Bank Indonesia: Kalau Kota Medan Terkendali, Inflasi Sumut Juga Terkendali

Bank Indonesia Perwakilan Sumatra Utara (Sumut) meminta Provinsi Sumatara Utara untuk lebih fokus menstabilkan harga bahan pokok di Kota Medan.
Asteria Desi Kartika Sari
Asteria Desi Kartika Sari - Bisnis.com 14 Agustus 2019  |  20:02 WIB
Bank Indonesia: Kalau Kota Medan Terkendali, Inflasi Sumut Juga Terkendali
Harga bahan pokok seperti cabai masih menjadi faktor utama panyebab inflasi di beberapa daerah, termasuk Sumatra Utara - Antara

Bisnis.com, MEDAN--Bank Indonesia Perwakilan Sumatra Utara (Sumut) meminta Provinsi Sumatara Utara untuk lebih fokus menstabilkan harga bahan pokok di Kota Medan.

Kepala Bank Indonesia Perwakilan Sumut Wiwiek Sisto Widayat mengatakan mengatakan Kota Medan berkontribusi paling besar, atau mencapai 82% di bandingkan dengan daerah-daerah lainnya.

"Kenapa tidak difokuskan ke Kota Medan. Kalau Medan terkendali maka inflasi [Sumatra Utara] terkendali, karena kan 82% kontribusinya," kata Wiwiek di Medan, Rabu (14/8/2019).

Dia mengatakan harga bahan pokok seperti cabai masih menjadi faktor utama panyebab inflasi di beberapa daerah, termasuk Sumatra Utara. Menurutnya, hal tersebut sebagai akibat dari kemarau panjang.

"Selain itu, kami juga dapat info dari petani ada beberapa hama yang membuat keriting daun cabai, sehingga membuat cabai busuk sebelum matang," jelasnya.

Guna menggendalikan inflasi daerah, Bank Indonesia bersama dengan Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) untuk menemukan solusi-solusi, baik dari jangka pendek, menengah, dan jangka panjang.

Sebelumnya, pihaknya bersama Gubernur Sumatra Utara Edy Rahmayadi melakukan survei di kabupaten Batubara. Menurutnya, daerah Batubara dapat menjadi sentra baru produksi cabai merah.

"Totalnya sangat menjanjikan, kurang lebih ada lahan 400 hektar di Batubara [untuk produksi cabai]," jelasnya.

Selanjutanya, menurutnya pengendalian harga juga dapat dilakukan dengan controlled atmosphere storage (CAS), yakni teknologi pengkondisian atmosfer pada ruang penyimpanan komoditas hortikultura. Itu digunakan untuk mempertahankan mutu dan memperpanjang umur simpan buah dan sayuran.

"Kalau yang jangka panjang bisa belajar dari DKI Jakarta dengan membentuk Badan Usaha Pangan, mereka berhasil menstabilkan harga bahan pokok. Sumut apalagi sebagai produsen pasti lebih mudah," jelasnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
bank indonesia

Editor : Ajijah

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top