KEK Sei Mangkei Butuh Stimulus Ramah Industri

Gas ini yang sekarang jadi masalah.
Duwi Setiya Ariyanti | 08 Januari 2019 00:05 WIB
KEK Sei Mangkei di Simalungun, Sumatra Utara. - Antara/Muhammad Syafii

Bisnis.com, MEDAN – Pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Sei Mangkei, Sumatra Utara masih membutuhkan stimulus untuk menurunkan harga gas dan menaikkan promosi.

Kepala Dinas Penanaman Modal dan Perizinan Terpadu Satu Pintu Provinsi Sumatra Utara Arief S Trinugroho mengatakan harga gas di kawasan belum bisa mendukung pelaku industri.

Menurutnya, harga gas yang diterima industri masih tak memenuhi skala ekonomi pengembangan kawasan. Dengan harga sekira US$11 per million British thermal unit (MMBtu), dia menuturkan, pelaku industri harus menanggung biaya lebih besar padahal seharusnya terdapat keringanan dari sisi harga energi di kawasan khusus.

Harga gas, tuturnya, menjadi penting karena terdapat industri yang menggunakan gas sebagai bahan baku dan bahan bakar di kawasan tersebut.

Kebijakan Pemerintah untuk menurunkan harga gas industri belum terasa kepada industri pengguna gas. Padahal, sebelumnya, terdapat wacana untuk menurunkan tarif gas pipa menjadi US$7-US$8 per MMBtu.

"Dari segi listrik sekarang berapa pun bisa. Gas ini yang sekarang jadi masalah," ujarnya, Senin (7/1/2019).

Selain harga gas, dia mengatakan secara umum promosi memang masih perlu ditingkatkan. Namun, dia menyebut berbagai pihak perlu terlibat mempromosikan kawasan ini.

Dia menilai pihaknya telah mempromosikan KEK Sei Mangkei pada acara-acara pameran.

Sementara itu, dia menilai perlu dibangun sistem informasi berbasis teknologi sehingga calon pemodal bisa mendapatkan gambaran tentang kawasan tersebut secara lengkap dan mudah.

"Saya sudah ngomong ke pengelolanya agar [kualitas] web ditingkatkan. Kelemahan kami memang secara umum, di bidang yang lain, ya promosi," katanya.

Terlepas dari itu, Arif berujar, faktor pendukung lain di KEK Sei Mangkei mulai tersedia. Sebagai contoh, dia menuturkan tentang ketersediaan infrastruktur dasar seperti jalur kereta api yakni ruas KEK Sei Mangkei-Pelabuhan Kuala Tanjung sepanjang 39,5 km yang telah rampung dan listrik yang telah tersedia. Sementara itu, untuk Pelabuhan Kuala Tanjung telah bisa beroperasi sejak akhir tahun 2018.

Kemudian, dari sisi interkoneksi dengan akses jalan tol melalui Tol Medan-Kualanamu-Tebing Tinggi (MKTT) seksi I yang telah rampung dibangun. Jalan tol ini menghubungkan Kawasan Industri Medan, Bandara Internasional Kualanamu, Pelabuhan Kuala Tanjung, Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Sei Mangkei, dan akses ke Danau Toba.

Penambahan investasi ini, diharapkan mampu meningkatkan serapan tenaga kerja dan pendapatan asli daerah (PAD).

"Karena kami berkepentingan untuk menciptakan lapangan kerja, pertumbuhan ekonomi dan PAD kami juga yang akan naik," katanya.

Tag : gas industri, kek sei mangkei
Editor : Miftahul Ulum

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top