Tak Hanya Asap Karhutla, Ini Juga Bisa Bahayakan Manusia

Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan terjadi di sebagian besar wilayah Sumatra dan Kalimantan pada Agustus dan September tahun ini.
MediaDigital
MediaDigital - Bisnis.com 29 September 2019  |  16:53 WIB

Bisnis.com, PEKANBARU -- Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan terjadi di sebagian besar wilayah Sumatra dan Kalimantan pada Agustus dan September tahun ini.

Asap menyebabkan kualitas udara menurun, bahkan di beberapa daerah sudah sampai pada tahap berbahaya untuk dihirup makhluk hidup. Tentu akibat buruknya, banyak warga yang terkena penyakit dari kabut asap.

Untuk mengantisipasi hal itu, Dinas Kesehatan Provinsi Riau menyiapkan posko siaga asap, sebagai tempat rujukan berobat bagi masyarakat yang terganggu kesehatannya akibat asap.

Dokter di Posko Asap Public Service Center 119 Dinas Kesehatan Provinsi Riau, Riki Febrino mengatakan ada banyak risiko kesehatan yang ditimbulkan polusi udara akibat kabut asap karhutla.

"Salah satu yang sering didengar adalah ISPA atau infeksi saluran pernafasan atas, penyakitnya itu seperti bronkitis, tonsilofaringitis juga bisa yaitu peradangan di saluran pernafasan atas," ujarnya baru-baru ini.

Sementara itu bila asap dihirup dalam jangka panjang, manusia bisa mengalami penurunan fungsi paru-paru seperti asma, penyakit paru obstruktif kronik (PPOK), atau bahkan menderita infeksi pneumonia yang berisiko kematian bagi penderitanya.

Riki menyatakan berbagai penyakit akibat kabut asap itu, ternyata juga bisa ditimbulkan oleh hal lain, dan terjadi setiap harinya tanpa disadari masyarakat.

Pemicunya yakni akibat polusi udara yang berasal dari gas buang kendaraan bermotor.

Gas berupa karbon ini berasal dari pembakaran mesin yang tidak sempurna, sehingga sisa gas itu terbuang dan mencemari udara sekitar.

Menurutnya gas buang ini bila semakin banyak, akan meningkatkan polutan di udara. Akibatnya saat udara tersebut dihirup manusia, akan berisiko terserang penyakit.

Taufik Hidayat, Service Manager Dealer Honda Soekarno Hatta Pekanbaru menjelaskan penyebab timbulnya gas buang kendaraan itu akibat penggunaan bahan bakar beroktan rendah.

Dia mencontohkan penggunaan BBM dengan oktan rendah misalnya oktan 80, artinya hanya 80 persen terbakar, lalu sisanya yang 20 persen akan terbuang. 

"Hasil gas sisa pembakaran yang tidak sempurna inilah kemudian terbuang sia-sia dan akan merusak lingkungan," ujarnya.

Kondisi sebaliknya akan terjadi, bila mesin kendaraan menggunakan BBM dengan oktan tinggi misalnya di angka oktan 99, artinya 99 persen akan terbakar sehingga hampir tidak ada sisa pembakaran yang terbuang atau lebih ramah lingkungan.

Selain itu, BBM oktan tinggi juga punya dampak positif lain, terutama bagi mesin kendaraan.

Misalnya kinerja mesin akan meningkat atau makin bertenaga, disebabkan tingginya tingkat pembakaran dan membuat konsumsi bahan bakar semakin hemat karena hampir tidak ada gas buang yang tersisa.

Untuk jangka panjang, menggunakan bahan bakar oktan tinggi akan membuat mesin tahan lama dan awet.

Karena sudah dilengkapi dengan zat aditif yang bisa membersihkan ruang bakar serta mengandung antikarat.

Karena itu Taufik menyarankan agar masyarakat pengguna kendaraan bermotor, agar memakai BBM dengan oktan tinggi.

"Saya menyarankan supaya gunakanlah bahan bakar yang punya oktan lebih tinggi, supaya gas buang dari mobil itu lebih ramah lingkungan, tenaga mesin makin besar, dan mesin jadi lebih awet juga," ujarnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Karhutla

Editor : MediaDigital

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top