Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda
Petugas PT Food Station Tjipinang Jaya mendistribusikan minyak goreng curah khusus untuk pedagang di Pasar Induk Beras Cipinang, Jakarta Timur pada Rabu (30/3 - 2022). / Food Station
Lihat Foto
Premium

Ekspor CPO Dilarang Tapi Harga Minyak Goreng Tetap Mahal, Ada Peran Kartel?

Sudah lebih dua pekan setelah larangan ekspor minyak kelapa sawit mentah atau Crude Palm Oil (CPO) berlaku, tetapi harga produk minyak goreng tak kunjung turun signifikan.
Nanda Fahriza Batubara; Nyoman Ary Wahyudi
Nanda Fahriza Batubara; Nyoman Ary Wahyudi - Bisnis.com
15 Mei 2022 | 15:54 WIB

Bisnis.com, MEDAN – Lebih dua pekan setelah larangan ekspor minyak kelapa sawit mentah atau Crude Palm Oil (CPO) beserta produk turunnya berlaku, tetapi harga produk minyak goreng dalam negeri belum juga turun signifikan hingga hari ini, Minggu (15/5/2022).

Bahkan, harga minyak goreng jenis kemasan premium masih menyentuh Rp23.850 per kilogram di Sumatra Utara pada Jumat (13/5/2022) lalu. Sebaliknya, minyak goreng curah juga masih banyak dijual seharga Rp17.000 per kilogram.

Situasi di atas tak pelak menimbulkan tanda tanya dari berbagai elemen. Termasuk dari Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU). 

Menurut Ketua KPPU Ukay Karyadi, saat ini pihaknya meletakkan perhatian penuh sekaligus memantau perilaku para produsen minyak goreng.

Kecurigaan KPPU bukan tanpa alasan. Seperti diketahui, larangan ekspor CPO merupakan buah respons pemerintah terhadap keluhan kalangan produsen minyak goreng beberapa waktu lalu. 

Keluhan yang dimaksud antara lain mulai dari persoalan suplai, ketersediaan hingga harga bahan baku produk minyak goreng di dalam negeri. Faktor itu pula yang akhirnya dijadikan sebagai alasan oleh pihak produsen menaikkan harga produk minyak goreng mereka di tengah masyarakat.

Namun anehnya, menurut Ukay, harga minyak goreng justru bertahan tinggi alias tak kunjung turun meskipun ekspor komoditas CPO serta produk turunan sudah dilarang.

"Jadi masih jadi tanda tanya, karena perilaku produsen minyak goreng ini tidak berubah. Bahkan harga malah mahal. Padahal kebijakan pemerintah sudah banyak untuk menurunkan harga minyak goreng ini," ujar Ukay.

Ukay menjelaskan, disparitas harga bahan kebutuhan pokok di tengah masyarakat berpotensi menimbulkan celah untuk berbagai perilaku penyelewengan.

Dia juga menyoroti dugaan upaya penyelundupan produk bahan baku minyak goreng sebanyak 34 kontainer melalui kapal laut dari Pelabuhan Belawan, Kota Medan ke Malaysia beberapa waktu lalu. Kasus ini tengah ditangani TNI Angkatan Laut.

"Perlu kami tegaskan, KPPU sekarang fokus ke perilaku perusahaan. Dalam hal ini industri atau produsen minyak goreng," ujar Ukay.

Melihat situasi yang berlangsung saat ini kecurigaan Ukay kian besar. Harga minyak goreng yang tetap mahal tatkala larangan ekspor CPO dan produk turunan sudah berlaku memperkuat indikasi keberadaan kartel.

Minyak Goreng Curah - Antara

Seperti diketahui, KPPU juga tengah menyelidiki dugaan campur tangan kartel di balik langka dan mahalnya harga minyak goreng belakangan ini.

Berdasar catatan KPPU, terdapat delapan kelompok usaha yang menguasai 70 persen pasar minyak goreng dalam negeri.

"Kami telah mendapatkan alat bukti. Sehingga saat ini kami sedang mencari cari satu alat bukti lagi agar kasus ini bisa naik ke persidangan," kata Ukay.

