ANGKUTAN BATU BARA SUMSEL : Belum Ada Truk Melintas di Jalan Khusus

Oleh: Dinda Wulandari/Denis Riantiza/Anitana W. Puspa 09 November 2018 | 02:00 WIB
ANGKUTAN BATU BARA SUMSEL : Belum Ada Truk Melintas di Jalan Khusus
ilustrasi)./JIBI-Paulus Tandi Bone

PALEMBANG–Truk angkutan batu bara di Sumsel resmi harus melewati jalur khusus sesuai dengan Peraturan Daerah nomor 5 tahun 2011 tentang Pengangkutan Batu Bara Melalui Jalur Khusus yang berlaku mulai kemarin, Kamis (8/11).

Namun demikian, berdasarkan pantauan di lapangan hingga Kamis siang belum ada truk batu bara umum yang melintas di jalan khusus yang dikelola PT Titan Infra Energy.

Jalan yang berada di Desa Tanjung Jambu, Kabupaten Lahat, itu merupakan satu-satunya jalan khusus angkutan batu bara yang dibangun perusahaan yang bergerak di sektor energi itu.

Meskipun ada truk yang masuk ke jalan sepanjang 117 kilometer itu tetapi diketahui truk pembawa batu bara itu merupakan mitra dari Titan bukan dari pengusaha tambang batu bara umum.

CEO PT Titan Infra Energy, Suryo Suwignjo, kembali menegaskan bahwa jalan yang dikelola pihaknya sudah siap untuk dilalui angkutan batu bara di luar mitra perusahaan. “Jalan kami kapasitasnya sampai 12 juta ton pun tidak masalah. Kesiapan kami juga sudah dicek oleh instansi terkait sehingga kami tidak bisa sekedar mengatakan siap begitu saja bila kami belum siap,” katanya melalui pesan singkat kepada Bisnis, Kamis (8/11).

Dia menambahkan terkait dengan kekhawatiran pengusaha yang bergabung dalam Asosiasi Produsen Listrik Swasta Indonesia (APLSI) terhadap kesiapan dan pengaturan Jalan Titan, pihaknya bakal memberikan layanan baik.

“Adapun soal jadwal atau waktu loading asalkan pengguna jalan mengikuti SOP [standard operating procedure] yang sudah kami siapkan, kami yakin bisa memberikan layanan yang baik,” katanya.

Sebelumnya selain APLSI, Asosiasi Pengusaha Truk Indonesia (Aptrindo) memiliki sejumlah kekhawatiran atas kesiapan Jalan Titan dalam menghadapi pemberlakuan Perda Nomor 23 tahun 2011 tersebut.

Sekjen DPP Aptrindo Wisnu W. Pettalolo mengatakan menilai jalur dan pelabuhan milik Titan tidak akan mampu menampung batu bara dari 30 tambang.

“Kami ragukan kemampuannya untuk me-loading batu bara dan menyesuaikan jadwal para penambang,” katanya dalam siaran pers.

Wisnu menambahkan saat ini Titan tidak memiliki stockpile yang bisa menampung batu bara yang berasal dari 30 tambang dengan kalori dan spek yang berbeda-beda. “Sehingga Titan harus memiliki stockpile yang bisa menampung Batu bara lebih dari 30 tumpukan,” katanya.

Di Jakarta, Asosiasi Perusahaan Batubara Indonesia memperkirakan kebijakan penutupan jalan umum untuk angkutan batu bara oleh Pemerintah Provinsi Sumatra Selatan yang mulai berlaku berpotensi mengganggu kinerja ekspor dan pasokan ke proyek kelistrikan domestik.

Direktur Eksekutif Asosiasi Perusahaan Batubara Indonesia (APBI) Hendra Sinadia mengatakan saat ini jumlah produksi batubara di Sumsel diperkirakan 48.5 juta ton, atau sekitar 10%—12% dari total produksi nasional.

Dia menyebutkan, untuk volume batu bara yang melewati jalan yang aksesnya ditutup oleh pemprov itu diperkirakan sekitar 5.8 juta ton per tahun. Namun, untuk saat ini APBI juga sedang melakukan cross check dan mengonfirmasi anggotanya yang memegang izin usaha pertambangan (IUP) di wilayah itu.

“Mungkin bisa di-double check juga ke pemda setempat terkait jumlah produksi batu bara di Sumsel. Kami sendiri belum tahu berapa potensi kerugiannya karena lagi mengecek, tetapi tentu saja akan berdampak negatif dan berpotensi mengganggu ekspor dan pasokan ke proyek kelistrikan domestic,”katanya kepada Bisnis Rabu (7/11).

Industri angkutan batu bara di Sumatra Selatan diprediksikan akan merugi Rp25 miliar—Rp30 miliar per hari dengan kebijakan penutupan jalan umum untuk angkutan batu bara oleh Pemerintah Provinsi Sumatra Selatan yang telah dimulai Rabu (7/11).

Sekjen Dewan Pimpinan Pusat Asosiasi Pengusaha Truk Indonesia (Aptrindo) Wisnu. W Pettalolo menilai bahwa kebijakan itu terburu-buru karena persiapan pemerintah provinsi sangat minim dan mengancam bisnis angkutan truk batu bara.

“Menurut kami solusi dari pemerintah provinsi belum jelas. Kebijakan sudah diambil. Banyak kerugian dari sisi bisnis angkutan dan ancaman pengangguran sopir-sopir, kernet, dan mereka yang hidup di industri ini,” ujarnya melalui keterangan resmi, Rabu (7/11).

Wisnu mengatakan, rata-rata pengusaha angkutan batu bara di Sumatra Selatan merupakan pengusaha menengah ke bawah sehingga rentan bangkrut. Pemprov Sumsel, lanjut dia, memang telah menyiapkan jalur dan pelabuhan milik PT Titan Infra Energy. Namun, jalur dan pelabuhan Titan tersebut dinilai tidak akan mampu menampung batu bara dari 30 tambang yang kalorinya berbeda-beda.

Mulai hari ini, Kamis (8/11), jalan umum di Sumatra Selatan dipastikan steril dari truk batu bara. Kepastian itu diungkapkan Gubernur Sumsel Herman Deru melalui Sekda Sumsel Nasrun Umar, saat jumpa pers di Ruang Rapat Bina Praja Selasa, (6/11). “Dengan segala pertimbangan matang, Pergub 23/2012 tentang Tata Cara Pengangkutan Batubara di Jalan Umum dicabut terhitung 8 November 2018 mulai pukul 00.00 WIB. Jadi mulai 8 November tidak ada lagi truk batubara di jalan umum,” tegas Nasrun.

Editor: Roni Yunianto

Berita Terkini Lainnya