Genjot Okupansi Penumpang, Kecepatan LRT Dievaluasi

Pemerintah pusat berupaya menggenjot okupansi penumpang kereta api ringan atau light rail transit (LRT) Sumatra Selatan secara bertahap karena saat ini masih rendah.
Dinda Wulandari | 25 November 2018 15:27 WIB
Light Rail Transit (LRT) di Palembang, Sumatra Selatan, Rabu (1/8/2018). - JIBI/Arif Budisusilo

Bisnis.com, PALEMBANG – Pemerintah pusat berupaya menggenjot okupansi penumpang kereta api ringan atau light rail transit (LRT) Sumatra Selatan secara bertahap karena saat ini masih rendah.

Menteri Perhubungan RI Budi Karya Sumadi mengatakan pihaknya menargetkan okupansi LRT Sumsel bisa mencapai 90% melalui enam parameter atau kriteria.

“Jumlah penumpang itu berbanding lurus dengan enam parameter itu. Contohnya kalau kecepatan dinaikkan, okupansi bisa meningkat 10%,” katanya saat konferensi pers di Palembang, Minggu (25/11/2018).

Kecepatan adalah satu dari enam parameter yang dimaksud Budi. Diketahui kecepatan LRT Sumsel rata-rata hanya 21,5 kilometer per jam. Dengan rincian kecepatan di lengkungan maksimal 15 km per jam, untuk kecepatan lainnya maksimal 40 km per jam.

Sementara itu target kecepatan operasi di lengkung maksimal jadi 20 km per jam, dan kecepatan di tracklurus maksimal 70 km per jam. Atau rata-rata kecepatan operasi 27,3 km per jam.

“Target peningkatan kecepatan itu setelah fasilitas operasi selesai pada Maret 2019,” katanya.

Parameter lainnya, kata Budi, adalah waktu tempuh yang diharapkan menjadi 42 menit dari Stasiun Bandara SMB II hingga ke Stasiun terakhir, yakni DJKA yang terletak di Jakabaring. Saat ini waktu tempuhnya masih berkisar 62 menit.

Parameter ketiga, adalah waktu operasi. Saat ini operator LRT Sumsel, yakni PT Kereta Api Indonesia (KAI) baru mengoperasikan moda transportasi itu dari pukul 06.00 hingga 18.00 WIB. Menhub berharap jam operasional LRT bisa ditambah menjadi pukul 05.00 hingga pukul 22.00 WIB.

Keempat terkait feeder atau angkutan pengumpan. Jika LRT telah terintegrasi dengan angkutan lainnya, maka penumpang lebih dimudahkan dan membuat perjalanan semakin efektif.

“Kami akan lihat feeder ini supaya maksimal. Secara  sederhana feeder berada tegak lurus terhadap fungsi-fungsi LRT sehingga [LRT] jadi angkutan jangkar utama,” katanya.

Kelima, kompetensi dengan angkutan lainnya. Dan, keenam menyangkut head way  atau waktu antara kereta LRT.

Menhub menargetkan headway hanya 25 menit sesuai grafik perjalanan kereta api (gapeka). Sementara saat ini headway masih 33 menit.

Tag : LRT
Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Top