Menurut Kepala Kantor Wilayah I KPPU Ridho Pamungkas, pihaknya masih mengkaji serta menelusuri penyebab harga minyak goreng tak kunjung turun di tengah masa larangan ekspor CPO.

Ridho mengatakan larangan ekspor turut menyebabkan harga Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit anjlok. Seharusnya, kondisi tersebut bisa dimanfaatkan oleh produsen minyak goreng untuk menurunkan harga dan mengambil alih pasar. 

"Namun hal ini tidak terjadi. Atas dasar itu, kami semakin menduga ada permainan kartel di antara kelompok usaha perusahaan minyak goreng tersebut," kata Ridho.

Sebelumnya, harga Tandan Buah Segar atau TBS kelapa sawit di Sumatra Utara terpantau terus merosot setelah kebijakan pemerintah soal larangan ekspor CPO dan bahan baku minyak goreng berlaku sejak dua pekan terakhir.

Pada Rabu (11/5/2022), harga TBS paling tinggi di Sumatra Utara ada di Kabupaten Labuhan Batu Selatan, yakni Rp2.050 per kilogram. Beda tipis dari harga TBS di Kabupaten Labuhan Batu. 

Sementara itu, harga TBS yang terendah di Kabupaten Tapanuli Selatan dan Kabupaten Deli Serdang senilai Rp1.500 per kilogram. Harga rata-rata TBS kelapa sawit saat ini mengalami penurunan sekitar Rp200 - Rp250 dari pekan lalu.

Menurut Ketua Ketua Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) Sumatra Utara Gus Dalhari Harahap, larangan ekspor minyak kelapa sawit mentah atau CPO sangat berdampak buruk bagi mereka.

"Sangat memprihatinkan, berdampak penurunan harga TBS di tingkat petani," kata Gus Dalhari kepada Bisnis, Kamis (12/5/2022).

Untuk Rabu (11/5/2022) hingga Selasa (17/5/2022) mendatang, Dinas Perkebunan Pemprov Sumatra Utara menetapkan harga TBS kelapa sawit berumur 10-20 tahun senilai Rp3.100 per kilogram. Harganya merosot hingga Rp550 per kilogram dibanding pekan lalu, yakni Rp3.651 per kilogram.

Seperti diketahui, pemerintah menerapkan larangan ekspor CPO setelah harga minyak goreng dalam negeri melambung tinggi. Bahkan, keberadaan sempat langka di pasaran beberapa waktu lalu.

Larangan ekspor akan terus berlanjut diterapkan sampai harga dan peredaran minyak goreng dalam negeri kembali normal.

Sesuai pantauan Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS), minyak goreng jenis curah masih dijual seharga Rp16.000 - Rp18.000 per kilogram. Sebaliknya, minyak goreng kemasan dijual Rp21.000 - Rp25.000 per kilogram.

Berdasarkan pantauan Bisnis, minyak goreng curah di Pasar Rumput Manggarai sudah berada di kisaran Rp17.000-Rp17.500. Menurut Yani, pedagang di Pasar Rumput, harga minyak goreng curah mulai turun setelah lebaran. Sebelum lebaran, dia masih menjual hingga Rp20.000.

“Alhamdulillah sekarang sudah banyak. Harganya kalau ke pembeli yang jarang-jarang Rp17.000. Tapi kalau ke langganan kita jual Rp 16.500 atau Rp16.000,” ucap ibu dua orang anak itu yang berjualan bersama suaminya.

Yani mengaku dirinya membeli minyak goreng curah dengan harga Rp14.500 dari agen. Lalu, untuk minyak goreng kemasan, dia menjual merek Sania, Filma, dan Tropical dengan harga Rp45.000/2 liter, sedangkan Sanco Rp47.000/2 liter.

“Sekarang orang gak melihat merek, tapi beli aja. Makanya banyak merek-merek aneh kayak Gurih, Sedap, Sabrina,” tuturnya.

Di sisi lain, pengamat ekonomi asal Universitas Islam Sumatera Utara Gunawan Benjamin mengatakan harga minyak goreng di sejumlah pasar tradisional Kota Medan belum menunjukkan penurunan signifikan.

"Di pasar tradisional masih belum beranjak jauh," kata Gunawan.

