Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Kisah Perajin Tenun di Sijunjung yang Merdekakan Ekonomi Kaum Perempuan

Tenun Unggan Lansek Manih Sijunjung adalah produk yang populer di Sumbar dan bahkan penjualnya telah sampai ke Timur Tengah
Muhammad Noli Hendra
Muhammad Noli Hendra - Bisnis.com 15 November 2022  |  19:52 WIB
Kisah Perajin Tenun di Sijunjung yang Merdekakan Ekonomi Kaum Perempuan
Indra Yeni (kanan) melakukan pemberdayaan kepada seorang perempuan di Kabupaten Sijunjung, Sumatra Barat - istimewa
Bagikan

Bisnis.com, SIJUNJUNG - Indra Yeni merupakan seorang perajin tenun di Kabupaten Sijunjung, Provinsi Sumatra Barat. Tenun Unggan Lansek Manih Sijunjung adalah produk yang populer di Sumbar dan bahkan penjualnya telah sampai ke Timur Tengah.

Usahanya itu telah dimulai sejak tahun 1994 silam. Dulu, untuk memulai usaha tenun itu, dia memberanikan diri membeli alat tenun bekas satu pasang seharga Rp950.000. Dari sana, Indra Yeni memulai menenun. Melalui masa-masa jatuh bangun bukanlah hal asing baginya, dan hingga kini dia dikenal sebagai penyelamat kaum perempuan untuk memperkuat ekonomi.

"Saya menyadari betul, kalau saya ini perempuan biasa-biasa saja. Tapi untuk tenun ini, memang saya bertekad untuk membuat yang terbaik. Karena tentun unggahan itu, dikembangkan di kampung halaman saya di Nagari Unggan, Kecamatan Sumpur Kudus, Kabupaten Sijunjung," katanya, Selasa (15/11/2022).

Dengan memiliki pengalaman itu, muncul keinginan Indra Yeni untuk mengajak kaum perempuan lainnya untuk jalan bersama dalam usaha tenun tersebut.

"Saya memberdayakan perempuan melalui kerajinan tenun ini, agar mereka bisa merdeka untuk dirinya sendiri. Perempuan itu harus membantu keluarganya di segi pendapatan ekonomi," ujarnya.

Dia melihat persoalan kekerasan dalam rumah tangga yang dialami kaum perempuan salah satunya disebabkan faktor ekonomi yang tidak mencukupi. Makanya melalui pemberdayaan perempuan untuk menenun ini, bisa membantu ekonomi keluarga.

Menurutnya agar kaum perempuan dapat membantu ekonomi keluarga, maka kaum perempuan harus mandiri dari sisi usaha kerajinannya itu. Karena, apabila kaum perempuan ditinggal pisah suaminya, 

baik karena perceraian maupun pisah karena sang suami sudah meninggal dunia, tentunya kaum perempuan akan kesulitan untuk penopang kehidupan selanjutnya. 

"Ini sudah banyak contohnya. Jadi ada baiknya ada keahlian dalam tenun ini," ujarnya.

Perjalanan Usaha Tenun Unggan

Indra Yeni menceritakan kisah suksesnya merintis usaha Tenun Unggan Lansek Manih yang dimulainya sejak 1994. 

Satu tahun sebelumnya, dia pernah belajar menenun dengan orang Pandai Sikek yang tinggal di Lareh Sago Halaban, Kabupaten Lima Puluhkota. Saat itu, Yeni masih tinggal bersama suaminya di Halaban. Tiga bulan belajar, pada tahun 1994 dia pun pindah kekampung halamannya di Nagari Unggan. 

Di Unggan, sebutnya, dia pun mulai mengembangkan bakatnya dengan merintis usaha tenun dengan merek Tenun Unggan Lansek Manih. Dengan modal Rp950 ribu, dia pun membeli alat tenun bekas satu pasang. 

Kemudian, meja tenun dibuat sendiri oleh suaminya bernama Syami Usman Chaniago, yang memang berprofesi sebagai tukang kayu.

