Dorong Entrepreneur Kopi Sumatra dari Hulu

Kopi Sumatra bisa dibilang menjadi komoditi primadona di dunia. Bahkan dari segi harga pun menjadi yang tertinggi dibandingkan dengan kopi yang diproduksi negara lain.
Asteria Desi Kartika Sari
Asteria Desi Kartika Sari - Bisnis.com 07 Agustus 2019  |  18:30 WIB
Dorong Entrepreneur Kopi Sumatra dari Hulu
Ilustrasi - JIBI/Nurul Hidayat

Bisnis.com, MEDAN--Kopi Sumatra bisa dibilang menjadi komoditi primadona di dunia. Bahkan dari segi harga pun menjadi yang tertinggi dibandingkan dengan kopi yang diproduksi negara lain. Sayang, produksi yang masih minim menjadi permasalahan klasik yang kini menghantui kopi Indonesia.

Selainnya persoalan iklim, regenerasi petani kopi juga menjadi alasan seretnya produksi kopi Indonesia. Banyak generasi muda yang enggan untuk bertanam kopi. Kesejahteraan petani mungkin masih menjadi momok bagi generasi milenial untuk mau terjun menjadi petani.

Guna menangani permasalahan tersebut, Ketua BPD Asosiasi Eksportir Kopi Indonesia (AEKI) Sumatra Utara Saidul Alam mengatakan AEKI telah mempersiapkan solusi jangka panjang untuk mengubah pola pikir masyarakat, yakni dengan memberikan edukasi tentang perkopian dari hulu hingga ke hilir.

“Ini akan menjadi agenda tetap, dengan begitu anak muda akan merasa memiliki dan tertarik masuk ke industri kopi sejak usia muda,” kata Alam.

Dia mengatakan edukasi tentang kopi tersebut akan dimulai dari penetahuan asal mula kopi, bagaimana pengolahannya hingga mengajak untuk minum kopi. Setelah mengetahui tentang kopi itu, milenial pun akan bisa menghargainya.

Alam mencontohkan, ketidaktertarikan anak muda tampak di sentra-sentra kopi yang semua petaninya sudah berumur tua. Hal tersebut bisa mengkhawatirkan, apalagi jika nanti petani-petani tersebut sudah tidak memiliki tenaga lagi untuk mengelola kebunnya.

Sangat dikhawatirkan, jika petani tersebut nanti benar-benar tidak punya tenaga lagi mengelola kebunnya, bisa saja akan dijual atau dialihkan ke tanaman lain.

"Ini bukan berita bagus untuk industri kopi. Karenanya harus ada edukasi kepada milenial agar bertanam kopi juga bisa menjadi pilihan karir. Edukasi ini juga diharapkan bisa menggiring anak muda menjadi seorang entrepreneur di industri kopi yang kini terus tumbuh setiap tahun," kata Alam.

Untuk agenda edukasi ini, AEKI sudah mengembangkannya melalui kerja sama dengan Institut Pertanian (Instiper) Yogyakarta dengan meluncurkan Pusat Sains Nusantara. Melalui kerja sama ini, edukasi milenial tentang kopi dari hulu hingga hilir bisa lebih maksimal.

Untuk Sumut sendiri, lanjutnya, ada sinergi dengan Pemerintah Provinsi Sumatra Utara (Pemprovsu) melalui Dinas Perkebunan serta Dinas Perindustrian dan Perdagangan Sumatra Utara. Dengan keterlibatan pemerintah, diharapkan produksi dan industri kopi bisa semakin berkembang.

Alam menambahkan yang masih menjadi pekerjaan rumah memang meningkatkan produksi seperti negara lain. Dia mengatakan Indonesia memiliki luas areal kebun kopi 1,3 juta hektar.

“Tapi ekspor kita per tahun rata-rata 600 ribu ton, yang terserap di dalam negeri 200 ribu ton. Kalau dibandingkan dengan luas areal kurang lebih produksi kita masih sekitar 700-800 ribu ton,” tambahnya.

Guna meningkatkan itu, lanjutnya, AEKI akan bersinergi dengan pemerintah melalui dinas perkebunan. AEKI tidak berani menargetkan jumlah produksi kopi, pasalnya, sebanyak 96% adalah tanaman rakyat masing-masing. “ Tapi kami mulai buat perkebunan percontohan, tapi memang masih minim belum dapat mengangkat angka [produksi] nasional , ataupun provinsi Sumut sendiri,” jelasnya.

Kendati begitu, Ketua Umum Asosiasi Eksportir Kopi Indonesia (AEKI) Irfan Anwar produksi yang minim tidak boleh membuat industri pesimis. Pasalnya, konsumsi kopi di dalam negeri masih tinggi. Tingkat konsumsi masih tumbuh sekitar 8%-14%. Persentase tersebut, menurutnya tergantung kondisi setiap kota, tingkah laku, hingga pendapatan perkapita.

Irfan mengatakan untuk Asia, Korea menjadi negara dengan tingkat konsumsi tinggi. Bahkan negara-negara maju seperti Amerika Serikat dan Jepang masih tumbuh sekitar 1%. Hal tersebut yang membuat masa depan perkopian cukup baik.

"Kita tidak boleh terfokus pada produksi kopi kurang, cuaca dan lainnya. Kita lihat hal yang positif lah, supaya kita bisa memberdayakan sumber daya yang banyak. Kalau Kita lihat petani kurang sejahtera, ya gimana mereka juga harus memperbaiki diri," kata Irfan di Medan.

Menurutnya, Kopi dalam lima tahun terakhir tumbuh luar biasa. Kebiasaan dan kelas kopi berkembang yang menandakan orang sudah mengetahui Indonesia memiliki kopi yang bagus. Apalagi dengan berlabel primadona, tentu harga mahal akan tetap melekat pada kopi Indonesia, khususnya kopi Sumatra.

Kualitas tinggi yang dimiliki kopi Indonesia membuatnya menjadi incaran buyer (pembeli) luar negeri. Itu membuat, harga kopi asal Indonesia menjadi yang termahal di dunia. Saat ini, harganya berkisar US$ 5,5/kg. Bahkan harga ini berbeda US$ 2,5/kg dibandingkan produsen kopi lainnya di dunia seperti Vietnam dan Brazil hanya sekitar US$ 3/kg.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
sumatra, kopi

Editor : Rustam Agus

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top