Konsumen melihat stok minyak goreng aneka merek tersedia di etalase pasar swalayan Karanganyar pada Kamis (17/3/2022) - Solopos.com/Indah Septiyaning Wardani.

Gunawan mengatakan harga minyak goreng saat ini masih jauh dari harapan konsumen. Di sisi lain, harganya juga masih terpaut jauh dari target pemerintah, yakni Rp14.000 per kilogram. 

"Kebijakan yang diambil pemerintah dengan melarang ekspor produk turunan minyak sawit sejauh ini belum berhasil menekan harga minyak goreng sesuai harapan," katanya.

Menurut Gunawan, larangan ekspor CPO sangat membebani perekonomian Sumatra Utara yang selama ini bergantung pada komoditas tersebut.

Di sisi lain, kebijakan di atas terbukti belum mampu meredam harga hingga ke titik normal.

"Maka besar kemungkinan larangan ekspor produk turunan sawit masih akan berlangsung untuk waktu yang lebih lama jika acuannya adalah harga minyak goreng itu sendiri," ujarnya.

PENGUSAHA BUKA SUARA

Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (Gimni) menyebut konsep penjualan minyak goreng curah ini dengan pola harga eceraran tertinggi (HET) tidak efektif dan sulit direalisasikan. Terkecuali, jika alur produk dari hulu sampai pengecer ditangani oleh pemerintah.

Direktur Eksekutif Gimni Sahat Sinaga mengatakan berdasarkan pantauan timnya, pasar migor kemasan di supermarket atau toko-toko lesu, bahkan di banyak tempat turun dari Rp52.800/2 liter menjadi Rp48.350/2 liter. Kejadian itu, kata dia, menunjukan bahwa masyarakat menengah atas pun turut membeli minyak goreng curah.

“Baiknya kebijakan harga ini dilepas saja ke mekanisme pasar. Artinya ada peminat migor curah yng tidak seharusnya membeli yang bersubsidi ini. Migor curah bersubsidi nyelonong ke re-packer dan bisa jual Rp 21.000/liter, banyak beralih ke industri mamin [makanan dan minuman, perhotelan, fast food],” ujar Sahat kepada Bisnis, Jumat (13/5/2022).

Sahat mengusulkan agar BUMN seperti Bulog dan RNI/ID Food segera diberi penugasan untuk menyalurkan minyak goreng curah kepada masyarakat berpenghasilan rendah. Selain itu, mereka juga bisa diberi Bantuan Langsung Tunai (BLT) berkisar Rp32.000/kepala keluarga (KK)/bulan.

“Dana subsidi migor curah ini diberi ke BUMN untuk distribusi dan juga BLT ke masyarakat berpenghasilan rendah secara langsung, dan dana  itu dapat  diambil dari BPDPKS (Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit),” tuturnya Plt. Ketua Dewan Minyak Sawit Indonesia (DMSI), itu.

Menurut Sahat, penurut pantauan pihaknya, distribusi migor curah ke berbagai pelosok republik ini banyak hilang di perjalanan.

“Jadi sebagai negara yang masuk G-20, sudah waktunya semua migor itu berada dalam kemasan. Tidak curah lagi,” ungkapya

Terkait usulan Gimni tersebut, Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Oke Nurwan masih belum merespons panggilan Bisnis.

Namun, Plt. Dirjen Perdagangan Luar Negeri Kemendag Veri Anggrijono menegaskan pelarangan ekspor minyak sawit mentah tidak akan berlangsung lama.

“Itu konsekuensi ya [kehilangan devisa]. Kebijakan ini kan untuk rakyat juga supaya minyak goreng terjangkau,” kata Veri saat dihubungi Bisnis, Kamis (12/5/2022).

Veri mengeklaim minyak goreng curah di pasaran sudah mulai mendekati HET Rp14.000. “Ya pelarangan ini tidak akan berlama-lama. Saya baca-baca laporan Satgas Pangan sudah 50 persen di Indonesia harganya sudah sesuai HET,” kata dia.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

kppu Premium Content minyak goreng ekspor cpo Mafia minyak goreng larangan ekspor sawit
Penulis : Nanda Fahriza Batubara; Nyoman Ary Wahyudi - Bisnis.com
Editor : Amanda Kusumawardhani

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

To top