Namun sayangnya, usahanya untuk mengembangkan bakatnya sempat jadi cemooh sejumlah orang. Bahkan, ada yang menyebut dia gila, karena Unggan terisolir dan tidak ada orang yang akan membeli songketnya. Meski begitu, dia tak peduli. 

Dengan kerja keras, dia terus berusaha mengembangkan usaha kerajinan tenun. Barulah pada tahun 2004, Yeni menyerah dan tak mampu untuk melanjutkan usaha kerajinannya. 

Penyebabnya, kata wanita yang akrab disapa Yeni itu, bukan karena cemoh orang-orang, tapi faktor buruknya akses jalan di Unggan. 

"Saya tidak menyalahkan orang bilang saya gila, karena memang Unggan itu daerah terisolir dan paling ujung di Sijunjung. Akses jalannya buruk dan susah dilewati kendaraan. Saya sering jatuh dari sepeda motor saat mau beli bahan tenun di Silungkang. Kadang-kadang, benang yang saya beli tadi juga ikut jatuh," katanya.

"Ini baru soal akses jalan, belum lagi soal tidak adanya jaringan seluler yang membuat saya sulit untuk berkembang. Karena, jual tenun itu tidak bisa dari mulut ke mulut, harus kuat promosinya dan membangun jaringan. Tentunya, membangun jaringan itu butuh komunikasi yang lancar, tentunya lewat sambungan telephone," sambung Yeni.

Pada tahun 2005, katanya melanjutkan, dia kembali melanjutkan usaha kerajinan tenun. Selain untuk menambah pemasukan keluarga, upayanya untuk kembali memulai usaha kerajinan tenun juga karena desakan sejumlah kaum perempuan di Unggan yang sebelumnya sempat dibinanya. 

Perlahan tapi pasti, pada 2007 usaha tenunnya mulai berkembang cukup baik berkat meng-inovasikan hasil tenun untuk bahan baju. 

"Kalau sebelumnya, saya hanya buat tenun untuk songket. Alhamdulillah, pasar tenun untuk baju ini sangat bagus, tidak hanya di Sijunjung saja, tapi juga meluas hingga ke berbagai daerah di Sumbar seperti Padang, Bukittinggi, Dharmasraya, Payakumbuh, serta beberapa kabupaten/kota lainnya di Sumbar. Permintaannya cukup banyak waktu itu," jelasnya.

Di tengah perkembangan usaha kerajinan tenun mikiknya yang cukup baik, permintaan pasar pun makin banyak dan Yeni pun kesulitan untuk memenuhui kebutuhan pasar, terutama di segi permodalan. Bahkan, banyak pihak reseller yang kecewa karena dirinya tidak bisa mensuplai tenun sesuai dengan jadwal yang ditentukan.

Beruntung pada 2012, dirinya mendapat perhatian dari CSR Semen Padang, sehingga dia pun mendapatkan pinjaman modal usaha sebesar Rp20 juta. Berkat pinjaman modal usaha dari perusahaan semen pertama di Indonesia dan Asia Tenggara tersebut, dia pun membeli alat tenun, benang dan berbagai peralatan lainnya. Seiring dengan itu, jumlah karyawannya pun bertambah. 

"Kalau saat ini, jumlah karyawan saya ada 40 orang. Mereka ini saya berikan upah berdasarkan kain tenun yang diproduksi. Dari Rp100 ribu sampai Rp450 ribu untuk satu helai kain tenun. Dan, mayoritas karyawan saya merupakan perempuan hebat, dan tanguh di Nagari Unggan dan sekitarnya. Mereka kini sudah mandiri dan bisa bantu ekonomi keluarga," ujarnya. 

Yeni menyampaikan bukan sekali saja dapat pinjaman dari Semen Padang, tapi sudah tiga kali. Pinjaman kedua Rp40 juta dan yang ketiga Rp100 juta. 

Sekarang pinjaman tersebut sudah dilunasinya dan usahanya terus maju dan berkembang. Bahkan saat ini, dia pun sudah memiliki workshop pelatihan menenun di Muaro Sijunjung.  

