Kelapa dan Bubur Kayu Masuk 7 Komoditas Andalan Ekspor Sumsel

Profil 7 komoditas ekspor andalan Sumatra Selatan pada periode November 2018 mengalami perubahan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, dengan masuknya 4 komoditas baru.
Dinda Wulandari
Dinda Wulandari - Bisnis.com 02 Januari 2019  |  16:45 WIB
Kelapa dan Bubur Kayu Masuk 7 Komoditas Andalan Ekspor Sumsel
Petani memindahkan kelapa sawit hasil panen ke atas truk - Bisnis/Rachman

Bisnis.com, PALEMBANG – Profil 7 komoditas ekspor andalan Sumatra Selatan pada periode November 2018 mengalami perubahan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, dengan masuknya 4 komoditas baru.
 
Berdasarkan catatan Badan Pusat Statistik (BPS) Sumatra Selatan (Sumsel), sekarang tujuh komoditas ekspor non migas Sumsel juga mencakup bubur kayu (pulp), kelapa, amonia anhidrat, dan pupuk urea.
 
Sementara itu, dari penelusuran Bisnis.com, 4 komoditas tersebut pada periode November 2017 tidak masuk dalam daftar 7 besar komoditas penyumbang ekspor terbesar. Pada periode tersebut, komoditas udang, kopi, dan teh masih masuk dalam daftar ini.
 
Kepala BPS Sumsel Endang Tri Wahyuningsih mengatakan secara umum ekspor non migas Sumsel masih bergantung pada karet, batu bara, dan minyak kelapa sawit (CPO).
 
“Hal itu juga bisa dilihat dari negara tujuan ekspor Sumsel, di mana masih banyak ke China untuk batu bara, maupun ke Malaysia,” ujarnya, Rabu (2/1/2019).
 
Endang melanjutkan Sumsel seharusnya bisa terus menggarap komoditas lain untuk menjadi andalan ekspor non migas karena memiliki banyak potensi. Salah  satunya di sektor perikanan, misalnya ikan patin.
 
Sementara itu, Kepala Biro Perekonomian Sekretariat Daerah (Setda) Sumsel Afrian Joni mengungkapkan akan lebih baik jika ekspor Sumsel tak lagi sekadar bahan mentah.
 
“Coba kita ciptakan produk di era saat ini. Batu bara misalnya, diekspor dalam bentuk setengah jadi dan tak lagi bongkahan mentah. Begitu pula dengan karet,” tuturnya.

Negara tujuan ekspor pun mestinya bisa didiversifikasi sehingga tidak melulu pasar tradisional seperti China dan Malaysia. Afrian menyebut negara-negara Timur Tengah yang bisa disasar untuk produk busana Muslim.
 
Adapun neraca perdagangan Sumsel pada periode November 2018 tercatat surplus US$237 juta. Hal tersebut tidak terlepas dari kinerja ekspor yang didorong oleh ekspor non migas, yang tercatat sebesar US$237,46 juta.

Sementara itu, impor Sumsel tercatat sebesar US$32,47 juta.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
ekspor, sumsel

Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top