Petani Sawit Inginkan Regulasi Komprehensif soal Penerapan Biodiesel B30

Kebijakan Presiden Joko Widodo untuk meningkatkan penggunaan bahan bakar biodiesel 30% campuran atau B30 pada bauran bahan bakar diesel menjadi sentimen positif terhadap peningkatan harga kelapa sawit. Kendati begitu, perlu adanya kajian regulasi komprehensif agar tidak membebani petani rakyat.
Asteria Desi Kartika Sari
Asteria Desi Kartika Sari - Bisnis.com 20 Agustus 2019  |  17:24 WIB
Petani Sawit Inginkan Regulasi Komprehensif soal Penerapan Biodiesel B30
Pengujian jalan kendaraan berbahan bakar B30. Foto ANTARA

Bisnis.com, MEDAN— Kebijakan Presiden Joko Widodo untuk meningkatkan penggunaan bahan bakar biodiesel 30% campuran atau B30 pada bauran bahan bakar diesel menjadi sentimen positif terhadap peningkatan harga kelapa sawit. Kendati begitu, perlu adanya kajian regulasi komprehensif agar tidak membebani petani rakyat.

Gus Dalhari Harahap, Ketua DPW Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (APKASINDO) Sumatra Utara, mengatakan petani mendukung kebijakan penerapan B30. Kendati begitu, lanjutnya masih banyak kendaraan yang menggunakan biodiesel karena masih adanya dexlite. Belum lagi, kebijakan untuk penggunaan B20 juga belum sepenuhnya berjalan.

“Dengan banyaknya serapan CPO untuk B30 atau sampai B50 malah lebih baik bagi petani. Artinya kebutuhan akan CPO lokal akan meningkat. Tidak bergantung dengan kebutuhan luar/ekspor,” jelasnya kepada Bisnis, Selasa (16//2019).

Dia mengatakan kebijakan tersebut akan menjaga penawaran dan permintaan yang berimbas pada harga tandan buah segar (TBS) petani. Untuk itu, katanya, perlu adanya ketegasan pemerintah dalam mengawal program yang bersentuhan langsung atau tidak langsung dengan petani.

Menurutnya, pemerintah harus jelas dalam membuat pangsa pasar mengenai kewajiban penggunaanya baik biosolar dan dexlite. Pasalnya, keberlangsungan pasar perlu dijaga agar tidak termakan biosolar yang murah dan ramah lingkungan, serta menjaga penggunaan sawit secara menyeluruh.

Menurutnya, tidak masalah kebijakan tersebut akan mengurangi ekspor, justru lebih baik mengurangi ekspor sawit secara signifikan. Meski, dunia masih sangat membutuhkan sawit sebagai sumber nabati yang termurah, dan produksinya yang cukup tinggi dibandingkan dengan sumber nabati lainnya. Masalahnya, negara di dunia seperti Eropa dan Amerika juga memiliki sumber nabati lain sepeti kedelai, bunga matahari, dan lain sebagainya. Dampaknya, timbul black campaign terhadap sawit.

“Untuk itu pemerintah perlu hadir melalui dengan membuat kajian regulasi yang komprehensif yang menguntungkan, serta melindungi petani sawit,” katanya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Biodiesel

Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top