Waspadai Penyakit Saat Musim Hujan dan Akibat Polusi Udara Ketika Liburan

Untuk mencegah dampak kesehatan bagi paru-paru dan pernapasan dari polusi udara dari kendaraan bermotor saat liburan adalah dengan memastikan kondisi kendaraan baik, tidak ada kebocoran gas yang masuk ke kabin mobil, gunakan AC dan tutup semua jendela agar mengurangi asap polusi dan partikel debu masuk ke dalam mobil.
MediaDigital
MediaDigital - Bisnis.com 05 Juli 2019  |  09:41 WIB
Waspadai Penyakit Saat Musim Hujan dan Akibat Polusi Udara Ketika Liburan
Ilustrasi pemakaian masker untuk menghindari penyebaran virus influenza. - Reuters/Ivan Alvarado

Bisnis.com, PEKANBARU - Membawa anak berlibur tentu menjadi momen yang membahagiakan bagi seisi keluarga. Namun bila berujung timbulnya penyakit, hal itu tidak diharapkan terjadi khususnya pada anak-anak.

Dokter spesialis anak di Rumah Sakit Awal Bros, dr Desi Kamadewi, SpA menjelaskan bila berlibur pada saat musim hujan seperti sekarang ini, ada beberapa penyakit yang sering terjadi pada anak.

"Misalnya common cold atau selesma, yaitu infeksi saluran napas yang disertai gejala seperti demam, pilek meler, batuk, bersin, dan hidung tersumbat," katanya baru-baru ini.

Penyakit lainnya yaitu diare cair akut, yang dikatakan dapat diderita anak usia 1-4 tahun yaitu apabila BAB lebih dari tiga kali dalam 24 jam.

Selanjutnya orang tua perlu mewaspadai penyakit demam berdarah, yang banyak dialami anak usia 1-4 tahun. Kasus ini dapat meningkat saat bertambahnya curah hujan.

Sementara itu untuk mencegah dampak kesehatan bagi paru-paru dan pernapasan dari polusi udara dari kendaraan bermotor saat liburan, dr Mohammad Ali Toha MARS, Dirut RSUP Persahabatan seperti dikutip depkes.go.id menjelaskan beberapa langkah yang bisa dilakukan orang tua.

Diantaranya yaitu memastikan kondisi kendaraan baik, tidak ada kebocoran gas yang masuk ke kabin mobil, gunakan AC dan tutup semua jendela agar mengurangi asap polusi dan partikel debu masuk ke dalam mobil.

Lalu hindari merokok, khusus bagi pemotor sebaiknya gunakan masker atau respirator untuk mengurangi masuknya partikel debu ke dalam saluran napas dan paru-paru.

Terdapat dua zat kimia utama dari gas buang kendaraan yang menimbulkan polusi udara dan bersifat karsinogenik, yaitu pertama adalah benzena yang merupakan senyawa aromatik sebagai campuran dasar bahan bakar. 

Benzena mudah masuk dalam tubuh melalui saluran pernapasan dan permukaan kulit. Bila terlalu banyak dalam aliran darah dapat menyebabkan gangguan pembentukan sel darah merah dengan cara merusak sumsum tulang.

Kedua yaitu timbal, merupakan logam yang dihasilkan dari gas buang kendaraan. Timbal dapat mengendap dan terakumulasi di berbagai benda, dalam tubuh makhluk hidup, tumbuhan, dan air. 

Seseorang yang terpapar timbal akan menimbulkan reaksi di aliran darah, meningkatkan risiko anemia, dan mengganggu kinerja saraf dan otak.

Untuk mengurangi dampak buruk dari asap kendaraan tersebut, Pertamina memiliki jenis bahan bakar minyak tanpa timbal seperti Pertalite, dan Pertamax. 

Dua jenis BBM ini memiliki oktan 90, dan 92, yang menghasilkan pembakaran sempurna dan memberikan tenaga lebih maksimal bagi mesin kendaraan saat digunakan.

Pegawai laboratorium udara Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan Kota Pekanbaru Syahrial mengatakan kesadaran masyarakat Pekanbaru akan pentingnya merawat kendaraan dan menggunakan bahan bakar minyak berkualitas dan tanpa timbal meningkat. Sehingga gas buang yang dihasilkan kendaraan menjadi lebih aman untuk udara setempat.

Terlebih lagi saat ini mayoritas kendaraan yang digunakan masyarakat Pekanbaru menurutnya sudah bermesin injeksi dan cocok menggunakan bahan bakar beroktan tinggi seperti Pertalite dan Pertamax.

"Rata-rata kendaraan mobil itu yang injeksi sekarang sudah biasa pakai Pertalite dan Pertamax, tentu gas buangnya sudah jelas tanpa timbal," katanya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
pertamina

Editor : Lili Sunardi

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top