Volume Ekspor Karet Sumut Januari – Oktober 2018 Turun 11%

Turunnya pasokan karet dari sentra-sentra produksi di Sumatra Utara serta persaingan di pasar global membuat volume ekspor karet asal Sumut terus mengalami penurunan.
Ropesta Sitorus | 20 November 2018 23:18 WIB
Ilustrasi. - ANTARA/Aditya Pradana Putra

Bisnis.com, MEDAN – Turunnya pasokan karet dari sentra-sentra produksi di Sumatra Utara serta persaingan di pasar global membuat volume ekspor karet asal Sumut terus mengalami penurunan.

Menurut data Gabungan Perusahaan Karet Indonesia (Gapkindo) Sumut, sepanjang Januari – Oktober 2018 volume ekspor karet Sumut hanya sebesar 382.964 ton. Secara year on year, realisasi tersebut turun 11% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.

Adapun secara year to date, ekspor karet asal Sumut anjlok 25% dibandingkan dengan akhir Desember 2017 yang mencapai 512.725 ton.

“Ekspor karet Sumut berupa karet remah (crumb rubber) pada Januari-Oktober 2018 turun sebesar 48.936 ton atau 11% secara year on year. Penurunan tersebut disebabkan berkurangnya permintaan dari negara-negara konsumen utama serta penundaan pengiriman oleh sejumlah eksportir akibat kurangnya pasokan,” kata Sekretaris Gapkindo Sumut Edy Irwansyah di Medan, belum lama ini.

Edy menjelaskan, penurunan pasokan bahan olah karet (bokar) tersebut tidak hanya terjadi di Sumut tetapi juga di hampir semua daerah penghasil karet. Akan tetapi, kondisi itu tidak berdampak pada peningkatan harga karet di pasar global.

“Keadaan ini diduga diakibatkan adanya kelebihan pasokan di pasar global dan permainan spekulan. Selain itu, China selaku konsumen nomor satu dunia yang menggunakan karet alam lebih dari 5 juta ton per tahun, lebih banyak membeli karet dari negara tetangganya seperti Thailand dan Vietnam,” tuturnya.

Dalam kesempatan sebelumnya, Gapkindo menyebutkan sekitar 30 pabrik karet remah yang ada di Sumut mengalami gangguan produksi bahkan terancam tutup. Beberapa pabrik mengurangi operasional pabrik menjadi hanya 1-3 kali dalam seminggu dan merumahkan sebagian karyawan.

Kondisi itu terjadi karena rata-rata pasokan bokar yang tersedia hanya mampu memenuhi separuh dari kapasitas pabrik. Padahal hampir 92% bokar yang digunakan pabrik karet remah (crumb rubber) bersumber dari lahan rakyat.

Penurunan produksi bokar itu antara lain disebabkan penebangan pohon karet serta konversi lahan ke tanaman lain seperti sawit dan ubi. Faktor lainnya akibat peralihan profesi para petani karet menjadi pekerja di subsektor lainnya.

Edy mendorong pemerintah mengambil solusi mendorong produktivitas bahan olah karet rakyat. Menurutnya, rencana pemerintah mengeluarkan industri Crumb Rubber dari Daftar Negatif Investasi (DNI) dengan pengecualian di Provinsi Bengkulu, dinilai bukanlah solusi yang tepat mengatasi kelesuan industri karet remah.

Tag : karet, sumut
Editor : Miftahul Ulum

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Top