Penghiliran Sawit Bisa Dipercepat dengan Kepastian Regulasi

Penyerapan produk olahan sawit lokal dianggap masih rendah sehingga diperlukan regulasi yang mendukung penghiliran sawit di Sumatra Utara.
Duwi Setiya Ariyanti
Duwi Setiya Ariyanti - Bisnis.com 09 Januari 2019  |  13:17 WIB
Penghiliran Sawit Bisa Dipercepat dengan Kepastian Regulasi
Warga membawa tandan buah segar (TBS) kelapa sawit hasil panen menggunakan kapal motor di Londerang, Kumpeh, Muarojambi, Jambi, Sabtu (22/12/2018). Harga TBS yang beberapa waktu sebelumnya sempat turun mulai bergerak naik untuk periode 21-27 Desember 2018 sebesar Rp51 per kilogram atau dari Rp934 per kilogram menjadi Rp985 per kilogram. - Antara/Wahdi Septiawan

Bisnis.com, MEDAN – Penyerapan produk olahan sawit lokal dianggap masih rendah sehingga diperlukan regulasi yang mendukung penghiliran sawit di Sumatra Utara.

Sekretaris Jenderal Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Sumatra Utara, Timbas Prasad Ginting mengakui kemampuan pengolahan sawit di dalam negeri masih minim. Sebagai contoh, dia menyebut kemampuan pengolahan baru menyentuh 50 jenis produk ketika Malaysia sudah bisa menghasilkan hingga 125 produk.

Adapun, terdapat beberapa cara hilirisasi sawit yang bisa dikembangkan. Pertama, hilirisasi oleo pangan, yakni pengolahan dengan hasil akhir produk pangan seperti minyak goreng dan mentega.

Kedua, hilirisasi oleo kimia yang menghasilkan oleokimia dasar seperti biosurfaktan yaitu deterjen, sabun dan sampo. Lalu, produk berupa pelumas dan bioplastik.

Ketiga, yakni biofuel atau pengolahan crude palm oil (CPO) sebagai bahan campuran atau bahan bakar kendaraan juga sumber tenaga listrik.

Menurutnya, diperlukan kepastian usaha dari sisi regulasi yang menjamin seluruh varian hasil olahan CPO bakal terserap. Regulasi tersebut, katanya, menjadi modal agar bisnis pengolahan berjalan lancar.

Untuk produk FAME, katanya, meskipun cukup banyak produsen yang ditunjuk untuk memasok FAME sebagai campuran biodiesel, penggunaan di tingkat akhir masih minim sehingga penyerapan bahan bakar nabati tak secepat bahan bakar minyak.

"Banyak departemen yang ikut campur sehingga investor kurang tertarik. [Bisnis pengolahan] yang sudah ada pun bisa enggak lancar," ujarnya saat dihubungi, Selasa (8/1/2019).

Menurutnya, hilirisasi bisa membantu produsen untuk menggarap peluang pasar di dalam negeri di tengah persaingan di pasar global. Meskipun, diperlukan ongkos tambahan untuk membangun fasilitas pengolahan.

"Bisa buat bioavtur, biobensin, tidak perlu ekspor CPO pun bisa diserap dalam negeri," katanya.

Dari sisi ketenagalistrikan, pembangkit listrik tenaga biogas (PLTBg) yang menggunakan palm oil mill effluent (POME) atau limbah cair kelapa sawit pembangkit listrik tenaga biomassa (PLTBm) yang berasal dari limbah seperti cangkang kelapa sawit dan kayu, sekam padi, tongkol jagung, ampas tebu, dan serbuk kayu baru menyumbang 0,1% atau sebesar 11,9 mega watt (MW) dari total kapasitas terpasang yaitu 2.011 MW.

Manager Komunikasi PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) UIW Sumatra Utara, Rudi Artono mengatakan tenaga listrik terbesar berasal dari pembangkit listrik tenaga air (PLTA) yakni 867,2 MW atau 43,1% dan PLTA jenis pump storage sebesar 500 MW atau 24,9% dari porsi total. Adapun, dari sisi beban puncak, tercatat sebesar 1.487 MW.

"Bauran energi PLTBg/PLTBm 11,9 MW atau 0,1%," katanya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
sawit, penghiliran industri

Editor : Miftahul Ulum

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top