BPJS Ketenagakerjaan Sumbagsel Defisit 10.000 Pekerja

Angka defisit itu terjadi karena jumlah tenaga kerja yang mendaftar sebagai peserta lebih sedikit ketimbang pekerja yang keluar dari kepesertaan BPJS.
Dinda Wulandari
Dinda Wulandari - Bisnis.com 22 Agustus 2019  |  14:47 WIB
BPJS Ketenagakerjaan Sumbagsel Defisit 10.000 Pekerja
Ilustrasi. - Bisnis.com

Bisnis.com, PALEMBANG – BPJS Ketenagakerjaan Kantor Wilayah Sumatra Bagian Selatan mencatat defisit jumlah tenaga kerja yang menjadi peserta badan tersebut hingga 10.000 orang akibat melemahnya sektor usaha perkebunan di wilayah tersebut.

Deputi Direktur Wilayah BPJS Ketenagakerjaan Sumbagsel, Arif Budiarto, mengatakan angka defisit itu terjadi karena jumlah tenaga kerja yang mendaftar sebagai peserta lebih sedikit ketimbang pekerja yang keluar dari kepesertaan BPJS.

“Jadinya defisit 10.000 tenaga kerja sampai dengan Juni 2019. Ini terjadi karena adanya kasus-kasus PHK (pemutusan hubungan kerja) di perusahaan perkebunan,” katanya di sela acara engagement serikat buruh, serikat pekerja, asosiasi pengusaha dan pemerintah daerah, Kamis (22/8/2019).

Arif menjelaskan kondisi usaha perkebunan memang berpengaruh signifikan terhadap kinerja BPJS Ketenagakerjaan di wilayah Sumbagsel. Pasalnya, sektor perkebunan sawit, karet maupun tebu banyak berada di Sumatra Selatan, Jambi, Bengkulu, Bangka Belitung dan Lampung.

Menurut dia, lesunya sektor perkebunan tak hanya berpengaruh terhadap merosotnya jumlah kepesertaan pekerja, melainkan pula kelancaran iuran yang dibayar peserta perusahaan. Seringkali, perusahaan perkebunan memiliki piutang iuran karena arus keuangan perusahaan tersebut tidak lancar.

Menghadapi tantangan tersebut, Arif mengemukakan, pihaknya menjalankan sejumlah strategi untuk menggaet kepesertaan di Sumbagsel.

“Sekarang kami ubah strateginya dari sektor formal ke informal, contohnya kami dekati asosiasi ojek online dan pedagang pasar tradisional supaya mau mendaftar sebagai peserta BPJS Ketenagakerjaan,” katanya.

Arif menyebut sektor informal perlu digarap serius karena memiliki potensi yang cukup tinggi untuk kepesertaan.

Diketahui, BPJS Ketenagakerjaan Wilayah Sumbagsel mematok target sebanyak 2,1 juta pekerja untuk menjadi peserta. Adapun realisasi capaian kepesertaan saat ini sekitar 1,7 juta tenaga kerja.

“Targetnya masih didominasi pekerja penerima upah (formal) yakni sebanyak 1,2 juta tenaga kerja. Sementara untuk pekerja bukan penerima upah (informal) kami targetkan 250.000 dengan realisasi baru 74.000 pekerja,” jelasnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Sumsel, Koimuddin, mengatakan pemda berkomitmen mendukung BPJS Ketenagakerjaan untuk menggaet kepesertaan.

“Kami mendorong setiap pekerja yang ada di perusahaan untuk mendapatkan jaminan BPJS Ketenagakerjaan,” katanya.

Menurut dia, sebetulnya tingkat kepatuhan perusahaan mendaftar sebagai peserta BPJS Ketenagakerjaan mencapai 70%.

Koimuddin menilai perusahaan yang tidak patuh berasal dari skala usaha menengah bukan perusahaan skala besar.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
sumsel, bpjs ketenagakerjaan

Editor : Miftahul Ulum

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top