Koltiva Bakal Garap Data 30.000 Petani Sawit di Sumut

Perusahaan teknologi, Koltiva bakal menggarap data perkebunan kelapa sawit milik 30.000 petani di Sumatra Utara.
Duwi Setiya Ariyanti
Duwi Setiya Ariyanti - Bisnis.com 22 Juni 2019  |  21:43 WIB
 Koltiva Bakal Garap Data 30.000 Petani Sawit di Sumut
Buruh tani memanen jagung manis di lahan pertanian jagung Kadireso, Teras, Boyolali, Jawa Tengah, Senin (31/7). - ANTARA/Aloysius Jarot Nugroho

Bisnis.com, MEDAN--Perusahaan teknologi, Koltiva bakal menggarap data perkebunan kelapa sawit milik 30.000 petani di Sumatra Utara.

Chief Operation Officer Koltiva, Ainu Rofiq mengatakan di Sumatra Utara pihaknya akan menggarap data perkebunan kelapa sawit milik
30.000 petani. Adapun, sebelumnya, pihaknya telah menggarap data perkebunan cokelat pada 2015 dengan mitra sebanyak 2.000 petani.

"Saat ini kami baru mulai sosialisasi planning dengan masing-masing PKS (pabrik kelapa sawit), 30.000 petani akan kami data," ujarnya.

Kali ini, pihaknya menggarap data perkebunan kelapa sawit untuk memastikan kelapa sawit yang dihasilkan memiliki kualitas tinggi. Selain itu, diharapkan pula agar perusahaan bisa mendapatkan data seperti sumber pasokan sehingga bisa diketahui apakah produk
memperhatikan aspek keberlangsungan.

Sebagai contoh, lokasi kebun yang akan dihubungkan dengan status lahan tersebut. Bila ternyata produk dihasilkan dari pembukaan hutan, petani bisa mendapat catatan merah dari penerima pasokan.

Pasalnya, seluruh pihak yang terlibat di rantai pasok akan terhubung ke sistem yang sama yang bisa diakses melalui ponsel pintar dan komputer. Dengan demikian, semua kegiatan termonitor.

Kendati demikian, dia menyebut hal itu tak akan bisa tetrmonitor bila petani tak bersedia memberikan informasi atau bahkan memberikan informasi yang tidak valid.

"Sistem hanya sistem. Data itu sendiri ya dari mitra," katanya.

Sementara itu, Head of Downstream Sustainability Implementation Sinar Mas Agribusiness and Food, Daniel Prakarsa mengatakan ketersediaan data akan membantu perusahaan untuk memastikan kualitas produk dari para pemasok. Pasalnya, saat ini perusahaan memiliki keterbatasanuntuk membuka lahan baru.

Oleh karena itu, perusahaan mendorong intensifikasi lahan sehingga produktivitas meningkat. Di sisi lain, pihaknya pun harus memastikan produktivitas kebun milik mitra bisa mengikuti produktivitas kebun yang dikelola sendiri oleh perusahaan.

Sebagai gambaran, dia menyebut produktivitas kebun perusahaan mencapai 25 ton tandan buah segar (tbs) pertahun. Di sisi lain, perkebunan yangdikelola swadaya maksimum hanya bisa menyentuh 15 ton tbs pertahun.

Meskipun industri kelapa sawit sendiri harus menghadapi tekanan eksternal, menurutnya, permintaan kelapa sawit di tahun mendatang
masih prospektif. Dia menuturkan permintaan kelapa sawit tak akan menurun karena terdorong kebutuhan di bidang pangan melalui produk seperti minyak goreng dan margarin.

"Enggak akan memengaruhi. Karena [kebutuhan] lebih banyak ke produk seperti olein, stearin. Sedikit yang beli [minyak] sawitnya," katanya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
pertanian

Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top