Pelabuhan Tanjung Api-Api Beroperasi Kembali Setelah 15 Tahun Vakum

Pelabuhan ini diharapkan menjadikan komoditas andalan seperti kopi, dan beras makin dikenal sebagai produk asli Sumsel.
Dinda Wulandari
Dinda Wulandari - Bisnis.com 14 Maret 2019  |  12:51 WIB
Pelabuhan Tanjung Api-Api Beroperasi Kembali Setelah 15 Tahun Vakum
Gubernur Sumsel Herman Deru (tengah) didampingi Kapolda Sumsel Irjen Pol Zulkarnain meninjau Pelabuhan TAA di Kabupaten Banyuasin, Sumsel, saat peresmian, Rabu (13/3/2019). - Istimewa

Bisnis.com, PALEMBANG – Pelabuhan Laut Tanjung Api-Api atau TAA, Kabupaten Banyuasin, Sumatra Selatan, akhirnya resmi beroperasi untuk distribusi barang setelah 15 tahun vakum sejak dibangun pada 2004 lalu.

Gubernur Sumsel Herman Deru mengatakan Pelabuhan TAA diharapkan menjadi solusi untuk distribusi komoditas andalan Sumsel yang selama ini hanya melalui Pelabuhan Bom Baru Palembang.

Deru mengatakan dengan adanya pelabuhan ini pula diharapkan produk komoditas andalan seperti kopi, dan beras makin dikenal sebagai produk asli Sumsel bukan atas nama daerah lain.

"Kebun kopi kita ini terbesar ketiga di dunia.Akan tetapi karena gak ada pelabuhan untuk mendistribusikannya keluar, maka kita distribusi lewat pelabuhan daerah lain, sekarang malah daerah itu yang terkenal,” katanya saat peresmian Pelabuhan TAA, Rabu (13/3/2019).

Gubernur meyakini pelabuhan itu pasti akan memberikan nilai tambah setelah beroperasi, terutama bagi penyerapan tenaga kerja dan aktivitas perekonomian masyarakat setempat. Dermaga Pelabuhan TAA tercatat mampu menampung kapal-kapal berbobot maksimal 1.000 DWT.

“Ini berkah bagi Sumsel karena Ditjen Perhubungan Laut sudah memberi rekomendasi ini dioperasikan. Pasti ini berguna sekali karena saat ini kapal-kapal berbobot tersebut sudah memadati Bom Baru. Akibatnya lalu lintas macet dan mengganggu aktivitas warga,” katanya.

Agar pengembangan pelabuhan ini semakin cepat Herman Deru mengaku sudah merangkul semua pihak mulai dari Pemerintah Kabupaten Banyuasin, Pemerintah Kota Palembang, TNI, Kepolisian Danlanal hingga Danlanud untuk bergerak bersama membuat kantor terpadu.

“Ke depan jika memang berdasarkan kebutuhan butuh pendalaman kita bisa keruk, atau nanti kalau dermaga perlu diperpanjang akan kita perpanjang. Yang penting ini sudah membuat bangga Sumsel dulu,” katanya.

Peresmian ini lanjutnya hampir dipastikan mencuri perhatian pelaku ekspor-impor karena menjadi gerbang pelepasan barang. Sehingga dibutuhkan support keamanan dari masyarakat sekitar.

“Minat orang sudah banyak ke sini jadi masyarakat juga harus bantu dari segi keamanannya. Apalagi di sebelah ini ada pelabuhan penyeberangan ke Bangka,” ujarnya.

Di tempat yang sama, Dirjen Perhubungan Laut Kementerian Perhubungan, R Agus H Purnomo, menjelaskan semula pihaknya pesimistis pelabuhan itu dapat diresmikan, namun berubah setelah melihat semangat pemda.

Agus menjelaskan selama 4 tahun terakhir pemerintah memang konsentrasi membangun infrastruktur termasuk pelabuhan. Hal ini bertujuan meningkatkan konektivitas dan membuka keterisolasian untuk memudahkan dan memurahkan logistik.

"Pembangunan ini untuk mempersatukan Indonesia bukan cuma meningkatkan perekonomian," jelasnya.

Dia menjelaskan saat uji coba pelabuhan ini melayani 10 unit kapal bongkar muat dan curah. Awalnya Pelabuhan TAA dibangun untuk komunitas batubara namun sekarang bisa jadi pelabuhan pendukung aktivitas di Boom Baru yang meningkat.

Menurut Agus adanya infrastruktur yang baik dapat mendukung proses distribusi barang dan meningkatkan daya saing internasional. Karena itu diperlukan pondasi yang kuat dengan membangun infrastruktur yang rata di Indonesia.

Pada peresmian awal ini diakuinya banyak tugas yang menanti Kantor Syahbandar Otoritas Pelabuhan (KSOP), antara lain penerapan SOP dan melengkapi perkantoran dan pelayanan pelabuhan. Seperti misalnya ada penerangan, manajemen sampah dan lainnya serta penentuan pengelolaan oleh pihak ketiga.

Sementara itu Kepala KSOP TAA, Mugen S Martoto, menjelaskan proses pembangunan Pelabuhan TAA sangat panjang. Dibangun sejak 2004 berlanjut sampai 2007, vakum kemudian dibangun lagi 2015 dan 2017 dengan sumber pendanaan APBN senilai Rp175,1 miliar dan APBD Rp69,8 miliar.

“Pelabuhan ini ada di atas lahan 80,5 hektare dan merupakan milik Pemda. Fasilitas yang terbangun di dermaga sebesar 50x20 meter,” jelasnya.

Pelabuhan TAA, kata dia, merupakan pelabuhan pengumpul, yang diperuntukkan untuk kapal 1.000 DWT dengan draft terendah 3,5 meter. Pelabuhan tersebut sudah diuji coba mulai 5 Desember 2018 sampai 28 Februari 2019.

“Selama uji coba sudah 10 unit kapal yang dilayani terdiri dari kapal yang memuat bahan bakar. Setelah uji coba dan dapat izin dengan persyaratan yang diperlukan akhirnya ini dioperasionalkan di bawah kantor KSOP Klas 2 Palembang," jelasnya.

Sementara saat ini pelabuhan sudah rutin melayani dua kapal. Bahkan saat ini beberapa pihak sudah mengajukan minat dengan pelabuhan TAA.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
sumsel

Editor : Miftahul Ulum

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top