Selain itu melalui berbagai kegiatan seperti pameran ke berbagai daerah di Indonesia, memberikan dampak bagi usahanya. Pelanggannya bertambah. Bahkan, ada juga pesanan dari beberapa negara yang ada di Timur Tengah melalui perantau minang yang ada di Qatar. 

"Ke Timur Tengah ini rutin saya kirim tiap bulan. Dan, pengiriman itu sudah dilakukan sejak 2018 sampai sekarang. Rata-rata dalam sebulan, ada sekitar 150 lembar kain tenun yang dikirim. Selain itu, saya juga rutin mensuplai kain tenun untuk reseller yang ada di Jakarta, Payakumbuh, Bukittinggi dan Padang. Paling banyak itu Jakarta," ungkapnya. 

Kesuksesan yang diraih Yeni, ternyata juga sejalan dari sederet penghargaan yang diraihnya, baik dari pemerintah maupun dari lembaga swasta. 

Di antaranya, penghargaan sebagai Pelestarian Budaya Kementerian Desa Tertinggal pada tahun 2011, pemenang terbaik Tingkat Nasional UMKM UI kerja sama dengan City bank UKM Center UI City Mircoprenuership Award 2013, dan peringkat Terbaik dari Women Skill pada hari perempuan sedunia tahun 2014.

Kemudian, meraih penghargaan dari Universitas Indonesia setelah mengikuti motivasi dan Training form zero to hero tahun 2015, meraih penghargaan Alumni UMKM Center Terbaik, sebagai Narasumber Terbaik yang selenggarakan UI pada tahun 2015, menerima pengharagaan Upakartik kategori Pelopor dari Ditjen, IKM Kementerian Perindustrian tahun 2017, dan penghargaan SKIM Karya tahun 2020.

Berbagai penghargaan tersebut, kata Yeni, tidak terlepas atas kontribusinya memberdayakan perempuan lewat usaha kerajinan tenun, termasuk menjadi pelopor songket Unggan Lansek Manih asal Sijunjung. 

Bahkan, perempuan tangguh itu kini menjadi instruktur pelatihan tenun dari Balai Diklat Industri (BDI) Padang untuk 16 nagari di Sijunjung, termasuk intruktur pelatihan tenun di Lapas Kelas II B Sijunjung sejak 2014 hingga sekarang. 

Menariknya, peserta pelatihan tenun di Lapas Sijunjung tidak hanya diikuti oleh narapidana perempuan, tapi juga ada yang laki-laki. Bahkan, ada salah satu mantan narapidana Lapas Sijunjung yang menjadi asistennya untuk instruktur pelatihan tenun. 

"Asisten saya yang mantan narapidana itu laki-laki. Tahun besok kami pun akan memberikan pelatihan tenun di Dharmasraya," ungkap Yeni.

Terkait sederet penghargaan yang telah diraihnya, bagi Yeni itu merupakan hal yang luar biasa bagi dirinya pribadi. Apalagi, dia hanya tamatan SMP. "Ini hal yang luar biasa bagi saya. Saya tidak berjalan sendiri, saya bersama teman-teman semua, berbagi ilmu membantu kaum perempuan dengan sehelei demi sehelei benang memberantas kemiskinan," katanya.

Saat ini, tambah Yeni, dirinya tidak akan berhenti menyuarakan, mengajak dan memotivasi kaum perempuan untuk terus bertekat kuat, maju, dan kerja keras, terutama kaum perempuan di Unggan, agar mereka bisa mandiri dan bisa memerdekan dirinya sendiri, termasuk untuk menyokong pendapatan ekonomi keluarganya, agar mereka bisa memberikan pendidikan yang tinggi untuk anak-anak mereka. 

"Ini yang terus saya perjuangkan. Jangan sampai anak-anak kita tidak mendapatkan pendidikan yang tinggi. Untuk itu, kepada kaum perempuan, khususnya di Unggan, dan Indonesia pada umumnya, ayo bangkit, lakukan kreatifitas untuk mensejahterakan diri kita sendiri, mandiri, inovatif dan tetap semangat," pungkas Yeni.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

tenun sumbar
Editor : Ajijah
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

Terpopuler

Banner E-paper
back to top To top