Wabah Virus di China Bakal Kerek Permintaan Sarung Tangan Global asal Sumut

Permintaan sarung tangan global diperkirakan bakal terkerek seiring dengan kekhawatiran penularan lebih luas virus menyerupai SARS (Severe Acute Respiratory Syndrome) yang sedang mewabah di China.
Azizah Nur Alfi
Azizah Nur Alfi - Bisnis.com 23 Januari 2020  |  12:21 WIB

Bisnis.com, MEDAN - Permintaan sarung tangan global diperkirakan bakal terkerek seiring dengan kekhawatiran penularan lebih luas virus menyerupai SARS (Severe Acute Respiratory Syndrome) yang sedang mewabah di China.

Presiden Direktur PT Mark Dynamics Indonesia Tbk. (MARK) Ridwan Goh menyampaikan China tidak memiliki penggunaan sarung tangan yang tinggi per kapita dibandingkan dengan negara-negara maju dikarenakan rendahnya tingkat kesadaran kesehatan. Apabila wabah ini berkepanjangan, maka permintaan sarung tangan secara global akan meningkat secara tajam.

Kenaikan permintaan sarung tangan global akan menguntungkan MARK sebagai pemasok 35% pasar cetakan sarung tangan karet global, dengan pasar utama Malaysia. Malaysia merupakan pemasok sarung tangan terbesar di dunia dengan pangsa pasar 63% pada 2019.

"Hal ini akan memberikan kontribusi kepada MARK, di mana 90% pendapatan MARK berasal dari ekspor Malaysia sebesar 65%, Thailand 15%, dan sisanya ke China dan Vietnam," katanya dalam keterangan resmi pada Kamis (23/1/2020).

Wabah menyerupai SARS sudah pernah terjadi sebelumnya pada 2003. Analisa dari CGS-CIMB memperkirakan permintaan sarung tangan global saat itu meningkat dari 12% menjadi 16%, di mana konsumsi sarung tangan secara global bertumbuh konsisten dengan CAGR 8%-10% per tahun.

"Untuk ke depannya, kami yakin bahwa virus ini akan memberikan dampak kesadaran kesehatan yang lebih tinggi terutama di negara-negara berkembang dan akan mendorong permintaan sarung tangan," imbuhnya.

Pada kuartal III/2019, MARK mengantongi laba bersih sebesar Rp65,49 miliar atau meningkat 11,32% dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp58,83 miliar. Peningkatan laba komprehensif juga diiringi dengan peningkatan penjualan perseroan pada kuartal III/2019 sebesar 11,13% secara tahunan menjadi Rp267,21 miliar.

Ridwan menjelaskan sebesar 94,02% penjualan MARK pada kuartal III/2019 berasal dari pasar ekspor, sedangkan sisanya sebesar 5,98% berasal dari pasar domestik. Nilai penjualan ekspor di kuartal III/2019 meningkat 9,98% secara tahunan. Hal ini menunjukkan bahwa perseroan berhasil meningkatkan nilai penjualan ekspor sekaligus meningkatkan pasar baru domestik.

Sesuai dengan beberapa pemberitaan media di Malaysia, dampak wabah virus menyerupai SARS ini berpengaruh posiitif pada emiten-emiten sarung tangan kesehatan di bursa saham Malaysia.

Hal ini secara fundamental disebabkan karena ekspektasi pasar atas meningkatnya permintaan sarung tangan kesehatan. Dampak positif atas bursa saham negara tetangga ini diharapkan memberikan angin segar bagi emiten-emiten di Bursa Efek Indonesia, terutama emiten yang berhubungan dengan industri sarung tangan kesehatan seperti MARK.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
virus corona, emiten percetakan sarung tangan, sarung tangan

Editor : Rustam Agus
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top