Badan Otorita Danau Toba Kebut Persiapan Kawasan Investasi

Sejalan dengan target pengembangan pariwisata nasional, Badan Pelaksana Otorita Danau Toba mengebut persiapan kawasan otorita untuk memudahkan masuknya investor ke destinasi tersebut.
Ropesta Sitorus | 28 Agustus 2018 20:22 WIB
Wisatawan berada di kawasan Pantai Bebas Danau Toba, Parapat, Simalungun, Sumatera Utara, Jumat (27/10). Pemerintah terus melakukan pengembangan pariwisata ke Danau Toba diantaranya membangun infrastruktur menuju kawasan Danau Toba, yang kini menjadi salah satu dari 10 tujuan wisata prioritas di Indonesia. ANTARA FOTO - Irsan Mulyadi

Bisnis.com, MEDAN – Sejalan dengan target pengembangan pariwisata nasional, Badan Pelaksana Otorita Danau Toba mengebut persiapan kawasan otorita untuk memudahkan masuknya investor ke destinasi tersebut.

Direktur Utama BPODT Arie Prasetyo menuturkan untuk merangsang tumbuhnya investasi, pihaknya tengah mempersiapkan kawasan khusus yang berlokasi di Sibisa, Ajibata, Kabupaten Toba Samosir.

“Investasi awal harus di-trigger, caranya dengan membikin kawasan di mana orang kalau mau investasi dia tinggal bawa koper. Nah di Danau Toba itu dibikin di Sibisa,” katanya saat ditemui Bisnis di Tuktuk, Samosir, Minggu (28/8/2018).

Arie menyampaikan, pemerintah telah memperbaiki aksesibilitas berupa jaringan jalan dan meningkatkan kapasitas bandara di Sibisa. Selain itu, pihaknya juga akan membangun beberapa fasilitas lain, termasuk penyiapan air bersih dan sanitasi.

Dia menyebutkan areal khusus tersebut menyerupai kawasan Nusa Dua di Bali yang dulu dikembangkan untuk menarik investor, khususnya terkait wisata MICE (meeting, incentives, conferencing, exhibitions).  

“Itu akan jadi satu kawasan dengan manajemen khusus kayak Nusa Dua di Bali untuk mengurus semua kebutuhan investor. Kami usulkan bentuknya nanti berupa KEK di bawah Kemenko.”

Menurutnya, sudah ada sejumlah investor, mayoritas dari dalam negeri, yang berminat membangun fasilitas MICE, mulai dari hotel berbintang hingga sarana penginapan berupa perkemahan.

Namun, prosesnya terkendala lantaran aspek legalitas lahan yang masih belum rampung.

“Sampai akhir September, aspek legalitas lahan sudah harus selesai, harus bisa karena itu adalah lahan pemerintah yang dialihfungsikan ke BPODT untuk dikelola seluas 400 hektar. Sekarang dalam proses pengukuran oleh Badan Pertanahan Nasional, begitu selesai, investor bisa mulai masuk,” imbuhnya.

Pengembangan wilayah Danau Toba diperkirakan mencapai Rp20 triliun, dengan alokasi separuh dari pemerintah untuk infrastruktur dasar dan separuh lainnya dari pihak swasta. Dalam menarik minat calon investor, BPODT akan menggelar investor gathering pada Oktober mendatang.

Pada perkembangan lain, lanjut Arie, pemerintah juga tengah menyiapkan integrated tourism masterplan program (ITMP) yang akan mencakup 8 kabupaten di sekitar Kawasan Strategis Pariwisata Nasional Danau Toba.

Penyusunan dilakukan oleh Kementerian PUPR melalui Badan Pengembangan Infrastruktur Wilayah berkoordinasi dengan Kementerian Pariwisata dan Badan Koordinator Penanaman Modal (BKPM), menggunakan dana bantuan dari Bank Dunia.

“Danau Toba hanya dikenal lewat Samosir dan Parapat yang memang sudah lebih siap akomodasi dan atraksinya. Tapi ini adalah produk tahun 80-an dan masih ada banyak daerah yang berpotensi di sekitar Danau Toba, seperti Balige dan Humbahas,” lanjutnya.

Arie mencontohkan bagaimana upaya pengembangan destinasi wisata yang dilakukan di Bali untuk membuat turis tersebar alih-alih hanya terpusat di kawasan Kuta. Saat ini ada setidaknya 15 kawasan wisata yang juga tenar di Bali seperti daerah Ubud, dan Sanur.

“Toba juga nanti dikonsepkan seperti itu, kita revitalisasi Parapat dan Tomok. Kita ciptakan peluang-peluang untuk investasi di daerah lain yang potensial,” paparnya.

Selain penginapan, beberapa subsektor lain yang tak kalah menarik adalah terkait transportasi dan infrastruktur lain seperti kapal. Danau Toba yang dikenal sebagai danau vulkanis terluas di Asia Tenggara membutuhkan infrastruktur pelayaran yang memadai.

Adapun layanan kapal untuk wisata atau carter masih terbilang jarang. “Kalau yang betul-betul untuk wisata berjadwal seperti dining cruise kayak di luar negeri, itu belum ada. Tapi sudah ada beberapa investor yang mau mengembangkan itu,” kata Arie.

Dia menjelaskan, ada dua investor lokal yang telah mulai menyiapkan bentuk wisata cruise di Danau Toba dengan konsep yang menarik.

“Satu bikin kayak konsep live on board di kapal dikolaborasikan dengan atraksi di darat seperti desa wisata. Satu lagi konsepnya kayak dining cruise atau restoran terapung di beberapa lokasi seperti di Ajibata dan Tomok,” ungkapnya.

Meski selama ini belum ada, dia yakin segmen pasar luxury untuk bentuk-bentuk wisata baru tersebut pasti akan tumbuh jika pasokannya sudah disiapkan.

Bentuk pengembangan tersebut diharapkan dapat mempercepat terwujudnya target 1 juta wisatawan di Danau Toba dan 20 juta wisatawan mancanegara di Indonesia secara keseluruhan yang dipatok pemerintah pada 2019.

Tag : danau toba
Editor : Rustam Agus

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top