Sumut Terdampak Karhutla, Begini Imbauan Gubernur Edy Rahmayadi

Kabut asap menyelimuti sebagian wilayah Sumatra Utara sejak beberapa hari terakhir. Kabut asap yang diduga dampak kebakaran hutan dan lahan itu dirasakan masyarakat di Labuhanbatu Selatan dan Nias.
Asteria Desi Kartika Sari
Asteria Desi Kartika Sari - Bisnis.com 20 September 2019  |  21:43 WIB
Sumut Terdampak Karhutla, Begini Imbauan Gubernur Edy Rahmayadi
Ilustrasi-Kabut asap di Riau - Antara

Bisnis.com, MEDAN – Kabut asap menyelimuti sebagian wilayah Sumatra Utara sejak beberapa hari terakhir. Kabut asap yang diduga dampak kebakaran hutan dan lahan itu dirasakan masyarakat di Labuhanbatu Selatan dan Nias.

Untuk menghindari dampak buruk karhutla, Gubernur Sumatra Utara (Sumut) Edy Rahmayadi meminta seluruh komponen pemerintah dan masyarakat peduli.

“Setiap kabupaten/kota harus membentuk posko kesehatan akibat asap Karhutla dan membagikan masker kepada masyarakat yang terdampak,” tegasnya melalui keterangan resmi yang diterima Bisnis, Jumat (20/9/2019).

Hujan yang turun beberapa hari terakhir, kata Edy, menjadi penyelamat sehingga dampak kabut asap tidak begitu parah. "Memang dampak  yang kita rasakan kecil, karena kita diselamatkan hujan. Sumatra Utara sedang sering hujan, "kata Edy.

 Untuk penanggulangan Karhutla, Gubernur mengingatkan pentingnya kerja sama antara TNI, Polri dan Pemerintah untuk memantau hotspot (titik api) di lapangan, dan senantiasa mempedomani instruksi Presiden Nomor 11 tahun 2015 tentang peningkatan pengendalian Karhutla dan Peraturan Perundang-undangan terkait pengendalian Karhutla.

Edy juga meminta para bupati/wali kota mengaktifkan Satgas Karhutla dan melibatkan masyarakat secara intensif.

Kepala daerah, ujarnya, harus siaga melakukan penanggulangan Karhutla di wilayahnya. Dalam keadaan mendesak atau darurat, kepala daerah dapat menggunakan belanja tidak terduga untuk memenuhi kebutuhan daerah atau masyarakat. Kepada daerah juga diminta mendukung penegakan hukum terhadap pelaku Karhutla.

Pangdam I/BB Mayjen TNI MS Fadhilah menyampaikan, terjadinya Karhutla 95 persen karena ulah manusia.

"Kebakaran hutan ini 95 persen karena ulah manusia, ada yang tingkatnya kecil hingga tingkat korporasi, motivasinya pun beragam,  ada motivasi karena tuntutan ekonomi, ada juga yang termotivasi melakukan Karhutla karena urusan politik," jelasnya.

Sementara itu, Wakapolda Sumut Brigjen Pol. Mardiaz Kusin Dwihananto menyampaikan, untuk wilayah Sumut ada tiga daerah yang rawan Karhutla dan perlu diwaspadai, yakni Mandailing Natal, Labuhanbatu Selatan, dan Taman Nasional Gunung Leuser.

"Saat musim kemarau, tiga lokasi tersebut rawan terjadi Karhutla, namun Taman Nasional Gunung Leuser yang berada di dekat Bahorok bisa diatasi karena sering terjadi hujan," terangnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
sumut, Karhutla

Editor : Saeno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top