangan awal, dirinya harus merogoh kocek dalam sekitar Rp50 juta. Namun demikian, dia mengaku dalam kurun 5 bulan pertama sudah balik modal. Hal itu juga sesuai dengan internal rate of return (IRR) yang dihitung PGN untuk calon pelanggan.

PGN tampaknya memang getol menambah pelanggan kategori kecil/UMKM di Kota Palembang. Sepanjang tahun ini saja ada penambahan 8 pelanggan kecil yang mayoritas bergerak di usaha kuliner merasakan aliran gas bumi.

Salah satu pelanggan baru tersebut adalah Junaidi, pemilik rumah makan Rajawali Kopitiam yang berada di Jln Rajawali, Kota Palembang.

Pria berusia 54 tahun itu mengaku sudah lama ingin menggunakan gas bumi, tepatnya sejak 2015 setelah ia mendapat cerita dari sejumlah pelaku usaha kuliner yang merasakan keuntungan dari gas alam.

Selama ini, Junaidi menghabiskan sekitar 70 tabung gas LPG 12 kg setiap bulan untuk kebutuhan memasak. Pengeluarannya ditaksir sekitar Rp10 juta per bulan untuk biaya gas.

“Untuk usaha kuliner biaya yang paling tinggi itu adalah gas, baru listrik dan air. Makanya saya ingin pakai gas bumi agar hemat,” katanya.

Pucuk dicinta ulam pun tiba, Junaidi yang telah berwirausaha selama 7 tahun terakhir ini langsung menerima tawaran menjadi pelanggan baru saat PGN menyambangi tempat usahanya sekitar 3 bulan lalu. Akhirnya, dapur Rajawali Kopitiam resmi memakai gas bumi pada 7 November 2019.

“Ternyata sesuai dengan harapan saya, urusan gas jadi lebih praktis, tidak repot sehingga usaha saya sekarang makin produktif,” katanya.

Praktis memang menjadi salah satu keuntungan yang menarik pelaku usaha untuk menggunakan gas bumi. Menurut Junaidi, pegawainya tak perlu lagi bolak-balik mengangkat tabung elpiji ke dapur, atau membuang waktu karena menunggu kiriman tabung gas tiba di restoran.

Dia mengatakan penggunaan pipa gas juga terbilang mudah, tinggal putar keran diujung pipa untuk membuka dan menghentikan gas.

Sebagai pelanggan baru, dirinya sempat khawatir terhadap keamanan dari penggunaan gas alam. Kebocoran pipa menjadi salah satu kerisauan yang mengganggu pikiran Junaidi.

Namun demikian, ketakutan itu perlahan sirna setelah petugas PGN memberikan edukasi terkait keamanan dan pemakaian gas alam yang tepat.

“Kami diberikan simulasi dan edukasi terlebih dulu dari PGN sebelum gas tersambung. Bahkan, petugas juga melakukan serangkaian tes tekanan di pipa gas,” katanya.

Sales Area Head PGN Palembang, Agus Muhammad Mirza, mengatakan pelaku usaha menginginkan sumber energi yang praktis, efisien, dan safety.

“Rasanya hampir tidak pernah terdengar ada kebakaran atau ledakan dari pelanggan karena tekanan di pipa gas ini rendah,” katanya.

Perluasan Energi Baik

PGN Area Palembang mencatat saat ini telah mengaliri gas bumi kepada 152 pelanggan kecil/UMKM di Palembang. Adapun konsumsi rata-rata dari ratusan pelanggan itu mencapai 50.000 meter kubik per bulan.

Menurut Mirza, jumlah pelanggan tersebut dipastikan akan terus bertambah seiring komitmen perseroan untuk mendukung geliat bisnis UMKM di kota itu.

Bahkan, PGN telah mematok target penambahan sebanyak 55 pelanggan kecil/UMKM pada tahun 2020. Jumlah itu melonjak signifikan dibanding penambahan tahun ini.

Mirza mengatakan pihaknya optimistis target tersebut bisa tercapai karena bagian dari aksi subholding gas untuk memperluas manfaat gas bumi ke seluruh wilayah di Tanah Air.

“Subholding gas membuat perencanaan pemasangan pipa lebih baik sehingga realisasi lebih cepat. Penggabungan usaha gas negara ini juga untuk mengurangi dualisme dalam pengembangan pipa gas, jadi tidak tumpang-tindih,” katanya.

Diketahui, PGN sendiri telah menyalurkan gas bumi di Kota Palembang sejak 1997 di mana pelanggan pertama adalah PT Indofood yang masuk kategori pelanggan komersial atau industri.

Setahun berselang, perseroan memperluas distribusi ke rumah tangga (RT) lewat program Sayang Ibu.

Kini, tercatat ada 5.983 pelanggan RT yang dilayani perusahaan. Ditambah lagi, 90 pelanggan komersil dan 152 pelanggan kecil/UMKM. Gas bumi tersebut disalurkan PGN melalui pipa sepanjang total 171 kilometer hingga ke pelanggan.

Dia mengemukakan pemerataan energi tidak bisa dilakukan tanpa rencana matang. Sehingga, sebagai subholding gas, yang terintegrasi dengan Pertagas sejak April 2019, perseroan sudah mengambil langkah untuk percepatan ekspansi pipa gas di daerah, termasuk Kota Palembang.

Apalagi, kata dia, Sumatra Selatan merupakan lumbung minyak dan gas (migas). Energi yang berasal dari sumur-sumur migas di Banyuasin, Musi Banyuasin (Muba), dan Prabumulih itu telah lama mengalir hingga jauh, menuju Pulau Jawa hingga ke negara tetangga, Singapura.

“Sampai 50 tahun ke depan energi migas di Sumsel bakal tetap ada. Kami inginnya separuh dari total 17 kabupaten/kota di Sumsel ini teraliri gas bumi, baik untuk rumah tangga maupun dunia usaha,” katanya.

Merujuk pada data Satuan Kerja Khusus Minyak dan Gas (SKK Migas) Sumatra Bagian Selatan (Sumbagsel), produksi gas dari Bumi Sriwijaya mencapai 1.716,66 MMSCFD per Oktober 2019.

Kepala Departemen Humas SKK Migas Sumbagsel, Andi Arie Pangeran, mengatakan angka produksi gas alam itu berasal dari gabungan 13 kontraktor kerja sama migas (KKKS) di wilayah Sumsel.

“Gas dari Sumsel berkontribusi sekitar 23,73% terhadap produksi nasional yang mencapai sebanyak 7.233 MMSCFD,” katanya.

Sementara itu, Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Sumsel, Robert Heri, mengatakan Sumsel masih menjadi salah satu produsen gas terbesar dan berkontribusi terhadap pemenuhan kebutuhan energi di Tanah Air.

“Gas asal Sumsel ini sudah ditarik kemana-mana, Jawa Barat, Banten, Duri, Batam hingga Singapura,” katanya.

Dia menambahkan, belum lagi, pada awal tahun lalu telah ditemukan cadangan gas terbesar di Kabupaten Musi Banyuasin (Muba).

Bupati Muba Dodi Reza mengatakan penemuan terbaru terkait potensi cadangan gas yang disebut-sebut hingga 2 triliun kaki kubik (TCF) di Blok Sakakemang, Kabupaten Bayung Lencir, yang dikelola Respol, menunjukkan daerah itu masih kaya akan migas.

“Kekayaan sumber daya alam di Muba luar biasa, kami bersyukur dengan adanya penemuan baru cadangan gas ini karena dapat bermanfaat untuk daerah dalam jangka panjang,” ujarnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
PGN, gas bumi

Editor : Herdiyan
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top